Trump Batasi Serangan Iran, Risiko Pasokan Minyak Mulai Mereda

Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan sinyal deeskalasi dengan menyatakan bahwa serangan terhadap Iran akan dibatasi. Pernyataan tersebut meredakan sebagian kekhawatiran pasar mengenai kemungkinan Washington memperluas operasi militernya di kawasan Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi salah satu titik paling penting bagi perdagangan energi global.

Pernyataan Trump muncul setelah laporan Axios menyebutkan bahwa Trump bersama sejumlah pejabat senior AS sedang mempertimbangkan serangan terbatas terhadap Iran. Opsi tersebut disebut bertujuan mencegah Teheran membangun kembali kemampuan radar dan rudal antikapal di sekitar Selat Hormuz, tanpa membuka jalan menuju eskalasi militer yang lebih luas. Selat Hormuz

Trump Sebut Kondisi Selat Hormuz Mulai Membaik

Trump juga mengatakan kondisi Selat Hormuz kini berada dalam “kondisi sangat baik”. Menurutnya, volume minyak yang keluar dari kawasan tersebut telah meningkat seiring dengan kembali beroperasinya lalu lintas kapal di jalur energi tersebut.

Presiden AS tersebut menyebut kapal-kapal mulai kembali melintasi Selat Hormuz dengan bantuan Angkatan Laut Amerika Serikat. Bahkan, lalu lintas kapal diklaim telah mencapai sekitar 30 kapal per malam.

Jika peningkatan arus kapal tersebut terus berlangsung, pasar minyak dapat mulai mengurangi sebagian premi risiko geopolitik yang sebelumnya terbentuk akibat kekhawatiran terhadap gangguan pasokan. Bagi pasar energi, normalisasi lalu lintas kapal merupakan perkembangan penting karena Selat Hormuz memiliki peran strategis terhadap distribusi minyak dari kawasan Timur Tengah.

Namun, pasar masih perlu berhati-hati karena peningkatan lalu lintas belum berarti kondisi telah sepenuhnya normal. Risiko keamanan tetap menjadi faktor utama yang dapat mengubah arah harga minyak dalam waktu singkat.

Harga Minyak Masih Menyimpan Premi Risiko Geopolitik

Sebelumnya, kekhawatiran mengenai potensi gangguan pasokan minyak akibat konflik AS-Iran mendorong harga crude bergerak menguat. WTI naik sekitar 2,8% menjadi US$85,76 per barel, sedangkan Brent ditutup pada US$90,49 per barel.

Kenaikan tersebut menunjukkan bahwa pasar masih memberikan premi terhadap risiko geopolitik. Investor memperhitungkan kemungkinan terganggunya aktivitas pengiriman minyak apabila konflik kembali meningkat dan kapal-kapal menghadapi ancaman serangan ketika melewati kawasan strategis tersebut.

Apabila arus kapal melalui Hormuz benar-benar berlanjut dan operasi militer AS tetap terbatas, sebagian premi risiko tersebut berpotensi menghilang. Kondisi ini dapat membuka ruang bagi harga Brent dan WTI untuk kembali dipengaruhi oleh faktor fundamental seperti produksi, permintaan global, persediaan minyak, serta prospek pertumbuhan ekonomi.

Sebaliknya, setiap serangan baru terhadap kapal, fasilitas energi, atau infrastruktur militer di sekitar Hormuz berpotensi kembali memicu aksi beli minyak. Karena itu, volatilitas harga crude diperkirakan masih tinggi selama risiko eskalasi belum sepenuhnya hilang.

Lalu Lintas Kapal Belum Sepenuhnya Normal

Meskipun Trump memberikan gambaran positif, kondisi Selat Hormuz masih belum dapat dikatakan sepenuhnya kembali normal. Data pengiriman sebelumnya menunjukkan jumlah kapal komoditas yang melintasi selat masih jauh di bawah rata-rata sebelum konflik.

Situasi tersebut menjadi pengingat bahwa pasar tidak hanya memperhatikan pernyataan politik, tetapi juga memantau data lalu lintas kapal secara aktual. Bagi pelaku pasar energi, keberlanjutan arus tanker minyak jauh lebih penting untuk menentukan apakah risiko gangguan pasokan benar-benar mulai berkurang.

Amerika Serikat juga masih mempertahankan opsi untuk melakukan serangan terbatas apabila Iran kembali meningkatkan kemampuan militernya di sekitar jalur pelayaran tersebut. Dengan demikian, potensi perubahan kebijakan militer Washington masih menjadi salah satu sumber volatilitas terbesar bagi pasar minyak.

Risiko Minyak Berpengaruh terhadap Inflasi Global

Perkembangan di Selat Hormuz memiliki implikasi yang lebih luas daripada sekadar harga minyak. Jika risiko gangguan pasokan berkurang dan harga crude mulai turun, tekanan inflasi yang berasal dari sektor energi juga dapat mereda.

