Harga Minyak Pulih Setelah Anjlok, Ketegangan Selat Hormuz Masih Membayangi Pasar Energi Global

Harga minyak dunia kembali menguat setelah mengalami penurunan tajam yang menjadi yang terbesar sejak April 2020. Pemulihan ini terjadi di tengah ketidakpastian yang masih menyelimuti Selat Hormuz, jalur vital distribusi energi global yang hingga kini belum sepenuhnya pulih dari gangguan akibat konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Brent dan WTI sama-sama kembali diperdagangkan di kisaran US$97 per barel setelah sebelumnya anjlok hingga 13% dalam satu hari. Lonjakan harga ini mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap pasokan minyak mentah yang masih terhambat, terutama karena gangguan lalu lintas kapal tanker yang dilaporkan oleh media semi-resmi Fars News Agency. Sementara itu, pernyataan dari pejabat tinggi Amerika Serikat mengindikasikan adanya tanda-tanda awal pembukaan kembali jalur tersebut, meskipun belum sepenuhnya stabil.

Selat Hormuz memiliki peran krusial dalam sistem energi global karena sebelumnya menjadi jalur bagi sekitar 20% aliran minyak mentah dan gas alam cair dunia. Ketegangan meningkat setelah serangan militer oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari, yang memicu gangguan signifikan terhadap rantai pasokan energi internasional.

Meskipun terdapat upaya diplomatik untuk meredakan konflik, termasuk rencana perundingan langsung antara delegasi AS dan Iran di Islamabad, pelaku pasar tetap skeptis terhadap pemulihan pasokan dalam waktu dekat. Ketidakpastian ini diperparah oleh eskalasi konflik yang masih terjadi di berbagai titik, termasuk operasi militer Israel di Lebanon dan serangan balasan Iran terhadap negara-negara Teluk.

Perbedaan interpretasi terkait cakupan gencatan senjata juga menambah kompleksitas situasi. Pejabat tinggi Iran menyatakan bahwa beberapa poin dalam kesepakatan tersebut telah dilanggar, sehingga meningkatkan risiko geopolitik yang berdampak langsung pada volatilitas harga minyak.

Di sisi lain, otoritas pelabuhan Iran telah mengumumkan pembukaan dua jalur aman untuk navigasi kapal guna menghindari ranjau laut. Namun, meskipun arus pengiriman mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan, normalisasi pasokan energi diperkirakan tidak akan terjadi dalam waktu singkat. Hal ini disebabkan oleh terhentinya sebagian operasi produksi hulu dan kilang yang membutuhkan waktu berminggu-minggu, bahkan lebih lama, untuk kembali beroperasi penuh.

Secara keseluruhan, pasar minyak saat ini berada dalam kondisi yang sangat sensitif terhadap perkembangan geopolitik. Ketidakpastian di Selat Hormuz tidak hanya memengaruhi harga energi, tetapi juga stabilitas ekonomi global, menjadikannya salah satu faktor utama yang terus dipantau oleh investor dan pelaku industri energi di seluruh dunia.

Source: Newsmaker.id