Kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran kembali melancarkan serangan ke wilayah Arab Saudi pada Senin. Di saat yang sama, rencana pembicaraan antara Iran dan negara-negara Teluk untuk meredakan ketegangan kawasan kembali tertunda. Perkembangan tersebut memperbesar kekhawatiran bahwa konflik Timur Tengah dapat semakin meluas dan memberikan tekanan baru terhadap pasokan minyak global.
Houthi mengklaim telah menembakkan puluhan rudal dan drone ke pangkalan udara militer di Khamis Mushait, wilayah selatan Arab Saudi. Kelompok tersebut menyatakan serangan diarahkan terhadap sejumlah fasilitas strategis, termasuk hanggar pesawat, sistem radar, landasan pacu, serta gudang amunisi. Houthi menyebut aksi tersebut sebagai respons terhadap serangan udara Arab Saudi di Yaman.
Otoritas Saudi kemudian mengeluarkan peringatan darurat di Khamis Mushait dan tiga kota lain di wilayah selatan. Eskalasi terbaru ini menjadi perhatian pasar karena terjadi setelah kerusakan pada pipa minyak East-West Saudi dalam insiden pada Jumat sebelumnya.
Pipa East-West merupakan salah satu jalur energi strategis Arab Saudi karena memungkinkan minyak dari wilayah timur negara tersebut dialirkan menuju pelabuhan di Laut Merah. Jalur ini memiliki arti penting bagi ekspor minyak Teluk karena dapat menjadi alternatif terhadap pengiriman yang bergantung pada Selat Hormuz.
Risiko Pasokan Minyak Makin Besar
Ancaman terhadap pasokan energi global kini tidak hanya berasal dari Selat Hormuz. Pergerakan Houthi di Yaman juga meningkatkan risiko terhadap jalur pelayaran Bab el-Mandeb, salah satu titik penting yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan jalur perdagangan menuju Eropa.
Dalam beberapa hari terakhir, Houthi dilaporkan bergerak cepat di Yaman dan merebut sejumlah wilayah strategis, termasuk Pulau Perim yang berada di dekat pintu masuk Bab el-Mandeb. Jika ketegangan terus meningkat, kapal tanker minyak dan kapal dagang berpotensi menghadapi risiko keamanan yang lebih tinggi ketika melintasi kawasan tersebut.
Situasi tersebut menciptakan ancaman ganda bagi perdagangan energi dunia. Selat Hormuz merupakan jalur utama ekspor minyak dari kawasan Teluk, sementara Bab el-Mandeb menjadi jalur penting bagi pergerakan kapal antara Samudra Hindia, Laut Merah, dan Terusan Suez.
Apabila kedua jalur tersebut menghadapi gangguan secara bersamaan, pasar minyak dapat memasukkan premi risiko geopolitik yang jauh lebih besar ke dalam harga. Pelaku pasar tidak hanya akan mempertimbangkan berapa banyak produksi yang hilang, tetapi juga meningkatnya biaya pengiriman, premi asuransi kapal, perubahan rute pelayaran, dan potensi keterlambatan pasokan.
Diplomasi Iran dan Negara Teluk Kembali Tertunda
Di tengah meningkatnya ketegangan militer, jalur diplomasi justru mengalami kemunduran. Oman sebelumnya diharapkan menjadi tuan rumah pertemuan antara Iran dan negara-negara Teluk untuk membahas kemungkinan negosiasi terkait pembukaan kembali Selat Hormuz.
Namun, pertemuan tersebut kembali ditunda. Iran menyatakan penundaan terjadi atas permintaan Arab Saudi, sehingga harapan terhadap penurunan tensi geopolitik dalam waktu dekat menjadi semakin terbatas.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menyatakan bahwa Iran ingin segera mencapai kesepakatan. Akan tetapi, pernyataan tersebut mendapat penolakan dari pihak Iran.
Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, menegaskan bahwa Tehran tidak akan membuka pembicaraan sebelum persyaratan yang diajukan Iran terpenuhi. Perbedaan sikap tersebut menunjukkan bahwa ruang kompromi antara Iran dan pihak-pihak yang berseberangan dengannya masih sangat terbatas.
Bagi pasar keuangan, tertundanya diplomasi menjadi faktor penting karena mengurangi kemungkinan normalisasi cepat pada jalur perdagangan energi. Selama belum terdapat kesepakatan yang dapat menurunkan risiko konflik, harga minyak berpotensi tetap memperoleh dukungan dari ketidakpastian geopolitik.
Harga Minyak Naik dan Premi Risiko Meningkat
Harga minyak sempat melonjak lebih dari 4% pada perdagangan Senin sebelum memangkas sebagian besar kenaikan dan ditutup sekitar 1% lebih tinggi. Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa pasar merespons eskalasi Timur Tengah secara agresif, tetapi juga masih mempertimbangkan kemungkinan bahwa gangguan pasokan dapat bersifat sementara.
Salah satu perhatian terbesar adalah keberlanjutan penutupan pipa East-West Saudi. Pelaku pasar memperkirakan gangguan berkepanjangan pada jalur tersebut dapat memengaruhi hingga sekitar 4% pasokan minyak global. Hingga kini, Riyadh belum memberikan kepastian mengenai kapan operasi pipa akan kembali normal.