Penurunan harga minyak dapat mengurangi biaya transportasi dan produksi, sehingga memberikan ruang bagi tekanan harga konsumen untuk menurun. Bagi bank sentral, kondisi tersebut dapat menjadi perkembangan positif karena inflasi energi merupakan salah satu faktor yang dapat memengaruhi ekspektasi inflasi secara keseluruhan.

Dari sisi pasar obligasi, berkurangnya risiko inflasi juga berpotensi menekan yield Treasury. Jika investor mulai melihat risiko kenaikan harga energi sebagai ancaman yang lebih kecil, kebutuhan untuk mempertahankan ekspektasi suku bunga tinggi dapat ikut berkurang.

Dampaknya dapat merambat ke berbagai kelas aset, termasuk dolar AS, emas, saham, dan aset berisiko lainnya.

Trump Kembali Soroti Suku Bunga The Fed

Dalam kesempatan yang sama, Trump kembali menyinggung kebijakan Federal Reserve. Ia mengatakan tetap menghormati Ketua The Fed Kevin Warsh dan menilai Warsh harus melakukan apa yang dianggapnya perlu.

Namun, Trump kembali menyampaikan pandangan bahwa tingkat suku bunga AS saat ini terlalu tinggi. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa tekanan politik terhadap kebijakan moneter masih menjadi perhatian pasar, terutama menjelang pertemuan The Fed pada September.

Sikap Trump berbeda dengan pandangan Warsh yang cenderung lebih hawkish. Warsh sebelumnya menyampaikan bahwa The Fed masih memiliki pekerjaan yang harus dilakukan apabila inflasi belum menunjukkan arah yang cukup jelas menuju target 2%.

Pernyataan hawkish tersebut membuat ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga pada September meningkat secara signifikan. Kondisi ini menjadi faktor penting yang perlu diperhatikan karena keputusan The Fed akan menentukan arah dolar AS, yield Treasury, emas, dan aset berisiko dalam beberapa pekan mendatang.

Emas dan Aset Berisiko Masih Menghadapi Dua Arah Sentimen

Bagi emas, meredanya ketegangan di Timur Tengah dapat menjadi tekanan karena kebutuhan investor terhadap aset safe haven berpotensi menurun. Jika harga minyak turun dan risiko inflasi berkurang, tekanan terhadap yield obligasi juga dapat berubah sehingga arah emas akan sangat bergantung pada ekspektasi kebijakan moneter The Fed.

Di sisi lain, ancaman konflik yang belum sepenuhnya berakhir membuat emas tetap memiliki daya tarik sebagai aset perlindungan. Setiap eskalasi baru di sekitar Iran dan Selat Hormuz dapat dengan cepat meningkatkan permintaan terhadap safe haven.

Pasar saham dan aset berisiko juga menghadapi dinamika serupa. Deeskalasi dan normalisasi pasokan energi dapat meningkatkan sentimen risiko karena kekhawatiran terhadap inflasi dan perlambatan ekonomi berkurang. Namun, sikap hawkish The Fed dapat membatasi penguatan apabila investor kembali memperkirakan suku bunga AS akan bertahan tinggi lebih lama.

Analisis: Deeskalasi Terbatas Belum Berarti Risiko Hilang

Komentar Trump berpotensi menggeser sentimen pasar dari skenario eskalasi menuju deeskalasi terbatas. Jika arus minyak melalui Selat Hormuz terus meningkat dan operasi militer Amerika Serikat benar-benar dibatasi, harga minyak berpeluang kehilangan sebagian premi geopolitiknya.

Perkembangan tersebut dapat menjadi katalis positif bagi stabilitas inflasi global. Harga energi yang lebih rendah berpotensi mengurangi tekanan biaya, memberikan ruang bagi yield obligasi untuk turun, serta membantu memperbaiki sentimen terhadap aset berisiko.

Namun, pasar belum dapat menganggap risiko geopolitik telah berakhir. Ancaman serangan terhadap Iran masih terbuka, sementara kondisi lalu lintas kapal di Hormuz belum sepenuhnya kembali ke tingkat normal. Karena itu, setiap perkembangan militer baru tetap berpotensi memicu lonjakan harga minyak dan meningkatkan permintaan terhadap aset safe haven.

Dengan demikian, Selat Hormuz, harga minyak, dan kebijakan The Fed akan menjadi tiga faktor utama yang menentukan arah pasar dalam jangka pendek. Selama ketiganya masih bergerak dinamis, volatilitas Brent, WTI, emas, dolar AS, dan pasar saham global diperkirakan tetap tinggi.

Sumber : Newsmaker.id