Harga emas bergerak stabil setelah mengalami penurunan harian terbesar dalam lebih dari sepekan, di tengah penguatan dolar AS yang mencapai level tertinggi sejak Mei. Pada sesi terbaru, emas spot diperdagangkan mendatar di sekitar $3.937 per ounce, setelah sempat merosot hampir 2% pada perdagangan sebelumnya. Momentum penguatan dolar yang berlangsung lima hari berturut-turut menjadi tekanan utama, terutama karena mata uang AS yang lebih kuat membuat emas dan komoditas lain menjadi lebih mahal bagi pembeli di luar Amerika Serikat.
Penguatan dolar ini terjadi seiring meningkatnya keraguan pasar terhadap kemungkinan pemangkasan suku bunga tambahan oleh Federal Reserve pada bulan Desember. Sejumlah pejabat The Fed pekan ini memberikan sinyal kehati-hatian, menyoroti risiko inflasi yang masih membandel dan kondisi pasar tenaga kerja yang tampak melemah. Para pelaku pasar kini menantikan komentar lanjutan dari pejabat lain, termasuk Presiden Fed St. Louis Alberto Musalem dan Ketua Fed Cleveland Beth Hammack, yang diharapkan memberi petunjuk lebih jelas mengenai arah kebijakan moneter.
Meskipun mengalami koreksi, harga emas tetap mencatat kenaikan sekitar 50% sepanjang tahun ini, menyentuh rekor tertinggi sebelum akhirnya terkoreksi wajar. Penurunan harga ini juga terjadi bersamaan dengan keluarnya dana dari ETF berbasis emas, meskipun laju penarikan modal terlihat mulai melambat. Fenomena ini mengindikasikan konsolidasi pasar yang sehat setelah reli panjang sepanjang tahun.
Strategis komoditas TD Securities, Bart Melek, menilai bahwa pergerakan emas dalam kisaran $3.800 hingga $4.050 per ounce masih sangat masuk akal dalam waktu dekat. Ketidakpastian seputar kemungkinan pemangkasan suku bunga The Fed dan melemahnya permintaan ritel dari China memang menjadi faktor penghambat, namun pondasi fundamental yang menopang reli emas tahun ini tetap kuat. Pembelian agresif dari sektor resmi serta tingginya minat investor swasta diyakini akan kembali menjadi motor penggerak, mendorong harga emas naik setelah fase konsolidasi mereda.
Source: Newsmaker.idNewsmaker.id
