Pergerakan pasangan mata uang GBP/USD menunjukkan pelemahan tipis sekitar 0,1% pada perdagangan Kamis, dengan posisi bertahan di kisaran 1,3340 di tengah volatilitas pasar yang cukup tinggi. Sepanjang bulan Maret, pasangan ini cenderung bergerak dalam rentang sempit antara 1,3230 hingga 1,3430. Pola lower highs yang terbentuk sejak puncak akhir Januari di sekitar 1,3820 menjadi sinyal kuat bahwa momentum kenaikan poundsterling mulai memudar, membuka potensi konsolidasi atau bahkan koreksi lebih lanjut dalam waktu dekat.
Dari sisi Inggris, kebijakan moneter menjadi sorotan utama. Bank of England (BoE) secara mengejutkan mempertahankan suku bunga di level 3,75% dalam pertemuan 19 Maret, dengan keputusan bulat dari seluruh anggota. Ini menjadi perubahan sikap signifikan dibandingkan Februari, ketika opsi pemangkasan suku bunga masih terbuka. Perubahan lanskap ini tidak lepas dari meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya dampak dari konflik yang melibatkan Iran dan terganggunya jalur distribusi energi global seperti Selat Hormuz.
Gangguan pasokan minyak global telah mendorong kenaikan harga energi, yang pada akhirnya meningkatkan tekanan inflasi di Inggris. BoE memperingatkan bahwa inflasi indeks harga konsumen (CPI), yang berada di 3% pada Februari, berpotensi naik hingga 3,5% dalam beberapa kuartal ke depan. Kondisi ini menciptakan dilema kebijakan: di satu sisi inflasi meningkat, sementara di sisi lain indikator permintaan domestik mulai menunjukkan tanda-tanda pelemahan.
Data ekonomi Inggris berikutnya akan menjadi penentu arah kebijakan selanjutnya. Rilis penjualan ritel Februari diperkirakan turun sebesar -0,8% secara bulanan, sementara indeks kepercayaan konsumen GfK untuk Maret tercatat di -21—sedikit lebih baik dari ekspektasi -24, namun masih mencerminkan sentimen yang lemah. Jika data penjualan ritel benar-benar menunjukkan kontraksi, maka hal ini akan memperkuat kekhawatiran bahwa daya beli masyarakat sedang tertekan di tengah kenaikan harga.
Sementara itu, dari Amerika Serikat, Federal Reserve mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50%–3,75%. Proyeksi dot plot masih mengindikasikan satu kali pemangkasan suku bunga dalam tahun ini. Klaim pengangguran mingguan yang berada di angka 210.000 sesuai dengan ekspektasi pasar, sehingga tidak memberikan dampak signifikan terhadap arah kebijakan moneter dalam waktu dekat.
Fokus pasar AS kini tertuju pada rilis indeks sentimen konsumen dari University of Michigan, yang diperkirakan turun ke level 54 dari sebelumnya 55,5. Selain itu, ekspektasi inflasi 1 tahun ke depan diprediksi berada di 3,4%. Jika data menunjukkan kenaikan ekspektasi inflasi, maka Federal Reserve kemungkinan akan mempertahankan sikap hati-hati, yang dapat memperkuat dolar AS dan menahan penguatan poundsterling menjelang pertemuan FOMC pada April.
Secara keseluruhan, dinamika GBP/USD saat ini sangat dipengaruhi oleh kombinasi faktor geopolitik, kebijakan moneter, dan data ekonomi makro dari kedua negara. Ketidakpastian terkait inflasi dan arah suku bunga membuat pelaku pasar cenderung berhati-hati, dengan volatilitas yang diperkirakan tetap tinggi dalam jangka pendek hingga menengah.
Source: Newsmaker.id
