Pasar saham Asia mencatat reli kuat setelah meningkatnya optimisme bahwa Amerika Serikat dan Iran semakin dekat menuju kesepakatan untuk mengakhiri konflik geopolitik yang selama beberapa pekan terakhir mengguncang pasar global. Sentimen positif tersebut langsung memicu lonjakan minat investor terhadap aset berisiko, sekaligus meredakan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi dan perlambatan ekonomi dunia.
Indeks Nikkei 225 Jepang melonjak tajam sebesar 3,4% ketika pasar kembali dibuka usai libur panjang. Kenaikan ini menjadi salah satu yang terbesar di kawasan Asia, didorong oleh membaiknya sentimen global serta turunnya harga energi yang sebelumnya menjadi sumber utama kekhawatiran pasar. Bursa saham Australia dan Korea Selatan juga bergerak menguat, sementara indeks MSCI Asia Pacific naik 0,6%, memperpanjang reli pasar Asia setelah Wall Street ditutup di level tertinggi sepanjang masa.
Reli global semakin diperkuat setelah indeks S&P 500 dan Nasdaq 100 berhasil mencetak rekor penutupan baru pada perdagangan Rabu. Optimisme investor meningkat seiring munculnya ekspektasi bahwa ketegangan geopolitik di Timur Tengah tidak akan berkembang menjadi konflik berkepanjangan yang dapat mengganggu pasokan energi global secara signifikan.
Fokus utama pasar kini tertuju pada pergerakan harga minyak. Harga Brent anjlok hampir 8% dan ditutup sedikit di atas US$101 per barel pada perdagangan sebelumnya. Penurunan tajam ini memberikan angin segar bagi pasar keuangan global karena membantu mengurangi tekanan inflasi yang selama ini menjadi perhatian utama bank sentral, khususnya Federal Reserve.
Turunnya harga minyak turut memicu reli pada pasar obligasi global, karena investor mulai menurunkan ekspektasi terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga tambahan oleh The Fed. Dengan meredanya tekanan inflasi energi, pasar mulai melihat peluang bahwa kebijakan moneter AS dapat menjadi lebih fleksibel dalam beberapa bulan mendatang. Kondisi tersebut menjadi katalis utama penguatan pasar saham global.
Meski harga minyak sempat dibuka lebih tinggi pada perdagangan Kamis pagi, penurunan tajam pada sesi sebelumnya sudah cukup untuk mengubah persepsi risiko investor. Pasar kini menilai bahwa kemungkinan gangguan besar terhadap pasokan minyak dari Timur Tengah mulai menurun, terutama jika jalur diplomasi terus mengalami kemajuan.
Di pasar valuta asing, yen Jepang menjadi pusat perhatian setelah stabil di kisaran 156,35 per dolar AS. Mata uang Jepang sebelumnya sempat menguat di tengah spekulasi adanya intervensi pemerintah untuk menopang yen yang terus melemah terhadap dolar AS. Sementara itu, dolar AS terkoreksi kembali ke level sebelum pecahnya konflik, mencerminkan berkurangnya permintaan terhadap aset safe haven.
Di sisi lain, harga emas justru melonjak karena investor melakukan penyesuaian portofolio di tengah perubahan persepsi risiko global. Meski sentimen pasar mulai membaik, permintaan terhadap aset lindung nilai masih tetap tinggi sebagai langkah antisipasi terhadap ketidakpastian geopolitik yang belum sepenuhnya selesai.
Dari sisi geopolitik, laporan terbaru menyebutkan bahwa Washington telah mengajukan memorandum singkat yang membuka jalan bagi pelonggaran blokade secara bertahap serta pembukaan kembali akses menuju Selat Hormuz. Jalur strategis tersebut merupakan salah satu rute perdagangan minyak paling penting di dunia, sehingga setiap perkembangan terkait kawasan ini sangat memengaruhi pasar energi global.
Walaupun kesepakatan final masih menunggu respons resmi dari Iran, pernyataan Presiden Donald Trump yang menyebut perang memiliki “peluang sangat besar untuk berakhir” berhasil meningkatkan optimisme investor. China juga dikabarkan turut mendorong pembukaan kembali Selat Hormuz demi menjaga stabilitas perdagangan dan pasokan energi internasional.
Pelaku pasar kini meyakini bahwa selama proses de-eskalasi terus berjalan, minat terhadap aset berisiko kemungkinan besar akan tetap terjaga. Hal ini tercermin dari penguatan hampir seluruh indeks utama di Asia dan Eropa pada perdagangan Kamis pagi. Indeks Topix Jepang naik 2,1%, S&P/ASX 200 Australia menguat 1%, sementara kontrak berjangka Hang Seng dan Euro Stoxx 50 masing-masing melonjak 1,1% dan 3%.
Selanjutnya, perhatian investor akan tertuju pada data ekonomi Amerika Serikat serta sinyal kebijakan moneter Federal Reserve menjelang rilis data payrolls pada Jumat. Data terbaru menunjukkan perusahaan-perusahaan AS meningkatkan perekrutan tenaga kerja pada April dengan laju tercepat dalam lebih dari satu tahun terakhir. Kondisi ini menunjukkan bahwa pasar tenaga kerja AS masih relatif solid meskipun tekanan ekonomi global meningkat.
Namun demikian, pejabat Federal Reserve tetap menegaskan bahwa ketidakpastian ekonomi dan risiko inflasi masih menjadi perhatian utama. Oleh sebab itu, pasar akan mencermati dengan seksama setiap indikator ekonomi berikutnya guna menentukan arah kebijakan suku bunga ke depan.
Selain faktor makroekonomi dan geopolitik, sentimen positif di pasar saham global juga didukung oleh optimisme terhadap perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) serta kinerja korporasi besar dunia. Meski reaksi antar sektor masih bervariasi, investor tetap melihat sektor teknologi sebagai salah satu motor utama pertumbuhan pasar global dalam jangka menengah.
Dengan kombinasi meredanya tensi geopolitik, turunnya harga minyak, serta harapan terhadap kebijakan moneter yang lebih akomodatif, pasar global kini memasuki fase risk-on yang mendorong investor kembali memburu aset berisiko. Namun demikian, volatilitas diperkirakan masih akan tinggi karena pasar tetap sensitif terhadap perkembangan geopolitik dan data ekonomi utama dalam waktu dekat.
Source: Newsmaker.id
