Harga emas bergerak menguat secara terbatas pada perdagangan Rabu (22/7), seiring pelaku pasar mencermati lonjakan harga minyak dunia yang kembali memicu kekhawatiran terhadap inflasi global serta arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed). Meskipun penguatan masih relatif terbatas, logam mulia berhasil mempertahankan posisinya di atas level psikologis US$4.000 per troy ounce, menandakan minat beli mulai kembali muncul setelah tekanan yang terjadi dalam dua pekan terakhir.
Di pasar spot, harga emas diperdagangkan di kisaran US$4.080,79 per troy ounce, sementara indeks dolar Amerika Serikat bergerak relatif stabil setelah menguat pada sesi sebelumnya. Stabilnya dolar membuat kenaikan emas tidak berlangsung agresif, namun meningkatnya permintaan aset lindung nilai tetap memberikan dukungan terhadap pergerakan harga.
Konflik AS-Iran Dorong Harga Minyak dan Tingkatkan Permintaan Safe Haven
Fokus utama investor masih tertuju pada meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. Konflik kedua negara telah memasuki hari kesepuluh dengan aksi saling serang yang terus berlangsung. Walaupun berbagai pihak internasional berupaya memediasi dan membuka kembali jalur diplomasi, belum adanya kepastian mengenai penyelesaian konflik membuat pasar energi tetap berada dalam kondisi waspada.
Risiko gangguan pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah kembali mendorong harga minyak dunia lebih tinggi. Kenaikan harga energi tersebut meningkatkan kekhawatiran bahwa tekanan inflasi global dapat kembali meningkat, sehingga membuka peluang bagi bank-bank sentral, termasuk The Fed, untuk mempertahankan kebijakan moneter yang ketat lebih lama dari perkiraan.
Kondisi tersebut menciptakan dinamika yang cukup kompleks bagi pasar emas. Di satu sisi, meningkatnya ketidakpastian geopolitik biasanya memperkuat daya tarik emas sebagai aset safe haven. Namun di sisi lain, potensi suku bunga tinggi dalam waktu lebih lama cenderung membatasi ruang kenaikan logam mulia karena meningkatkan biaya peluang dalam memiliki aset yang tidak memberikan imbal hasil.
Gangguan Pasokan Minyak Bertambah Setelah Serangan di Laut Hitam
Sentimen terhadap pasar energi juga dipengaruhi oleh serangan yang terjadi di kawasan pesisir Laut Hitam Rusia. Wilayah tersebut merupakan salah satu jalur penting pengiriman minyak Kazakhstan menuju pasar internasional.
Gangguan terhadap infrastruktur maupun aktivitas pengiriman di kawasan tersebut meningkatkan kekhawatiran bahwa pasokan energi global dapat mengalami hambatan baru. Akibatnya, harga minyak kembali memperoleh dukungan, sementara investor semakin memperhatikan potensi dampaknya terhadap inflasi dunia.
Meningkatnya risiko pasokan dari dua kawasan strategis sekaligus, yaitu Timur Tengah dan Laut Hitam, membuat volatilitas pasar energi tetap tinggi. Kondisi ini menjadi salah satu faktor yang turut menopang permintaan terhadap aset lindung nilai seperti emas.
Emas Bertahan di Level Psikologis US$4.000
Setelah mengalami tekanan selama dua pekan terakhir, harga emas kini mulai menunjukkan tanda-tanda stabilisasi. Level US$4.000 per troy ounce menjadi area psikologis yang cukup kuat untuk menahan tekanan jual.
Munculnya aksi buy on dip atau pembelian saat harga melemah menunjukkan bahwa sebagian investor masih melihat prospek positif emas dalam jangka menengah hingga panjang. Selain emas, logam mulia lainnya juga menunjukkan performa yang lebih kuat.
Harga perak melonjak lebih dari 4% pada perdagangan Selasa, mencerminkan meningkatnya minat investor terhadap sektor logam mulia secara keseluruhan. Penguatan perak sering kali menjadi indikator bahwa sentimen terhadap aset safe haven mulai membaik, terutama ketika ketidakpastian ekonomi dan geopolitik meningkat.
Arah Kebijakan The Fed Masih Menjadi Penentu
Selain perkembangan konflik geopolitik, pelaku pasar juga masih menunggu kejelasan arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Prospek suku bunga The Fed tetap menjadi faktor utama yang menentukan pergerakan emas dalam beberapa bulan mendatang.
Jika tekanan inflasi akibat kenaikan harga energi terus berlanjut, peluang penurunan suku bunga dapat semakin tertunda. Sebaliknya, apabila inflasi tetap terkendali dan pertumbuhan ekonomi mulai melambat, ruang bagi The Fed untuk kembali memangkas suku bunga akan semakin terbuka.
Kondisi tersebut membuat harga emas masih bergerak dalam fase konsolidasi sambil menunggu sinyal ekonomi yang lebih jelas dari Amerika Serikat, termasuk data inflasi, tenaga kerja, dan pernyataan para pejabat bank sentral.
Morgan Stanley Proyeksikan Harga Emas Menuju US$4.450
Prospek jangka menengah emas masih dinilai cukup positif oleh sejumlah lembaga keuangan global. Morgan Stanley memperkirakan harga emas berpotensi mencapai US$4.450 per troy ounce pada kuartal keempat tahun ini apabila The Fed memilih mempertahankan suku bunga hingga akhir tahun sebelum kembali melakukan pemangkasan pada tahun depan.
Lembaga tersebut juga memperkirakan harga perak dapat meningkat hingga US$65,40 per troy ounce dalam skenario yang sama. Selain kebijakan moneter, pembelian emas oleh bank-bank sentral di berbagai negara diperkirakan tetap menjadi faktor pendukung yang mampu menjaga permintaan logam mulia tetap tinggi.
Meski demikian, investor masih perlu mencermati perkembangan inflasi global, pergerakan harga minyak, serta eskalasi konflik geopolitik yang dapat memengaruhi volatilitas pasar dalam jangka pendek.
Prospek Harga Emas
Harga emas saat ini berada pada fase penentuan arah dengan dukungan utama berasal dari meningkatnya ketidakpastian geopolitik dan potensi pembelian oleh bank sentral. Sementara itu, kenaikan harga minyak dunia berpotensi memperkuat tekanan inflasi yang dapat memengaruhi keputusan suku bunga The Fed.
Selama konflik di Timur Tengah belum menunjukkan tanda-tanda mereda dan risiko gangguan pasokan energi masih tinggi, emas diperkirakan tetap memperoleh dukungan sebagai aset lindung nilai. Namun, ruang kenaikan kemungkinan tetap terbatas apabila ekspektasi suku bunga tinggi di Amerika Serikat kembali menguat. Dengan kombinasi faktor-faktor tersebut, pasar emas diperkirakan akan tetap bergerak volatil sambil menunggu kepastian arah kebijakan moneter dan perkembangan geopolitik global.
Source: Newsmaker.id
