Harga minyak mentah bergerak stabil pada perdagangan Jumat (14 Agustus), setelah mengalami tekanan pada sesi sebelumnya. Harga minyak Brent bertahan di sekitar US$87 per barel setelah sebelumnya turun 2,2%, sementara minyak West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan di kisaran US$81 per barel. Pergerakan pasar masih sangat dipengaruhi perkembangan terbaru terkait upaya membuka kembali Selat Hormuz yang hingga kini belum menunjukkan titik terang.
Investor minyak masih mengambil sikap wait and see karena negosiasi antara Iran dan Oman belum menghasilkan kesepakatan konkret untuk memastikan jalur pelayaran strategis tersebut kembali beroperasi secara normal. Optimisme yang sempat muncul pada awal pekan mulai memudar seiring belum adanya kemajuan nyata dalam pembicaraan. Kondisi tersebut membuat risiko keamanan bagi kapal tanker yang melintasi kawasan tetap menjadi perhatian utama pasar energi global.
Ketegangan Selat Hormuz Kembali Meningkat
Situasi keamanan di kawasan kembali memanas setelah Abu Dhabi National Oil Co. melaporkan bahwa dua kapal miliknya menjadi sasaran serangan pada Kamis malam. Peristiwa tersebut meningkatkan kekhawatiran bahwa gangguan terhadap jalur pelayaran dapat semakin meluas dan berpotensi menghambat distribusi minyak dari kawasan Teluk Persia.
Risiko geopolitik juga datang dari kawasan Laut Merah. Kelompok Houthi yang didukung Iran mengklaim telah menargetkan kilang Jazan di Arab Saudi. Klaim tersebut menambah kekhawatiran terhadap keamanan infrastruktur energi di Timur Tengah, terutama karena kawasan tersebut merupakan salah satu pusat utama produksi, penyimpanan, serta distribusi minyak dunia.
Serangkaian insiden tersebut menjadi faktor pendukung bagi harga minyak. Pasar tidak hanya memperhitungkan kemungkinan terganggunya produksi, tetapi juga risiko terhadap kapal tanker, fasilitas energi, dan jalur perdagangan yang menjadi bagian penting dari rantai pasok minyak global.
Aliran Minyak dari Teluk Persia Masih Berlangsung
Meskipun ketegangan di Selat Hormuz meningkat, sebagian pasokan minyak masih berhasil keluar dari kawasan Teluk Persia. Sejumlah kapal tanker bahkan dilaporkan mematikan transponder atau sistem pelacakan mereka untuk mengurangi visibilitas selama melewati kawasan yang dianggap berisiko.
Menteri Energi Amerika Serikat Chris Wright mengatakan sekitar 9 juta barel minyak per hari masih dapat melewati Selat Hormuz dengan bantuan pengawalan militer Amerika Serikat. Informasi tersebut menjadi salah satu alasan mengapa harga minyak belum mengalami lonjakan yang lebih tajam meskipun risiko geopolitik masih tinggi.
Kemampuan sebagian pasokan untuk tetap mengalir menjadi faktor penting dalam menjaga keseimbangan pasar. Selama ekspor minyak masih berlangsung dan tidak terjadi penghentian total lalu lintas tanker, pelaku pasar cenderung menahan diri untuk tidak memberikan premi risiko yang terlalu besar terhadap harga minyak.
Namun, kondisi tersebut tidak berarti risiko telah hilang. Setiap serangan baru terhadap kapal tanker atau infrastruktur energi dapat mengubah persepsi pasar dengan cepat, terutama apabila gangguan tersebut menyebabkan penurunan volume minyak yang benar-benar tersedia bagi konsumen global.
