Harga Emas Bertahan di US$4.425,80 saat Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed Memudar

Harga emas dunia mempertahankan penguatannya pada perdagangan Selasa, 18 Agustus 2026, setelah mencatat kenaikan dalam dua sesi berturut-turut. Harga emas spot berada di sekitar US$4.425,80 per troy ounce, dengan kenaikan sekitar 1,5% dalam dua sesi sebelumnya. Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa sentimen terhadap emas kembali menguat di tengah pelemahan dolar AS dan berkurangnya ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga Federal Reserve atau The Fed.

Kondisi tersebut menjadi katalis positif bagi harga emas dunia, terutama karena emas tidak memberikan imbal hasil bunga. Ketika ekspektasi suku bunga meningkat, aset berbunga seperti obligasi cenderung menjadi lebih menarik dibandingkan emas. Sebaliknya, ketika pasar mulai memperkirakan kebijakan moneter yang lebih longgar atau setidaknya tidak semakin ketat, tekanan terhadap emas dapat berkurang.

Dolar AS Melemah, Harga Emas Mendapat Dukungan

Salah satu faktor utama yang menopang harga emas saat ini adalah pelemahan dolar AS. Dollar Index (DXY) masih berada di bawah tekanan dan sempat menyentuh level terendah sejak Mei. Pelemahan tersebut terjadi setelah sejumlah data ekonomi Amerika Serikat menunjukkan tanda-tanda perlambatan, sehingga investor mulai mengurangi ekspektasi terhadap kebijakan moneter yang lebih ketat.

Hubungan antara dolar AS dan harga emas menjadi sangat penting bagi pasar komoditas. Emas diperdagangkan dalam denominasi dolar AS, sehingga ketika nilai dolar melemah, emas menjadi relatif lebih murah bagi investor yang memegang mata uang lain. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan permintaan dan memberikan ruang bagi harga emas untuk menguat.

Perubahan ekspektasi pasar terhadap kebijakan The Fed juga semakin terlihat. Jika sebelumnya investor memperkirakan masih terdapat peluang kenaikan suku bunga sebelum akhir tahun, kini pasar tidak lagi sepenuhnya memasukkan skenario tersebut ke dalam harga. Pergeseran ekspektasi ini memberikan ruang bagi emas untuk mempertahankan momentum positifnya.

Imbal Hasil Treasury 30 Tahun Naik, tetapi Emas Tetap Menguat

Menariknya, penguatan emas terjadi ketika imbal hasil atau yield obligasi Treasury AS tenor 30 tahun justru meningkat ke level tertinggi dalam hampir dua dekade. Secara teori, kenaikan yield jangka panjang dapat menjadi tekanan bagi emas karena meningkatkan opportunity cost dalam memegang aset yang tidak memberikan bunga.

Namun, kenaikan yield kali ini juga mencerminkan kekhawatiran yang lebih luas mengenai kondisi fiskal Amerika Serikat. Investor semakin mencermati tingginya belanja pemerintah, meningkatnya penerbitan utang jangka panjang, serta risiko inflasi yang dapat muncul dari tekanan fiskal tersebut.

Situasi tersebut justru dapat memberikan dukungan tambahan bagi emas. Ketika investor mulai mempertanyakan keberlanjutan beban utang pemerintah dan risiko fiskal dalam jangka panjang, emas kembali dipandang sebagai salah satu instrumen lindung nilai atau safe haven.

Dengan demikian, kenaikan yield tidak selalu berarti negatif bagi emas. Apabila kenaikan tersebut terutama didorong oleh meningkatnya premi risiko fiskal dan inflasi, emas dapat memperoleh manfaat dari permintaan investor yang mencari perlindungan terhadap ketidakpastian ekonomi dan keuangan.

Risiko Inflasi dari Timur Tengah Masih Membayangi Emas

Meskipun sentimen terhadap emas relatif positif, pasar masih menghadapi sejumlah risiko yang dapat membatasi ruang penguatan. Salah satunya berasal dari perkembangan geopolitik di Timur Tengah.

Presiden Donald Trump menolak memperpanjang kesepakatan sementara dengan Iran, sementara konflik di Lebanon semakin intensif. Pada saat yang sama, gangguan terhadap aktivitas pelayaran di Selat Hormuz masih menjadi perhatian pasar energi global.

Selat Hormuz memiliki peran strategis dalam perdagangan minyak dunia. Setiap gangguan yang berkepanjangan terhadap jalur pelayaran tersebut berpotensi mengurangi pasokan energi global dan mendorong harga minyak lebih tinggi.

Kenaikan harga minyak menjadi persoalan bagi prospek inflasi. Jika harga energi meningkat secara signifikan, tekanan inflasi dapat kembali menguat. Dalam kondisi tersebut, The Fed berpotensi mempertahankan kebijakan moneter yang lebih ketat untuk waktu lebih lama atau bahkan membuka kembali kemungkinan pengetatan kebijakan.

Risiko tersebut menjadi salah satu faktor yang membatasi kenaikan harga emas. Artinya, meskipun pelemahan dolar AS dan turunnya ekspektasi kenaikan suku bunga memberikan dukungan, lonjakan harga minyak akibat konflik geopolitik dapat menciptakan tekanan berlawanan melalui jalur inflasi.

Permintaan Investor dan Pembelian Bank Sentral Menopang Emas

Selain faktor makroekonomi dan geopolitik, permintaan struktural juga menjadi fondasi penting bagi harga emas. Minat investor terhadap emas masih relatif kuat, sementara pembelian oleh bank sentral terus menjadi salah satu sumber permintaan utama di pasar global.

