Harga emas kembali berada di bawah tekanan setelah mengalami penurunan tajam pada perdagangan sebelumnya. Pada Selasa (30/09), logam mulia diperdagangkan di sekitar US$4.125 per ounce setelah terkoreksi hampir 4% pada Senin (29/09) dan menyentuh level terendah dalam tujuh pekan.
Penurunan harga emas terjadi ketika investor semakin memperhitungkan dampak kebuntuan hubungan Amerika Serikat dan Iran terhadap pasokan energi global. Ketidakpastian mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz membuat harga energi tetap tinggi sekaligus meningkatkan kekhawatiran bahwa tekanan inflasi dapat bertahan lebih lama.
Kebuntuan AS-Iran Tekan Harga Emas
Salah satu faktor utama yang membebani harga emas adalah perkembangan terkait Selat Hormuz. Presiden AS Donald Trump menolak proposal Iran untuk membuka kembali jalur perdagangan energi strategis tersebut dalam waktu tujuh hari. Keputusan ini meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap potensi berlanjutnya gangguan pasokan energi.
Selat Hormuz merupakan jalur strategis bagi perdagangan minyak dan energi global. Apabila gangguan berlangsung lebih lama, harga minyak berpotensi tetap berada pada level tinggi. Kondisi tersebut dapat meningkatkan biaya transportasi dan produksi sekaligus memperbesar risiko tekanan inflasi di berbagai negara.
Bagi pasar keuangan, kenaikan harga energi menjadi persoalan penting karena dapat membuat bank sentral lebih berhati-hati dalam menurunkan suku bunga. Inflasi yang kembali meningkat akibat energi dapat memperpanjang periode suku bunga tinggi, termasuk di Amerika Serikat.
Situasi tersebut menjadi negatif bagi emas. Meskipun emas secara tradisional dianggap sebagai aset lindung nilai ketika terjadi ketidakpastian geopolitik, kenaikan inflasi yang diikuti ekspektasi suku bunga lebih tinggi dapat mengalihkan perhatian investor menuju aset berpendapatan tetap.
Yield Treasury AS Melonjak dan Menekan Emas
Tekanan terhadap emas semakin kuat dari pasar obligasi Amerika Serikat. Aksi jual Treasury semakin dalam setelah Trump menolak proposal Iran, sehingga mendorong imbal hasil obligasi pemerintah AS naik di berbagai tenor.
Yield Treasury AS tenor 10 tahun bahkan mencapai level tertinggi dalam 19 tahun. Kenaikan yield menjadi faktor penting bagi pergerakan emas karena logam mulia tidak memberikan bunga atau kupon.
Ketika yield obligasi pemerintah AS meningkat, biaya peluang memegang emas ikut naik. Investor dapat memperoleh imbal hasil yang lebih tinggi dari instrumen berbasis dolar tanpa harus menanggung risiko harga emas yang berfluktuasi.
Kondisi ini juga dapat memperkuat permintaan terhadap dolar AS. Apabila kenaikan yield Treasury berlangsung bersamaan dengan penguatan dolar, tekanan terhadap harga emas dalam denominasi dolar dapat menjadi semakin besar.
Dengan demikian, pergerakan yield Treasury, dolar AS, dan ekspektasi suku bunga The Fed menjadi tiga faktor penting yang saat ini perlu diperhatikan investor emas.
Ekspektasi Suku Bunga The Fed Kembali Menjadi Perhatian
Perubahan ekspektasi kebijakan moneter Federal Reserve menjadi faktor berikutnya yang membebani emas. Sejak konflik AS-Iran meningkat pada akhir Februari, harga logam mulia mengalami tekanan yang semakin besar dalam beberapa waktu terakhir.
Sepanjang September, harga emas tercatat turun sekitar 7% setelah The Fed melakukan kenaikan suku bunga pertamanya sejak 2023 dan memberikan sinyal bahwa pengetatan tambahan masih mungkin dilakukan.
Pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober berada di kisaran 70%. Ekspektasi tersebut membuat investor semakin sensitif terhadap data ekonomi AS yang dapat memengaruhi keputusan bank sentral.
Jika indikator ekonomi menunjukkan bahwa inflasi masih sulit dikendalikan sementara aktivitas ekonomi dan pasar tenaga kerja tetap kuat, ruang bagi The Fed untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat akan semakin besar.
Sebaliknya, pelemahan ekonomi atau tanda-tanda penurunan tekanan inflasi dapat mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga dan berpotensi memberikan ruang bagi pemulihan harga emas.
Data PCE dan NFP Jadi Penentu Arah Emas
Investor kini mengalihkan perhatian pada sejumlah data ekonomi penting Amerika Serikat, terutama Personal Consumption Expenditures (PCE) dan Non-Farm Payrolls (NFP).
Data PCE akan menjadi perhatian karena indikator tersebut merupakan salah satu ukuran inflasi yang sangat diperhatikan The Fed. Pergerakan inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan dapat memperkuat ekspektasi bahwa suku bunga perlu dipertahankan pada level tinggi lebih lama.
Sementara itu, laporan NFP pada Jumat akan memberikan gambaran mengenai kondisi pasar tenaga kerja Amerika Serikat. Pertumbuhan lapangan kerja yang kuat dan tingkat pengangguran yang tetap rendah dapat memberikan alasan tambahan bagi The Fed untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat.
Sebaliknya, pelemahan pasar tenaga kerja dapat mengubah ekspektasi investor terhadap arah suku bunga. Apabila data tenaga kerja menunjukkan perlambatan yang signifikan, tekanan terhadap emas dari sisi yield Treasury berpotensi berkurang.
Prospek Harga Emas Masih Dipengaruhi Yield dan Geopolitik
Dalam kondisi saat ini, prospek harga emas tidak hanya ditentukan oleh konflik geopolitik, tetapi juga oleh bagaimana konflik tersebut memengaruhi inflasi, harga energi, yield Treasury, dolar AS, dan kebijakan Federal Reserve.
Secara historis, ketegangan geopolitik dapat meningkatkan permintaan terhadap emas sebagai aset lindung nilai. Namun, apabila ketegangan tersebut sekaligus menyebabkan harga minyak melonjak dan meningkatkan ekspektasi inflasi, dampaknya terhadap emas dapat menjadi lebih kompleks.
Investor karena itu perlu mencermati hubungan antara pasar energi dan pasar obligasi. Harga minyak yang tinggi dapat meningkatkan inflasi, inflasi yang lebih persisten dapat mendorong ekspektasi suku bunga lebih tinggi, sementara kenaikan suku bunga dan yield Treasury dapat meningkatkan tekanan terhadap aset non-yielding seperti emas.
Untuk perdagangan berikutnya, area sekitar US$4.125 per ounce menjadi perhatian setelah penurunan tajam sebelumnya. Pergerakan selanjutnya akan sangat bergantung pada respons pasar terhadap data PCE dan NFP, serta perubahan ekspektasi terhadap kebijakan The Fed.
Dengan yield Treasury yang berada pada level tinggi dan ketidakpastian mengenai inflasi yang masih besar, harga emas menghadapi kombinasi tekanan dari kenaikan imbal hasil obligasi, penguatan dolar AS, serta ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi. Perkembangan konflik AS-Iran dan kondisi pasokan energi global akan menjadi faktor tambahan yang dapat meningkatkan volatilitas emas dalam waktu dekat.
Sumber: Newsmaker.id
