Ketegangan dagang antara Amerika Serikat dan China kembali memanas setelah mantan Presiden Donald Trump menyoroti ekspor minyak goreng bekas dari China sebagai titik konflik terbaru. Namun, penurunan ekspor minyak jelantah tersebut sebenarnya telah terjadi jauh sebelum Trump menjadikannya sasaran kebijakan perdagangan barunya terhadap Beijing.
Trump menyebut pembelian minyak goreng sebagai potensi “senjata ekonomi” untuk menekan China yang enggan membeli kedelai asal Amerika Serikat. Minyak jelantah memang kerap digunakan sebagai bahan baku utama produksi biofuel, tetapi nilainya masih jauh lebih rendah dibandingkan komoditas kedelai yang memiliki posisi strategis dalam perdagangan global.
Menurut data Departemen Pertanian AS (USDA), ekspor minyak goreng olahan China, termasuk minyak jelantah, sempat mencetak rekor pada tahun 2024 dengan total volume mencapai 1,27 juta ton senilai 1,2 miliar dolar AS. Namun, angka tersebut anjlok tajam pada tahun ini setelah Beijing mencabut insentif pajak ekspor per 1 Desember. Dalam tujuh bulan pertama tahun berjalan, total penjualan minyak goreng ke Amerika hanya mencapai sekitar 387.000 ton — turun 43% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sebagai perbandingan, ekspor kedelai Amerika ke China pada tahun lalu mencapai 12,6 miliar dolar AS, menegaskan bahwa komoditas tersebut tetap menjadi penopang utama hubungan dagang kedua negara. Penurunan pada sektor minyak goreng menunjukkan adanya pergeseran arah ekspor China sekaligus dampak nyata dari kebijakan fiskal yang lebih ketat di dalam negeri.
Meskipun ekspor minyak jelantah ke AS menurun, Amerika Serikat tetap menjadi tujuan utama bagi ekspor minyak sawit mentah (CPO) China sepanjang 2024. Berdasarkan data USDA, sekitar 43% dari total ekspor CPO China tahun lalu dikirim ke pasar AS. Hal ini menunjukkan bahwa meski tensi politik meningkat, hubungan dagang antara dua raksasa ekonomi dunia ini masih saling bergantung pada sejumlah sektor strategis.
Langkah Trump menyoroti perdagangan minyak jelantah dapat dibaca sebagai bagian dari strategi politik dan ekonomi yang lebih luas, terutama menjelang momentum politik domestik di Amerika Serikat. Sementara itu, bagi Beijing, kebijakan penghapusan insentif ekspor menandakan upaya untuk menstabilkan pasokan energi dalam negeri sekaligus mengurangi risiko manipulasi pasar global.
Dinamika ini memperlihatkan bahwa perang dagang antara AS dan China terus berevolusi, dari isu baja dan semikonduktor hingga ke komoditas sederhana seperti minyak goreng bekas. Namun, di balik semua itu, taruhannya tetap sama: dominasi ekonomi dan pengaruh geopolitik di panggung global.
Source: Bloomberg
