Ketegangan geopolitik di kawasan Teluk kembali mencapai titik kritis setelah Amerika Serikat dan Iran saling melancarkan serangan besar pada Minggu. Eskalasi ini menjadi yang paling serius dalam beberapa bulan terakhir dan memicu kekhawatiran baru terhadap stabilitas pasar energi global. Situasi semakin memanas setelah Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz serta dilaporkan melumpuhkan sebuah kapal kontainer sipil berbendera Siprus yang tengah melintasi jalur pelayaran strategis tersebut.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur distribusi energi paling vital di dunia. Sekitar seperlima pasokan minyak global dan sebagian besar ekspor gas alam cair (LNG) melewati kawasan ini setiap harinya. Oleh karena itu, setiap gangguan terhadap lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz hampir selalu memicu lonjakan volatilitas di pasar keuangan internasional, terutama pada komoditas energi.
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan bahwa militer AS kembali melancarkan serangan terhadap sejumlah target militer Iran pada Minggu sore waktu setempat. Washington menyebut operasi tersebut bertujuan melemahkan kemampuan Iran dalam menyerang kapal-kapal dagang yang melintasi Selat Hormuz. Selain itu, militer AS mengklaim berhasil menembak jatuh sebuah rudal jelajah dan drone tempur milik Iran yang dinilai mengancam keamanan kawasan.
Sebelumnya, Iran secara resmi menyatakan bahwa Selat Hormuz ditutup hingga waktu yang belum ditentukan. Garda Revolusi Iran menuduh Amerika Serikat telah mencampuri pengelolaan jalur pelayaran tersebut dan memperburuk situasi keamanan regional. Namun, Presiden Amerika Serikat Donald Trump bersama para pejabat Washington menolak klaim tersebut dengan menegaskan bahwa Selat Hormuz merupakan jalur perairan internasional yang tetap terbuka bagi seluruh kapal komersial sesuai hukum internasional.
Ketegangan semakin meningkat setelah kapal kontainer M/V GFS Galaxy mengalami kerusakan parah pada ruang mesin saat berlayar di dekat wilayah Oman. Menurut CENTCOM, satu awak kapal sipil dilaporkan hilang di laut setelah insiden tersebut. Sebagai respons, Amerika Serikat melancarkan serangan besar-besaran terhadap sekitar 140 lokasi militer Iran yang diyakini digunakan untuk mendukung operasi yang mengganggu jalur pelayaran internasional.
Iran kemudian membalas dengan meluncurkan beberapa gelombang serangan rudal dan drone ke berbagai pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk, termasuk di Yordania, Qatar, Kuwait, Bahrain, dan Oman. Salah satu serangan di Kuwait dilaporkan merusak fasilitas logistik di wilayah perbatasan utara serta menghantam anjungan pengeboran minyak yang berafiliasi dengan Kuwait Oil Co. Insiden tersebut mengakibatkan seorang pekerja mengalami luka-luka dan menimbulkan kerusakan pada struktur fasilitas energi tersebut.
Perkembangan konflik ini meningkatkan kekhawatiran bahwa konfrontasi tidak lagi terbatas pada target militer, tetapi mulai menyentuh infrastruktur energi yang memiliki dampak langsung terhadap rantai pasokan global. Apabila serangan terhadap fasilitas minyak maupun jalur distribusi energi terus berlanjut, pasar diperkirakan akan menghadapi risiko gangguan pasokan yang lebih besar dalam beberapa pekan mendatang.
Harga minyak mentah berpotensi tetap bertahan di level tinggi selama ketidakpastian mengenai keamanan Selat Hormuz belum mereda. Ancaman terhadap salah satu jalur ekspor minyak terpenting di dunia dapat memicu premi risiko yang lebih besar di pasar energi, sehingga mendorong kenaikan harga minyak Brent maupun West Texas Intermediate (WTI). Semakin lama konflik berlangsung, semakin besar pula peluang terjadinya lonjakan harga energi global.
Di sisi lain, emas diperkirakan tetap memperoleh dukungan sebagai aset safe haven di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik. Investor umumnya beralih ke logam mulia ketika risiko konflik meningkat. Namun, ruang kenaikan harga emas berpotensi terbatas apabila lonjakan harga minyak memicu tekanan inflasi yang lebih tinggi. Kondisi tersebut dapat mendorong bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama, sehingga mengurangi daya tarik emas yang tidak memberikan imbal hasil.
Dolar Amerika Serikat juga berpotensi menguat karena statusnya sebagai mata uang safe haven. Ketika sentimen risiko memburuk, investor global cenderung meningkatkan kepemilikan aset berbasis dolar sebagai langkah perlindungan terhadap ketidakpastian. Penguatan dolar berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap harga komoditas, termasuk emas, karena logam mulia menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.
Bagi pasar keuangan global, perhatian kini tidak hanya tertuju pada perkembangan militer antara Amerika Serikat dan Iran, tetapi juga pada dampaknya terhadap inflasi dunia dan arah kebijakan moneter bank sentral utama. Jika konflik terus meluas hingga mengganggu produksi maupun distribusi energi secara signifikan, tekanan inflasi global berpotensi meningkat kembali setelah sebelumnya mulai menunjukkan tren perlambatan. Kondisi tersebut dapat membuat pelaku pasar semakin berhati-hati dalam memperkirakan prospek suku bunga, pertumbuhan ekonomi, serta pergerakan aset-aset berisiko di pasar global.
Eskalasi terbaru di kawasan Teluk menjadi pengingat bahwa faktor geopolitik tetap menjadi salah satu penggerak utama pasar komoditas dan keuangan internasional. Selama ketidakpastian mengenai keamanan Selat Hormuz masih berlangsung, volatilitas harga minyak, emas, dan dolar AS diperkirakan akan tetap tinggi seiring investor terus mencermati setiap perkembangan yang terjadi di kawasan Timur Tengah.
Source: Newsmaker.id
