Harga Emas Stabil di Bawah US$4.300, Pasar Menanti Keputusan Suku Bunga The Fed

Harga emas bergerak stabil di bawah level US$4.300 per troy ounce pada perdagangan Rabu (16/9), ketika investor menahan posisi menjelang keputusan kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed). Harga emas spot tercatat turun 0,2% menjadi US$4.282,34 per ounce pada pukul 07.55 waktu Singapura.

Pergerakan tersebut menunjukkan pasar masih berada dalam fase konsolidasi setelah emas mengalami tekanan dalam beberapa sesi sebelumnya. Fokus utama investor kini tertuju pada hasil pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) yang berlangsung pada 15–16 September, terutama keputusan suku bunga dan sinyal kebijakan lanjutan dari Ketua The Fed Kevin Warsh. Ekspektasi kenaikan suku bunga meningkat tajam dalam beberapa hari terakhir seiring inflasi yang tetap tinggi dan lonjakan harga energi. (Reuters)

Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga Tekan Harga Emas

Pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed berada di sekitar 90% menjelang keputusan Rabu. Reuters juga melaporkan bahwa mayoritas ekonom yang disurvei memperkirakan The Fed menaikkan suku bunga pada pertemuan September dan masih membuka kemungkinan kenaikan tambahan hingga Maret 2027. (Reuters)

Ekspektasi tersebut menjadi salah satu faktor utama yang membatasi kenaikan harga emas. Ketika suku bunga dan imbal hasil obligasi meningkat, biaya peluang memegang emas yang tidak memberikan bunga atau kupon menjadi lebih tinggi. Investor kemudian cenderung membandingkan daya tarik emas dengan instrumen berbasis dolar AS dan surat utang pemerintah Amerika Serikat.

Namun, arah emas tidak hanya ditentukan oleh keputusan suku bunga hari ini. Pasar juga akan mencermati pernyataan Warsh mengenai prospek kebijakan moneter berikutnya. Sikap yang mengindikasikan bahwa kenaikan suku bunga dapat berlanjut berpotensi mempertahankan tekanan terhadap XAU/USD, sementara sinyal bahwa The Fed akan lebih bergantung pada data ekonomi dapat membuka ruang bagi pemulihan harga.

Yield Treasury AS Menjadi Beban Tambahan

Selain ekspektasi kebijakan The Fed, kenaikan imbal hasil Treasury AS menjadi faktor penting yang membatasi pergerakan emas. Yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun telah berada di sekitar 5%, mencerminkan meningkatnya tekanan di pasar obligasi dan kekhawatiran investor terhadap prospek inflasi serta kebutuhan pembiayaan.

Kenaikan yield jangka panjang memiliki pengaruh besar terhadap pasar keuangan global karena Treasury AS menjadi salah satu acuan utama dalam menentukan biaya pendanaan. Ketika yield meningkat, aset yang tidak memberikan pendapatan berkala seperti emas menghadapi persaingan yang lebih kuat.

Kondisi tersebut membuat respons pasar terhadap konferensi pers Warsh menjadi sangat penting. Investor tidak hanya akan menilai keputusan suku bunga, tetapi juga mencari petunjuk mengenai bagaimana The Fed melihat kombinasi inflasi, pertumbuhan ekonomi, pasar tenaga kerja, serta kenaikan harga energi.

Harga Minyak Menambah Kekhawatiran Inflasi

Tekanan terhadap emas juga berasal dari pasar energi. Harga minyak tetap tinggi setelah gangguan terhadap infrastruktur energi Arab Saudi meningkatkan kekhawatiran mengenai pasokan global.

