Harga emas dunia kembali mengalami tekanan pada perdagangan Senin setelah pasar semakin yakin bahwa kebijakan moneter Amerika Serikat akan tetap ketat dalam beberapa bulan ke depan. Optimisme terhadap kekuatan ekonomi AS, yang tercermin dari data ketenagakerjaan yang solid, membuat investor mengurangi ekspektasi pelonggaran kebijakan suku bunga dalam waktu dekat. Akibatnya, harga emas spot turun ke level US$4.308,01 per ons, melanjutkan pelemahan tajam sekitar 3% yang terjadi pada akhir pekan lalu dan menyentuh titik terendah sejak 24 Maret.
Tekanan utama terhadap logam mulia berasal dari kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat. Yield Treasury tenor 10 tahun kembali menguat setelah sebelumnya mencapai level tertinggi dalam dua pekan. Kenaikan yield ini menjadi faktor negatif bagi emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil seperti obligasi. Ketika tingkat pengembalian aset berbunga meningkat, investor cenderung mengalihkan dana mereka ke instrumen yang menawarkan pendapatan tetap, sehingga daya tarik emas sebagai aset lindung nilai berkurang.
Di sisi lain, perkembangan geopolitik di Timur Tengah turut memengaruhi sentimen pasar global. Ketegangan meningkat setelah Israel mengumumkan serangan terhadap target-target militer di Iran. Situasi tersebut mendorong lonjakan harga minyak mentah lebih dari US$3 per barel. Kenaikan harga energi memicu kekhawatiran bahwa tekanan inflasi global dapat kembali meningkat, terutama di tengah upaya bank sentral untuk menjaga stabilitas harga.
Lonjakan harga minyak menjadi perhatian penting bagi investor karena berpotensi memperlambat penurunan inflasi. Jika inflasi tetap tinggi atau kembali meningkat, bank sentral seperti Federal Reserve akan memiliki alasan kuat untuk mempertahankan suku bunga pada level tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama. Kondisi ini menciptakan lingkungan yang kurang menguntungkan bagi emas, yang biasanya berkinerja lebih baik saat suku bunga rendah dan likuiditas melimpah.
Data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang dirilis pekan lalu semakin memperkuat pandangan tersebut. Pertumbuhan lapangan kerja yang tetap kuat pada bulan Mei menunjukkan bahwa pasar tenaga kerja AS masih berada dalam kondisi sehat dan tangguh. Kinerja ekonomi yang solid memberikan ruang bagi Federal Reserve untuk tetap fokus pada pengendalian inflasi tanpa harus terburu-buru memangkas suku bunga guna mendukung pertumbuhan ekonomi.
Pelaku pasar kini semakin memperhitungkan kemungkinan kebijakan moneter yang lebih ketat hingga akhir tahun. Berdasarkan proyeksi pasar, peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan bulan Desember mencapai sekitar 72%. Ekspektasi ini mencerminkan keyakinan investor bahwa inflasi masih menjadi tantangan utama yang harus dihadapi oleh bank sentral AS, terutama jika harga energi terus meningkat dan aktivitas ekonomi tetap kuat.
Sinyal hawkish juga datang dari sejumlah pejabat Federal Reserve. Presiden Federal Reserve Cleveland, Beth Hammack, menilai bahwa pasar tenaga kerja AS semakin mendekati kondisi seimbang dan tingkat pekerjaan penuh. Namun, inflasi yang masih bertahan di atas target dapat memaksa bank sentral untuk mempertahankan kebijakan ketat atau bahkan mengambil langkah tambahan guna memastikan tekanan harga dapat dikendalikan secara efektif.
Tidak hanya emas yang mengalami pelemahan. Sejumlah logam mulia lainnya juga bergerak turun seiring meningkatnya ekspektasi suku bunga tinggi. Harga perak melemah 2,2% ke US$66,33 per ons, platinum turun 2,1% menjadi US$1.739,78 per ons, sementara palladium terkoreksi 1,5% ke level US$1.207,50 per ons. Pelemahan serentak di sektor logam mulia menunjukkan bahwa sentimen pasar saat ini lebih dipengaruhi oleh prospek kebijakan moneter dan pergerakan yield dibandingkan faktor safe haven.
Dalam jangka pendek, arah pergerakan emas diperkirakan masih akan sangat bergantung pada perkembangan data ekonomi Amerika Serikat, dinamika inflasi global, serta kebijakan Federal Reserve. Selama yield obligasi tetap tinggi dan pasar mempertahankan ekspektasi suku bunga ketat, tekanan terhadap harga emas berpotensi berlanjut meskipun ketidakpastian geopolitik masih menjadi faktor pendukung di sisi lain.
Poin Penting
- Harga emas spot turun ke US$4.308,01 per ons setelah anjlok sekitar 3% pada perdagangan sebelumnya.
- Kenaikan yield Treasury AS meningkatkan biaya peluang kepemilikan emas sehingga menekan permintaan.
- Harga minyak melonjak lebih dari US$3 per barel, memicu kekhawatiran inflasi yang lebih tinggi.
- Data ketenagakerjaan AS yang kuat memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan kebijakan moneter ketat.
- Peluang kenaikan suku bunga AS pada Desember diperkirakan mencapai 72%, meningkatkan tekanan terhadap pasar logam mulia.
Source: Newsmaker.id
