Perang Iran Memanas, Harga Minyak Dunia Melonjak! Brent Dekati US$85 di Tengah Ancaman Gangguan Pasokan Global

Harga minyak dunia bergerak menuju kenaikan mingguan terbesar sejak April setelah konflik antara Amerika Serikat dan Iran kembali memicu kekhawatiran terhadap terganggunya pasokan energi dari kawasan Timur Tengah. Meningkatnya eskalasi militer membuat pelaku pasar kembali memburu aset energi sebagai langkah antisipasi terhadap potensi krisis pasokan, sehingga mendorong harga minyak melonjak tajam sepanjang pekan.

Minyak mentah Brent kini diperdagangkan mendekati level US$85 per barel dan berpotensi membukukan kenaikan mingguan hampir 12%, sementara West Texas Intermediate (WTI) berhasil menembus US$79 per barel. Penguatan ini mencerminkan meningkatnya premi risiko geopolitik yang kembali diperhitungkan oleh pasar energi global.

Serangan AS ke Iran Picu Kekhawatiran Pasokan Energi

Ketegangan meningkat setelah Amerika Serikat melancarkan serangan hari kelima berturut-turut terhadap Iran. Aksi militer tersebut menyusul operasi sebelumnya yang menghantam kapal-kapal tanker minyak di sekitar terminal ekspor utama Iran.

Serangkaian serangan tersebut meningkatkan kekhawatiran bahwa konflik tidak lagi terbatas pada aspek militer, tetapi mulai mengancam infrastruktur energi dan jalur distribusi minyak dunia. Investor pun semakin waspada terhadap kemungkinan terganggunya ekspor minyak dari kawasan yang selama ini menjadi salah satu pusat produksi energi terbesar di dunia.

Meningkatnya risiko geopolitik membuat pasar mulai memperhitungkan kemungkinan berkurangnya pasokan global apabila konflik terus berlanjut atau meluas ke negara-negara produsen minyak lainnya di kawasan Timur Tengah.

Ancaman Penutupan Bab el-Mandeb Perbesar Risiko Pasokan

Selain Selat Hormuz, perhatian pasar kini juga tertuju pada Selat Bab el-Mandeb, salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia.

Laporan menyebutkan bahwa Iran meminta kelompok Houthi di Yaman untuk menutup jalur tersebut apabila infrastruktur kelistrikan Iran menjadi sasaran serangan berikutnya. Bab el-Mandeb merupakan jalur vital yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan menjadi salah satu rute utama ekspor minyak Arab Saudi menuju pasar internasional.

Apabila jalur tersebut terganggu, distribusi minyak dari Timur Tengah menuju Eropa maupun kawasan lainnya berpotensi mengalami keterlambatan yang signifikan. Kondisi tersebut dapat memperketat pasokan global dan semakin mendorong kenaikan harga minyak.

Gangguan di Selat Hormuz Masih Menjadi Perhatian Utama

Fokus terbesar pasar tetap berada di Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar 20% perdagangan minyak dunia setiap harinya.

Meski sejumlah kapal tanker masih terlihat melintasi kawasan tersebut dan melakukan aktivitas pemindahan minyak di sekitar Oman, pelaku pasar tetap menilai situasi keamanan belum sepenuhnya terkendali. Ancaman serangan terhadap kapal-kapal komersial maupun fasilitas energi masih menjadi faktor utama yang menopang kenaikan harga minyak.

Semakin lama gangguan berlangsung, semakin besar pula risiko terjadinya penurunan volume ekspor dari kawasan Teluk, yang pada akhirnya dapat mempersempit keseimbangan antara pasokan dan permintaan minyak dunia.

Bukan Hanya Minyak Mentah, Produk BBM Juga Mengalami Tekanan

Dampak konflik tidak hanya dirasakan pada harga minyak mentah, tetapi juga mulai merembet ke pasar produk olahan seperti bensin dan solar.

Pasar bahan bakar di Amerika Serikat dan Eropa saat ini berada dalam kondisi yang relatif ketat. Situasi tersebut diperburuk oleh terganggunya ekspor energi Rusia akibat serangan Ukraina terhadap sejumlah kilang minyak, serta kebijakan pembatasan ekspor diesel dari Moskow.

Kombinasi gangguan pasokan dari Rusia dan meningkatnya risiko distribusi dari Timur Tengah membuat pasokan bahan bakar global menjadi semakin terbatas. Akibatnya, harga produk energi berpotensi tetap tinggi dalam beberapa waktu ke depan.

Inflasi Global Berpotensi Kembali Meningkat

Lonjakan harga minyak kembali memunculkan kekhawatiran terhadap inflasi global. Biaya energi yang lebih tinggi biasanya akan meningkatkan ongkos transportasi, produksi, hingga distribusi barang dan jasa, sehingga berpotensi mendorong kenaikan harga di berbagai sektor ekonomi.

Apabila gangguan di Selat Hormuz maupun Bab el-Mandeb terus berlangsung, tekanan inflasi diperkirakan akan meningkat. Kondisi ini dapat mempersulit upaya bank-bank sentral dalam mengendalikan inflasi, sehingga kebijakan suku bunga kemungkinan akan tetap dipertahankan pada level tinggi atau bahkan diperketat apabila tekanan harga semakin besar.

Pelaku pasar kini mulai mengalihkan fokus dari peluang tercapainya perdamaian menuju kemampuan jalur pelayaran internasional untuk tetap beroperasi di tengah meningkatnya ancaman keamanan. Selama risiko geopolitik belum mereda dan pasokan energi global masih dibayangi potensi gangguan, harga minyak diperkirakan tetap berada dalam tren yang kuat dengan volatilitas yang tinggi.

Source: Newsmaker.id