Nilai tukar pound sterling terhadap dolar AS atau GBP/USD menguat pada perdagangan Jumat (2/10) setelah dolar AS kehilangan sebagian momentumnya menyusul rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang lebih lemah dari perkiraan. Pelemahan pasar tenaga kerja AS mendorong investor untuk mengurangi ekspektasi terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga Federal Reserve pada pertemuan Oktober.
Data terbaru menunjukkan Nonfarm Payrolls (NFP) Amerika Serikat hanya bertambah 29.000 pekerjaan pada September, jauh di bawah proyeksi pasar sekitar 90.000 pekerjaan. Pada saat yang sama, tingkat pengangguran meningkat menjadi 4,2% dari sebelumnya 4,1%. Pertumbuhan upah rata-rata juga melambat menjadi sekitar 3,0% secara tahunan.
Kombinasi data tersebut memberikan sinyal bahwa pasar tenaga kerja AS mulai kehilangan momentum. Bagi pasar valuta asing, kondisi ini menjadi faktor penting karena pelemahan aktivitas ketenagakerjaan dapat mengurangi tekanan bagi The Fed untuk mempertahankan kebijakan moneter yang lebih ketat.
Data NFP Lemah Tekan Dolar AS
Rilis NFP menjadi katalis utama pergerakan GBP/USD pada akhir pekan perdagangan. Sebelum data tersebut keluar, dolar AS masih memperoleh dukungan dari tingginya imbal hasil Treasury dan kekhawatiran bahwa tekanan inflasi dapat membuat The Fed mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Namun, angka penciptaan lapangan kerja yang hanya mencapai 29.000 mengubah sebagian ekspektasi tersebut. Data tersebut menunjukkan perlambatan yang lebih signifikan pada pasar tenaga kerja dibandingkan perkiraan sebelumnya, sehingga investor mulai menilai bahwa ruang bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga dalam waktu dekat semakin terbatas.
Pasar kemudian memperbesar ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan 27–28 Oktober. Probabilitas suku bunga tidak berubah meningkat menjadi sekitar 80% setelah publikasi laporan ketenagakerjaan. Perubahan ekspektasi tersebut memberikan tekanan terhadap dolar AS dan membuka ruang bagi pound sterling untuk melakukan pemulihan.
Pergerakan ini mencerminkan sensitivitas pasar valuta asing terhadap prospek kebijakan moneter. Ketika kemungkinan kenaikan suku bunga menurun, daya tarik aset berdenominasi dolar cenderung ikut berkurang karena investor tidak lagi memperoleh ekspektasi imbal hasil yang lebih tinggi dari kenaikan suku bunga.
Yield Treasury Tinggi Batasi Penguatan GBP/USD
Meskipun dolar kehilangan sebagian momentumnya, penguatan GBP/USD belum sepenuhnya lepas dari tekanan. Salah satu faktor yang masih memberikan dukungan terhadap dolar AS adalah tingginya imbal hasil obligasi pemerintah AS atau Treasury yield.
Yield Treasury 10 tahun kembali bergerak di sekitar 5,28%, setelah sebelumnya sempat mencapai sekitar 5,34%, level tertinggi dalam 24 tahun. Tingginya yield membuat aset berdenominasi dolar tetap relatif menarik bagi investor global, terutama ketika pasar masih menghadapi ketidakpastian mengenai arah inflasi dan kebijakan moneter AS.
Dengan demikian, pelemahan dolar setelah data NFP tidak serta-merta berarti tren penguatan pound akan berlangsung tanpa hambatan. Selama yield Treasury tetap berada pada level tinggi, dolar masih memiliki fondasi untuk mendapatkan kembali dukungan apabila muncul data ekonomi AS yang lebih kuat.
Pergerakan GBP/USD dalam jangka pendek kemungkinan akan sangat dipengaruhi oleh hubungan antara data ekonomi AS, ekspektasi suku bunga The Fed, dan pergerakan yield Treasury. Penurunan yield akan memperbesar ruang bagi pound untuk menguat, sedangkan kenaikan yield berpotensi kembali memperkuat dolar.
Peluang Kenaikan Suku Bunga The Fed Masih Menjadi Perhatian
Meskipun data tenaga kerja memberikan alasan bagi pasar untuk mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga pada Oktober, investor belum sepenuhnya menghapus kemungkinan kebijakan moneter yang lebih ketat pada akhir tahun.
