Pasar energi global kembali berada dalam fase ketidakpastian tinggi setelah harga minyak mentah dunia bergerak stabil namun cenderung melemah pada perdagangan Asia, 29 April. Meskipun mengalami koreksi tipis, level harga tetap berada di zona tinggi akibat gangguan pasokan yang belum terselesaikan. Brent untuk pengiriman Juni tercatat turun 0,5% ke US$110,70 per barel, sementara WTI melemah 0,8% ke US$99,09 per barel. Angka ini mencerminkan ketahanan harga minyak di tengah krisis geopolitik yang belum menunjukkan titik terang.
Kondisi pasar saat ini tidak bisa dilepaskan dari konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran, khususnya terkait blokade di Selat Hormuz—jalur vital distribusi energi global. Sejak pecahnya konflik pada akhir Februari, jalur ini praktis tidak dapat dilalui secara normal. Dampaknya sangat signifikan, mengingat Selat Hormuz merupakan salah satu titik transit utama bagi minyak mentah, gas alam, dan produk energi lainnya dari Timur Tengah ke pasar global.
Gangguan distribusi ini telah menciptakan tekanan besar terhadap pasokan global, yang pada akhirnya mendorong lonjakan harga energi dan meningkatkan kekhawatiran inflasi di berbagai negara. Badan Energi Internasional bahkan menyebut situasi ini sebagai salah satu guncangan pasokan terbesar dalam sejarah modern. Meskipun gencatan senjata telah berlangsung sejak awal April, proses perdamaian masih terhambat oleh perbedaan kepentingan kedua negara.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengungkapkan bahwa Iran telah meminta pencabutan blokade laut agar aktivitas pengiriman bisa segera kembali normal. Pernyataan ini memberikan secercah harapan bagi pasar, meski belum ada kepastian konkret. Para mediator internasional juga dilaporkan tengah menunggu proposal revisi dari Iran yang diharapkan dapat membuka jalan menuju kesepakatan damai dalam waktu dekat.
Namun, ketidakpastian masih mendominasi. Salah satu faktor krusial adalah perbedaan pandangan terkait mekanisme pembukaan kembali Selat Hormuz serta kerangka perjanjian yang akan disepakati. Selain itu, arus fisik minyak melalui jalur pipa dan laut masih jauh dari kondisi normal, memperpanjang tekanan terhadap pasar energi global.
Dari sisi internal Iran, tekanan juga semakin meningkat. Data dari Kpler menunjukkan bahwa kapasitas penyimpanan minyak mentah Iran hampir mencapai batas maksimum. Situasi ini berpotensi memaksa Iran untuk mempercepat pemangkasan produksi jika ekspor tidak segera dibuka kembali. Risiko ini menambah kompleksitas dinamika pasar, karena dapat memperparah kekurangan pasokan global.
Di luar konflik utama, perubahan struktur pasokan global juga mulai terlihat. Uni Emirat Arab mengumumkan akan keluar dari OPEC dan OPEC+ mulai bulan depan, dengan alasan membutuhkan fleksibilitas dalam merespons permintaan pasar di tengah krisis. Langkah ini berpotensi mengubah keseimbangan kekuatan dalam organisasi produsen minyak dan menambah volatilitas harga.
Sementara itu, Amerika Serikat terus meningkatkan tekanan finansial terhadap Iran. Melalui OFAC, Washington memperingatkan lembaga keuangan global terkait risiko sanksi yang berkaitan dengan kilang independen di China yang terhubung dengan minyak Iran. Bahkan, sanksi baru telah dijatuhkan terhadap beberapa entitas, termasuk perusahaan besar yang terlibat dalam rantai pasok tersebut. Selain itu, AS juga memberikan panduan tegas mengenai potensi sanksi bagi pihak yang membayar biaya transit di Selat Hormuz, yang saat ini sedang diupayakan Iran sebagai solusi sementara.
Secara keseluruhan, pasar minyak saat ini berada dalam kondisi rapuh dengan volatilitas tinggi. Harga tetap tinggi karena ketatnya pasokan, sementara prospek jangka pendek sangat bergantung pada perkembangan diplomasi antara AS dan Iran. Selama Selat Hormuz belum sepenuhnya dibuka dan aliran energi belum kembali normal, risiko inflasi global dan ketidakstabilan ekonomi akan terus membayangi.
Source: Newsmaker.id
