Harga emas (XAU/USD) kembali melemah pada sesi Asia hari Selasa, menyentuh level terendah dalam hampir tiga minggu setelah sempat mencoba menembus batas psikologis di atas US$4.000 per ons. Penurunan ini menandai hari ketiga berturut-turut pelemahan logam mulia tersebut. Penyebab utamanya adalah meningkatnya kepercayaan pasar global. Optimisme bahwa hubungan dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok akan kembali mencair membuat investor lebih berani mengambil risiko di aset-aset seperti saham dan komoditas siklikal, alih-alih mencari perlindungan di aset aman seperti emas.
Selain faktor sentimen, tekanan jual emas juga dipicu oleh faktor teknikal. Setelah gagal bertahan di atas level US$4.000, muncul aksi jual lanjutan dari para trader jangka pendek yang memanfaatkan momentum koreksi. Namun, tekanan tersebut tidak berlangsung tanpa batas. Ada faktor penahan yang membuat penurunan harga emas tidak terlalu dalam, yakni ekspektasi terhadap sikap dovish bank sentral AS (Federal Reserve) dalam beberapa bulan mendatang.
Pasar kini memperkirakan The Fed akan memangkas suku bunga sebanyak dua kali lagi sebelum akhir tahun. Ekspektasi pemangkasan ini telah melemahkan nilai dolar AS selama dua hari berturut-turut, dan secara historis, dolar yang melemah cenderung memberikan dukungan terhadap harga emas karena logam mulia tersebut dihargakan dalam dolar. Dengan demikian, meski emas sedang tertekan oleh sentimen risk-on, sisi moneter masih memberikan napas bagi harga untuk bertahan.
Di sisi lain, risiko geopolitik global—khususnya perang yang masih berlangsung antara Rusia dan Ukraina—membuat sebagian investor enggan sepenuhnya keluar dari emas. Ketidakpastian tersebut tetap menjadi alasan utama bagi investor untuk mempertahankan sebagian portofolio mereka dalam bentuk aset lindung nilai. Karena itu, banyak pelaku pasar memilih menunggu dan tidak mengambil posisi agresif menjelang hasil rapat dua hari Federal Reserve (FOMC) yang dimulai pada Selasa ini.
Kesimpulannya, emas kembali berada di bawah tekanan akibat meningkatnya selera risiko pasar yang didorong oleh optimisme perdagangan global. Namun, kisah emas sebagai aset lindung nilai belum berakhir. Dengan arah kebijakan The Fed yang berpotensi lebih longgar dan risiko geopolitik yang masih membayangi, harga emas kemungkinan tetap akan menemukan dukungan di tengah gejolak pasar keuangan global.
Source: Newsmaker.id
