Dalam sebuah acara khusus bagi para pemilik waralaba McDonald’s Corp., Presiden Donald Trump memanfaatkan panggung untuk membela kebijakan ekonominya di tengah kritik tajam mengenai tingginya biaya hidup di Amerika Serikat. Trump menegaskan bahwa pemerintahannya sedang berhasil menurunkan harga, sekaligus menolak tudingan Partai Demokrat yang menyatakan bahwa tarif impor justru menjadi pemicu utama inflasi. Menurut Trump, lawan politiknya “salah arah” karena terus menyalahkan tarif atas tekanan harga yang dirasakan masyarakat.
Trump memuji para pemilik waralaba McDonald’s, sekaligus menyoroti bahwa kebijakan ekonominya telah mendorong masuknya triliunan dolar investasi baru, memperkuat penciptaan lapangan kerja sektor swasta, dan menurunkan inflasi yang sebelumnya menjadi beban politik besar bagi pemerintahan sebelumnya. Ia secara khusus berterima kasih kepada McDonald’s karena “memotong harga” dan menghidupkan kembali Extra Value Meals. Trump menyebut dirinya sebagai salah satu pelanggan paling loyal McDonald’s dan mengapresiasi perusahaan yang kini menghadirkan kembali menu bernilai ekonomis.
Kebijakan McDonald’s memang relevan dalam konteks ini: jaringan restoran cepat saji terbesar di AS tersebut kembali menawarkan Extra Value Meals seharga US$5 dan US$8. Dengan jutaan pelanggan serta keberadaan gerai yang tersebar luas, McDonald’s kerap dianggap sebagai indikator penting kondisi belanja konsumen, terutama di kalangan masyarakat berpenghasilan rendah yang sangat sensitif terhadap harga. Langkah ini memberikan Trump contoh nyata di lapangan untuk mendukung narasinya bahwa “harga-harga mulai turun” bagi keluarga kelas menengah dan pekerja.
Namun, pidato tersebut juga menegaskan tantangan besar yang harus dihadapi Trump: meyakinkan pemilih bahwa pemerintahannya sungguh-sungguh menangani persoalan biaya hidup, meski banyak ekonom berpendapat bahwa tarif impor dapat memperparah inflasi. “Kata kita adalah keterjangkauan, bukan kata mereka,” ujar Trump, sambil menuding Partai Demokrat sebagai pihak yang menyebabkan “inflasi terburuk dalam sejarah” serta lonjakan harga energi. Pidato ini disampaikan tidak lama setelah Partai Republik menderita kekalahan dalam sejumlah pemilihan lokal, di mana isu keterjangkauan harga menjadi sorotan utama para pemilih.
Dalam beberapa hari terakhir, pemerintahan Trump mengumumkan serangkaian langkah untuk meredakan tekanan harga, termasuk rencana menurunkan tarif impor pada berbagai produk makanan seperti daging sapi, tomat, kopi, pisang, buah-buahan, kacang-kacangan, dan jus. Pemerintah juga mengumumkan kesepakatan dengan beberapa negara Amerika Latin untuk menurunkan harga barang-barang yang tidak banyak diproduksi di AS. Selain itu, Gedung Putih menggulirkan wacana hipotek 50 tahun untuk menekan pembayaran bulanan, serta usulan pembayaran langsung US$2.000 bagi warga yang didanai dari pendapatan tarif. Meski demikian, penasihat ekonomi Trump terus mengecilkan peran tarif dalam mendorong inflasi, meskipun pengecualian terhadap produk-produk pertanian memberi sinyal bahwa tarif tinggi memang memiliki efek inflasi yang signifikan.
Pidato di acara McDonald’s ini disebut sebagai pembuka dari rangkaian kampanye bertema “keterjangkauan” yang akan dibawa Trump ke berbagai wilayah. Dengan memadukan retorika politik, kebijakan tarif yang kontroversial, dan simbol populer seperti McDonald’s, Trump berupaya membangun narasi bahwa pemerintahannya berada di jalur yang benar dalam menjawab keresahan publik terkait tingginya biaya hidup.
Source: Bloomberg.com