Defisit Pasar Minyak Menjadi Penopang Harga
Di luar faktor geopolitik, fundamental pasar minyak juga memberikan dukungan terhadap harga. Badan Energi Internasional atau International Energy Agency (IEA) memperkirakan defisit pasar minyak akan semakin melebar pada kuartal berjalan. Bahkan, defisit pasar minyak pada 2026 diproyeksikan menjadi yang terbesar dalam lima tahun terakhir.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kenaikan harga minyak tidak semata-mata bergantung pada perkembangan Selat Hormuz. Ketika pertumbuhan permintaan lebih kuat dibandingkan kemampuan pasokan untuk mengimbanginya, ruang penurunan harga menjadi lebih terbatas.
Harga Brent juga masih mencatat kenaikan lebih dari 4% sepanjang pekan ini. Penguatan tersebut menunjukkan bahwa meskipun harga sempat terkoreksi dalam perdagangan terakhir, sentimen bullish belum sepenuhnya hilang dari pasar energi.
Investor kini menghadapi dua kekuatan yang saling berlawanan. Di satu sisi, masih adanya aliran minyak dari Teluk Persia mengurangi kekhawatiran terhadap kekurangan pasokan dalam jangka pendek. Di sisi lain, risiko geopolitik dan proyeksi defisit pasar memberikan alasan bagi pelaku pasar untuk tetap mempertahankan premi risiko pada harga minyak.
Harga Brent Berpotensi Bertahan di Rentang US$80–US$90
Dalam kondisi saat ini, harga minyak Brent kemungkinan masih bergerak dalam rentang US$80 hingga US$90 per barel. Pasar tampaknya membutuhkan katalis baru untuk menentukan arah berikutnya, terutama perkembangan nyata terkait pembukaan kembali Selat Hormuz.
Apabila tidak ada kemajuan diplomatik dan serangan terhadap kapal maupun infrastruktur energi terus terjadi, harga Brent berpotensi kembali bergerak menuju US$90 per barel. Eskalasi konflik yang menyebabkan gangguan terhadap distribusi minyak secara langsung dapat memperbesar premi risiko dan mendorong pembelian kontrak minyak oleh pelaku pasar.
Sebaliknya, kesepakatan konkret antara pihak-pihak yang terlibat untuk menjamin keamanan dan kelancaran pelayaran di Selat Hormuz dapat memicu koreksi harga. Berkurangnya risiko gangguan pasokan akan membuat premi geopolitik yang sebelumnya melekat pada harga minyak mulai terhapus.
Pasar Minyak Masih Berada dalam Fase Menunggu
Pergerakan harga minyak saat ini mencerminkan fase menunggu. Investor belum sepenuhnya yakin bahwa ketegangan Selat Hormuz akan segera berakhir, tetapi pada saat yang sama belum melihat gangguan pasokan yang cukup besar untuk mendorong harga menuju level yang jauh lebih tinggi.
Keseimbangan tersebut membuat Brent relatif bertahan di sekitar US$87 per barel, sementara WTI berada di kisaran US$81. Arah selanjutnya akan sangat bergantung pada kombinasi perkembangan diplomatik, keamanan pelayaran, arus ekspor minyak dari Teluk Persia, serta kondisi fundamental pasar global.
Selama Selat Hormuz belum kembali normal dan risiko serangan terhadap kapal serta infrastruktur energi masih tinggi, harga minyak diperkirakan tetap memperoleh dukungan. Namun, apabila jalur pelayaran berhasil dibuka secara aman dan berkelanjutan, pasar berpotensi mengurangi premi risiko dan membawa harga minyak turun dari level saat ini.
Dengan demikian, prospek harga minyak dalam jangka pendek masih cenderung volatil dengan kecenderungan bertahan di kisaran US$80–US$90 per barel. Eskalasi baru di Timur Tengah dapat menjadi pemicu kenaikan menuju US$90, sedangkan kesepakatan konkret mengenai Selat Hormuz berpotensi menjadi katalis koreksi harga. Bagi pasar energi global, perkembangan di salah satu jalur perdagangan minyak terpenting dunia tersebut tetap menjadi faktor utama yang menentukan arah harga minyak dalam beberapa hari ke depan.
Source: Newsmaker.id