Jika penutupan berlangsung lebih lama dari perkiraan, tekanan terhadap harga minyak dapat meningkat. Pasar akan semakin sensitif terhadap setiap laporan kerusakan fasilitas energi, serangan terhadap infrastruktur minyak, maupun gangguan terhadap kapal tanker.
Kenaikan harga minyak juga memiliki konsekuensi yang lebih luas terhadap perekonomian global. Harga energi yang lebih tinggi dapat meningkatkan biaya transportasi dan produksi, kemudian mendorong inflasi. Kondisi tersebut berpotensi menyulitkan bank sentral yang sedang mempertimbangkan pelonggaran kebijakan moneter.
Dengan demikian, konflik Timur Tengah tidak hanya menjadi persoalan pasar komoditas. Eskalasi yang berkepanjangan dapat merembet ke pasar obligasi, mata uang, saham, hingga ekspektasi suku bunga global.
Teka-Teki Tanker El Gaia Tambah Ketidakpastian
Ketidakpastian juga meningkat setelah muncul laporan mengenai kerusakan tanker El Gaia berbendera Panama. Iran menyebut kapal tersebut terkena ranjau laut setelah memasuki zona terlarang di bagian selatan Selat Hormuz.
Namun, Komando Pusat Amerika Serikat membantah laporan tersebut. Pihak AS menyatakan kapal sebelumnya terkena rudal Iran.
Perbedaan versi mengenai penyebab kerusakan tanker tersebut memperlihatkan betapa tingginya risiko salah perhitungan di kawasan. Setiap insiden terhadap kapal komersial di sekitar Selat Hormuz berpotensi memicu reaksi pasar yang lebih besar karena jalur tersebut memiliki posisi vital dalam perdagangan energi dunia.
Pasar biasanya merespons cepat terhadap ancaman terhadap kapal tanker karena gangguan terhadap pelayaran dapat meningkatkan biaya pengiriman dan premi asuransi. Bahkan tanpa kehilangan produksi minyak secara langsung, risiko keamanan di jalur pelayaran dapat membuat harga minyak bergerak lebih tinggi.
Minyak Menghadapi Ancaman dari Hormuz dan Bab el-Mandeb
Perkembangan terbaru membuat pasar energi global menghadapi situasi yang semakin kompleks. Di satu sisi, Selat Hormuz masih menjadi titik utama ketegangan antara Iran dan negara-negara yang berseberangan dengannya. Di sisi lain, aktivitas Houthi meningkatkan risiko di sekitar Bab el-Mandeb.
Kombinasi kedua risiko tersebut membuat investor semakin memperhatikan potensi gangguan terhadap rantai pasokan minyak global. Jika konflik hanya berlangsung secara terbatas, dampaknya terhadap harga minyak kemungkinan masih dapat diredam oleh pelepasan persediaan dan pengalihan jalur perdagangan.
Namun, apabila serangan terhadap fasilitas energi dan kapal tanker terus terjadi, pasar dapat mulai memperhitungkan skenario gangguan pasokan yang lebih serius. Dalam kondisi tersebut, harga minyak berpotensi mempertahankan premi risiko geopolitik yang tinggi.
Bagi negara-negara konsumen energi, kenaikan harga minyak juga dapat meningkatkan tekanan terhadap neraca perdagangan dan inflasi domestik. Sementara bagi bank sentral, lonjakan harga energi dapat menciptakan dilema antara menjaga stabilitas harga dan mendukung pertumbuhan ekonomi.
Prospek Pasar: Risiko Geopolitik Masih Menjadi Penggerak Utama
Serangan Houthi ke Arab Saudi dan tertundanya pembicaraan antara Iran dengan negara-negara Teluk menunjukkan bahwa risiko geopolitik Timur Tengah belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Pasar kini menghadapi ancaman dari dua jalur strategis sekaligus, yakni Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb.
Jika pipa East-West Saudi tetap tidak beroperasi dan serangan terhadap kapal terus berlangsung, harga minyak berpotensi mempertahankan level tinggi karena premi risiko semakin besar. Perhatian pasar selanjutnya akan tertuju pada perkembangan keamanan fasilitas energi Saudi, aktivitas Houthi di sekitar Laut Merah, kondisi pelayaran di Selat Hormuz, serta kemungkinan dimulainya kembali diplomasi Iran dan negara-negara Teluk.
Dalam skenario eskalasi, minyak menjadi aset yang paling langsung menerima dampak dari meningkatnya ketegangan. Namun, konsekuensinya dapat menyebar jauh lebih luas. Inflasi energi yang kembali meningkat berpotensi membuat bank sentral global lebih berhati-hati dalam menentukan arah suku bunga, sementara investor dapat meningkatkan permintaan terhadap aset safe haven sebagai perlindungan dari ketidakpastian geopolitik.
Dengan demikian, perkembangan di Timur Tengah akan tetap menjadi salah satu faktor penting yang menentukan arah harga minyak dan sentimen pasar global. Selama risiko terhadap Hormuz, Bab el-Mandeb, dan infrastruktur energi Saudi belum mereda, volatilitas pasar komoditas berpotensi tetap tinggi.
Sumber: Newsmaker.id
