Harga emas kembali bergerak melemah pada awal perdagangan Asia, Kamis, seiring meningkatnya tekanan dari kombinasi ketegangan geopolitik dan ekspektasi kebijakan moneter Amerika Serikat yang semakin ketat. Logam mulia gagal mempertahankan momentum penguatan dan tetap berada di bawah level psikologis US$4.100 per troy ounce, setelah diperdagangkan di kisaran US$4.075 per troy ounce.
Pelemahan emas terjadi ketika perhatian pelaku pasar kembali tertuju pada meningkatnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyebut gencatan senjata dengan Iran telah berakhir memicu kekhawatiran baru mengenai potensi eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah. Kondisi ini meningkatkan ketidakpastian global, terutama terkait keamanan jalur perdagangan energi yang melintasi Selat Hormuz, salah satu rute distribusi minyak paling strategis di dunia.
Situasi semakin memanas setelah Trump kembali melontarkan ancaman akan melakukan serangan militer terhadap Iran untuk kedua kalinya. Selain itu, ia juga membuka peluang diberlakukannya kembali blokade angkatan laut Amerika Serikat sebagai respons atas serangan terhadap kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz. Ancaman tersebut memicu kekhawatiran bahwa distribusi minyak global dapat terganggu apabila konflik terus meningkat.
Secara historis, meningkatnya risiko geopolitik biasanya menjadi faktor yang mendorong permintaan terhadap emas sebagai aset safe haven. Namun, kondisi kali ini menunjukkan dinamika yang berbeda. Alih-alih menguat, harga emas justru tertekan karena investor lebih mengkhawatirkan dampak kenaikan harga energi terhadap inflasi global.
Lonjakan harga minyak yang berpotensi terjadi akibat terganggunya pasokan dari Timur Tengah diperkirakan dapat memicu tekanan inflasi baru. Jika inflasi kembali meningkat, ruang bagi bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve untuk memangkas suku bunga akan semakin terbatas. Prospek suku bunga tinggi dalam jangka waktu lebih lama menjadi sentimen negatif bagi harga emas.
Emas merupakan aset yang tidak memberikan imbal hasil atau yield. Oleh karena itu, ketika suku bunga dan imbal hasil obligasi meningkat, daya tarik emas cenderung menurun karena investor lebih memilih instrumen keuangan yang mampu memberikan pendapatan tetap dengan tingkat keuntungan yang lebih tinggi.
Ekspektasi pasar terhadap kebijakan The Fed pun mengalami perubahan signifikan. Berdasarkan perdagangan swap, peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan Federal Reserve berikutnya kini meningkat menjadi lebih dari 30%, naik tajam dibandingkan pekan sebelumnya yang masih berada di bawah 20%. Perubahan ekspektasi tersebut memperkuat tekanan terhadap harga emas karena pasar mulai mengurangi spekulasi mengenai pelonggaran kebijakan moneter dalam waktu dekat.
Di sisi lain, risalah rapat Federal Reserve pada pertemuan 16–17 Juni menunjukkan bahwa sejumlah pejabat bank sentral masih melihat adanya alasan untuk menaikkan suku bunga. Meskipun pada akhirnya The Fed memutuskan mempertahankan suku bunga acuannya, diskusi internal tersebut mencerminkan bahwa kekhawatiran terhadap inflasi masih menjadi perhatian utama para pembuat kebijakan.
Risalah tersebut juga mengindikasikan bahwa kondisi pasar tenaga kerja Amerika Serikat mulai menunjukkan perbaikan sehingga kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi sedikit mereda. Dengan demikian, fokus Federal Reserve kembali diarahkan pada upaya memastikan inflasi bergerak menuju target jangka panjang sebelum mempertimbangkan perubahan arah kebijakan moneter.
Kombinasi antara meningkatnya risiko geopolitik di Timur Tengah, potensi lonjakan harga minyak, dan menguatnya ekspektasi suku bunga tinggi menciptakan tekanan ganda bagi pasar emas. Meskipun ketegangan politik biasanya meningkatkan permintaan terhadap aset lindung nilai, dominasi sentimen suku bunga membuat investor lebih berhati-hati dalam menambah kepemilikan emas.
Dalam jangka pendek, pergerakan harga emas diperkirakan masih akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan konflik antara Amerika Serikat dan Iran, dinamika harga minyak dunia, serta setiap pernyataan terbaru dari pejabat Federal Reserve. Selama risiko inflasi tetap tinggi dan peluang kenaikan suku bunga masih terbuka, ruang penguatan emas diperkirakan akan tetap terbatas meskipun ketidakpastian geopolitik terus membayangi pasar keuangan global.
Source: Newsmaker.id