Salah satu alasannya adalah inflasi AS masih menjadi perhatian utama The Fed. Tekanan harga belum sepenuhnya kembali ke tingkat yang dianggap nyaman oleh bank sentral. Selain itu, kenaikan harga energi akibat konflik di Timur Tengah berpotensi menciptakan tekanan inflasi tambahan.
Harga energi memiliki pengaruh luas terhadap perekonomian karena kenaikan biaya minyak dan energi dapat meningkatkan biaya transportasi, produksi, serta distribusi barang. Jika tekanan tersebut bertahan cukup lama, inflasi dapat menjadi lebih sulit dikendalikan.
Situasi ini membuat The Fed berada dalam posisi yang kompleks. Di satu sisi, perlambatan pasar tenaga kerja meningkatkan alasan untuk berhati-hati dalam menaikkan suku bunga. Di sisi lain, tekanan inflasi yang masih tinggi dapat membuat bank sentral mempertahankan sikap hawkish lebih lama.
Karena itu, pelemahan dolar setelah NFP lebih tepat dipandang sebagai perubahan ekspektasi jangka pendek, bukan sebagai sinyal bahwa tekanan terhadap dolar telah berakhir sepenuhnya.
Prospek Pound Sterling Dipengaruhi Kebijakan Bank of England
Dari sisi Inggris, prospek pound sterling juga sangat bergantung pada ekspektasi kebijakan Bank of England (BoE). Investor tidak hanya memperhatikan perkembangan ekonomi Amerika Serikat, tetapi juga menilai apakah BoE memiliki ruang untuk mempertahankan kebijakan moneter yang relatif ketat.
Kondisi ekonomi Inggris menjadi faktor penting dalam menentukan arah sterling. Pertumbuhan ekonomi yang lemah dapat membatasi kemampuan BoE untuk mempertahankan suku bunga tinggi terlalu lama. Sebaliknya, tekanan inflasi yang persisten dapat membuat bank sentral lebih berhati-hati dalam melonggarkan kebijakan.
Tingginya harga energi juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan. Apabila biaya energi global tetap tinggi, tekanan inflasi di Inggris dapat kembali meningkat dan memengaruhi ekspektasi pasar terhadap kebijakan BoE.
Dengan demikian, penguatan GBP/USD tidak hanya ditentukan oleh pelemahan dolar. Kekuatan fundamental pound dan perubahan ekspektasi terhadap kebijakan BoE juga akan menentukan apakah sterling mampu mempertahankan momentum pemulihannya.
Prospek GBP/USD: Dolar Melemah, Pound Berpeluang Pulih
Dalam jangka pendek, GBP/USD berpeluang mempertahankan momentum pemulihan apabila pelemahan data ekonomi AS terus mendorong investor mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed. Penurunan yield Treasury juga dapat memperkuat tekanan terhadap dolar dan memberikan ruang tambahan bagi pound sterling.
Sebaliknya, risiko koreksi tetap terbuka apabila data inflasi AS kembali menunjukkan tekanan yang lebih kuat. Kondisi tersebut dapat meningkatkan kembali ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dan mendorong yield Treasury naik.
Investor juga akan mencermati perkembangan harga energi serta konflik geopolitik di Timur Tengah. Kenaikan harga energi yang berkelanjutan dapat memperumit prospek inflasi AS dan Inggris sekaligus meningkatkan volatilitas pasar valuta asing.
Secara keseluruhan, GBP/USD saat ini berada di persimpangan antara pelemahan pasar tenaga kerja AS dan tingginya yield Treasury. Data NFP yang mengecewakan telah mengurangi sebagian dukungan terhadap dolar, tetapi belum cukup untuk menghilangkan seluruh risiko penguatan dolar kembali.
Arah selanjutnya akan sangat ditentukan oleh data inflasi AS, pergerakan imbal hasil Treasury, serta perubahan ekspektasi terhadap kebijakan The Fed dan Bank of England. Jika data ekonomi AS terus menunjukkan perlambatan dan yield mulai turun, sterling memiliki peluang untuk memperpanjang pemulihan. Namun, apabila inflasi kembali menguat dan pasar kembali memperkirakan kebijakan The Fed yang lebih ketat, dolar berpotensi kembali mendapatkan momentum dan membatasi kenaikan GBP/USD.
Sumber: Newsmaker.id