Pipa East-West Arab Saudi, yang membentang sekitar 1.200 kilometer dan berfungsi mengalihkan minyak dari wilayah timur menuju pelabuhan Yanbu di Laut Merah, merupakan jalur penting untuk mengurangi ketergantungan pada Selat Hormuz. Reuters melaporkan bahwa pipa tersebut sebelumnya mengangkut sekitar 4–5 juta barel minyak per hari. (Reuters)

Gangguan terhadap jalur tersebut meningkatkan sensitivitas pasar terhadap risiko pasokan minyak. Reuters melaporkan bahwa Saudi Arabia bahkan menangguhkan sejumlah pengiriman minyak ke Eropa setelah serangan terhadap infrastruktur pipa, sementara harga Brent sempat mendekati US$108 per barel. (Reuters)

Bagi pasar emas, lonjakan harga energi menciptakan situasi yang kompleks. Di satu sisi, ketegangan geopolitik dan risiko inflasi biasanya meningkatkan permintaan terhadap aset lindung nilai. Namun di sisi lain, inflasi yang lebih tinggi dapat mendorong bank sentral mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama sehingga meningkatkan yield dan menekan emas.

Emas Turun Lebih dari 3% pada September

Pergerakan harga sepanjang September memperlihatkan perubahan signifikan dalam ekspektasi pasar. Setelah sempat berada di atas US$4.700 per ounce pada akhir Agustus, emas kemudian terkoreksi dan kini bergerak di bawah US$4.300.

Penurunan tersebut mencerminkan proses penyesuaian pasar terhadap perubahan ekspektasi suku bunga dan imbal hasil Treasury. Sebelumnya, harapan terhadap pelonggaran kebijakan moneter memberikan dukungan kuat bagi emas. Namun, data inflasi yang tetap tinggi serta kenaikan harga energi membuat investor kembali memperhitungkan risiko kebijakan moneter yang lebih ketat.

Data ekonomi dan pernyataan pejabat The Fed menjadi semakin penting karena bank sentral menghadapi dilema antara mengendalikan inflasi dan mempertahankan kondisi ekonomi. Pertemuan September menjadi perhatian khusus karena merupakan salah satu keputusan kebijakan paling penting sejak Warsh mengambil alih posisi Ketua The Fed. (Chase)

Level US$4.250 dan US$4.350 Jadi Perhatian Pasar

Secara teknikal, kemampuan emas mempertahankan harga di sekitar US$4.280 akan menjadi perhatian dalam jangka pendek. Jika tekanan jual kembali meningkat setelah keputusan The Fed, area US$4.250 dapat menjadi salah satu level yang diperhatikan pasar.

Sebaliknya, apabila pernyataan The Fed lebih hati-hati mengenai kenaikan suku bunga berikutnya dan tekanan yield mulai mereda, emas berpotensi mengalami rebound teknikal. Dalam skenario tersebut, area US$4.320 hingga US$4.350 menjadi zona yang dapat diperhatikan sebagai target pemulihan awal.

Pergerakan berikutnya tetap sangat bergantung pada kombinasi keputusan suku bunga, proyeksi kebijakan, komentar Kevin Warsh, pergerakan yield Treasury, dolar AS, serta perkembangan harga minyak. Dengan demikian, volatilitas XAU/USD berpotensi meningkat setelah keputusan FOMC karena pasar akan melakukan penyesuaian posisi terhadap arah kebijakan moneter berikutnya.

Prospek Harga Emas Setelah Keputusan The Fed

Harga emas saat ini berada di persimpangan antara dua kekuatan utama. Ekspektasi kenaikan suku bunga dan tingginya yield Treasury memberikan tekanan terhadap logam mulia, sementara ketidakpastian geopolitik serta lonjakan harga energi tetap menciptakan permintaan terhadap aset lindung nilai.

Keputusan The Fed pada 16 September karena itu menjadi katalis utama bagi pergerakan emas berikutnya. Jika kebijakan dan komunikasi bank sentral memperkuat ekspektasi suku bunga tetap tinggi, tekanan terhadap emas dapat berlanjut. Sebaliknya, jika pasar menangkap sinyal yang lebih hati-hati mengenai langkah berikutnya, emas memiliki ruang untuk melakukan pemulihan teknikal dari posisi tertekan.

Dengan harga yang masih bertahan di bawah US$4.300 per ounce, pasar kini menunggu bagaimana The Fed menyeimbangkan risiko inflasi dengan kondisi ekonomi. Pergerakan yield Treasury dan harga minyak akan tetap menjadi variabel penting yang menentukan arah emas setelah keputusan suku bunga diumumkan.

Emas

Sumber: Newsmaker.id