Harga minyak dunia bertahan di level tinggi setelah mencatat kenaikan harian terbesar dalam lebih dari dua pekan terakhir. Minyak mentah Brent bergerak semakin dekat ke level US$90 per barel setelah melonjak hampir 8% pada sesi perdagangan sebelumnya, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan tepat di bawah US$84 per barel. Kenaikan tajam ini mencerminkan meningkatnya kekhawatiran pelaku pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global akibat memanasnya konflik geopolitik di Timur Tengah.
Lonjakan harga minyak dipicu oleh meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali melontarkan ancaman akan melancarkan serangan baru terhadap Iran setelah terjadinya serangan terhadap pasukan Amerika di Yordania. Pernyataan tersebut memperburuk sentimen pasar karena meningkatkan risiko eskalasi konflik yang dapat mengganggu stabilitas kawasan penghasil minyak terbesar di dunia.
Pasar energi kini semakin mencermati perkembangan hubungan kedua negara yang hingga saat ini belum menunjukkan tanda-tanda penyelesaian. Ketidaksepakatan mengenai keamanan Selat Hormuz maupun peluang tercapainya gencatan senjata membuat risiko geopolitik tetap tinggi. Kondisi ini mendorong investor meningkatkan posisi lindung nilai pada komoditas energi sebagai antisipasi terhadap potensi gangguan pasokan minyak mentah.
Selat Hormuz kembali menjadi perhatian utama pasar global karena merupakan jalur pelayaran strategis yang menghubungkan kawasan Teluk Persia dengan pasar energi internasional. Sekitar seperlima perdagangan minyak dunia melewati jalur sempit tersebut setiap harinya. Apabila terjadi gangguan terhadap aktivitas pelayaran akibat konflik militer atau penutupan jalur, distribusi minyak global berpotensi terganggu secara signifikan sehingga mendorong harga energi semakin tinggi.
Selain faktor geopolitik, kenaikan harga minyak juga didukung oleh kondisi fundamental pasar yang semakin ketat. Persediaan minyak mentah komersial Amerika Serikat dilaporkan turun ke level terendah sejak tahun 2018. Penurunan stok tersebut mengindikasikan bahwa permintaan energi masih tetap kuat, sementara pasokan belum mampu meningkat secara memadai untuk memenuhi kebutuhan pasar.
Cadangan Minyak Strategis Amerika Serikat atau Strategic Petroleum Reserve (SPR) juga terus mengalami penurunan. Cadangan tersebut tercatat menyusut selama 18 pekan berturut-turut hingga mencapai level terendah sejak tahun 1983. Berkurangnya cadangan strategis memperkuat pandangan bahwa pasar minyak fisik berada dalam kondisi yang semakin ketat, sehingga setiap gangguan pasokan akibat konflik geopolitik akan memberikan dampak yang lebih besar terhadap harga.
Kombinasi antara meningkatnya risiko konflik dan menurunnya cadangan minyak menciptakan sentimen bullish di pasar energi. Para pelaku pasar menilai bahwa ruang penurunan harga minyak menjadi semakin terbatas selama belum ada kepastian mengenai stabilitas geopolitik di Timur Tengah maupun peningkatan produksi dari negara-negara penghasil minyak utama.
Di sisi lain, ancaman terhadap jalur pelayaran di Laut Merah juga masih menjadi perhatian serius. Serangan yang dilakukan kelompok Houthi terhadap kapal-kapal komersial meningkatkan risiko gangguan distribusi energi dan logistik internasional. Jika situasi tersebut terus berlanjut bersamaan dengan meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz, biaya transportasi minyak dapat meningkat dan semakin memperketat pasokan global.
Prospek harga Brent dalam jangka pendek masih cenderung positif apabila konflik antara Amerika Serikat dan Iran terus memburuk. Selama risiko terhadap pasokan minyak global tetap tinggi, Brent berpotensi bertahan di kisaran US$90 per barel atau bahkan melanjutkan penguatan apabila terjadi eskalasi militer yang lebih luas.
Namun demikian, kenaikan harga minyak juga membawa konsekuensi terhadap perekonomian global. Harga energi yang lebih mahal berpotensi meningkatkan tekanan inflasi di berbagai negara. Kondisi tersebut dapat mendorong bank-bank sentral mempertahankan suku bunga pada level tinggi lebih lama, bahkan membuka peluang pengetatan kebijakan moneter apabila inflasi kembali meningkat.
Lingkungan suku bunga tinggi biasanya memberikan tekanan terhadap pasar saham dan aset berisiko karena meningkatkan biaya pendanaan perusahaan serta mengurangi minat investor terhadap instrumen investasi berisiko. Oleh sebab itu, penguatan harga minyak tidak selalu menjadi kabar positif bagi pasar keuangan secara keseluruhan.
Investor kini akan terus memantau perkembangan diplomasi maupun potensi aksi militer lanjutan antara Amerika Serikat dan Iran. Selain itu, pergerakan stok minyak Amerika Serikat, kebijakan produksi negara-negara OPEC+, serta kondisi keamanan di Selat Hormuz dan Laut Merah akan menjadi faktor utama yang menentukan arah harga minyak dalam beberapa pekan mendatang.
Dengan kombinasi faktor geopolitik yang semakin memanas dan kondisi pasokan global yang ketat, volatilitas harga minyak diperkirakan tetap tinggi. Selama belum ada tanda-tanda meredanya konflik di Timur Tengah, pasar energi akan tetap berada dalam kondisi waspada, sementara Brent memiliki peluang untuk mempertahankan tren penguatannya di sekitar level psikologis US$90 per barel.
Source: Newsmaker.id