China menjadi salah satu negara yang mendapat perhatian dalam perkembangan permintaan emas. Pembelian oleh bank sentral memberikan karakter berbeda terhadap reli emas karena permintaan tersebut tidak semata-mata bergantung pada pergerakan suku bunga atau kondisi pasar saham.

Diversifikasi cadangan devisa, perlindungan terhadap risiko mata uang, serta kebutuhan untuk mengurangi ketergantungan terhadap aset tertentu menjadi beberapa faktor yang membuat emas tetap menarik sebagai aset cadangan.

Kombinasi antara permintaan bank sentral dan minat investor tersebut dapat membantu menjaga harga emas tetap kuat meskipun pasar menghadapi volatilitas pada imbal hasil obligasi dan aset berisiko.

Harga Emas Kembali Mendekati Moving Average 100 Hari

Dari perspektif teknikal, reli terbaru membawa harga emas kembali mendekati moving average 100 hari. Sebelumnya, harga emas telah berhasil menembus indikator tersebut untuk pertama kalinya sejak April.

Pergerakan di sekitar moving average 100 hari menjadi perhatian pelaku pasar karena indikator tersebut sering digunakan untuk mengukur arah tren jangka menengah. Apabila harga mampu bertahan di atas area tersebut, kepercayaan terhadap momentum bullish dapat semakin meningkat.

Sebaliknya, kegagalan mempertahankan posisi di atas atau di sekitar indikator tersebut dapat memicu aksi ambil untung, terutama setelah emas mengalami kenaikan cukup signifikan dalam waktu relatif singkat.

Karena itu, pasar tidak hanya akan memperhatikan apakah harga emas mampu melanjutkan kenaikan, tetapi juga apakah penguatan tersebut didukung volume transaksi dan permintaan yang berkelanjutan.

Fokus Pasar Beralih ke Risalah Pertemuan The Fed

Perhatian investor berikutnya tertuju pada risalah pertemuan Federal Reserve yang dijadwalkan dirilis pada Rabu. Dokumen tersebut akan menjadi sumber penting untuk mengetahui pandangan para pejabat The Fed mengenai inflasi, pasar tenaga kerja, pertumbuhan ekonomi, serta arah kebijakan suku bunga.

Investor terutama akan mencari petunjuk apakah tekanan terhadap suku bunga benar-benar mulai mereda atau masih terdapat risiko bahwa kebijakan moneter kembali menjadi lebih ketat.

Jika risalah menunjukkan bahwa mayoritas pejabat The Fed semakin berhati-hati terhadap kenaikan suku bunga dan lebih memperhatikan risiko perlambatan ekonomi, dolar AS berpotensi kembali tertekan. Skenario tersebut dapat memberikan dukungan tambahan bagi harga emas.

Sebaliknya, apabila risalah menunjukkan kekhawatiran kuat terhadap inflasi dan membuka peluang pengetatan kebijakan lebih lanjut, dolar AS dan yield Treasury dapat kembali meningkat. Kondisi tersebut berpotensi membatasi kenaikan emas atau bahkan mendorong aksi profit taking.

Prospek Harga Emas: Sentimen Positif, tetapi Ruang Kenaikan Tidak Tanpa Risiko

Secara keseluruhan, prospek harga emas dunia masih cenderung positif. Dua hambatan utama yang sebelumnya menekan emas, yakni dolar AS yang kuat dan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed, mulai kehilangan kekuatannya.

Pelemahan DXY memberikan dukungan langsung terhadap emas, sementara berkurangnya peluang kenaikan suku bunga menurunkan tekanan opportunity cost terhadap aset tanpa imbal hasil seperti emas. Pada saat yang sama, kekhawatiran mengenai utang pemerintah AS dan risiko fiskal jangka panjang memberikan alasan tambahan bagi investor untuk mempertahankan eksposur terhadap logam mulia.

Namun, reli emas masih menghadapi sejumlah tantangan. Kenaikan yield Treasury jangka panjang, risiko inflasi, serta potensi lonjakan harga minyak akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah dapat membatasi momentum bullish.

Dengan harga emas yang berada di sekitar US$4.425,80 per troy ounce, pasar kini memasuki fase penting. Investor akan menilai apakah penguatan terbaru merupakan awal dari tren kenaikan baru atau sekadar reli sementara setelah pelemahan sebelumnya.

Untuk jangka pendek, arah DXY, yield Treasury AS, harga minyak, perkembangan Selat Hormuz, serta risalah The Fed akan menjadi faktor utama yang menentukan pergerakan emas. Selama dolar tetap melemah dan ekspektasi kenaikan suku bunga terus menurun, emas memiliki fondasi untuk mempertahankan momentum positif. Namun, perubahan mendadak pada ekspektasi inflasi atau kebijakan The Fed dapat meningkatkan volatilitas secara signifikan.

Dengan demikian, sentimen pasar emas saat ini masih bullish secara moderat. Dukungan fundamental tetap kuat dari pelemahan dolar, permintaan bank sentral, risiko fiskal, dan ketidakpastian geopolitik. Akan tetapi, investor tetap perlu mewaspadai tekanan dari kenaikan yield jangka panjang dan potensi inflasi energi yang dapat mengubah kembali arah kebijakan moneter Amerika Serikat.

Source: Newsmaker.id