Serangan AS ke Fasilitas Militer Iran Picu Ketegangan Baru, Bagaimana Dampaknya terhadap Harga Minyak, Emas, Dolar AS, dan Pasar Global?

Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali meningkat setelah Amerika Serikat melancarkan serangan udara terhadap sejumlah fasilitas militer Iran pada Jumat, 26 Juni 2026 waktu setempat. Langkah tersebut merupakan respons Washington atas serangan drone yang menghantam sebuah kapal kargo di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi urat nadi perdagangan energi dunia. Presiden Donald Trump menilai insiden tersebut sebagai pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata yang sebelumnya telah disepakati secara rapuh antara Amerika Serikat dan Iran.

Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengonfirmasi bahwa operasi militer tersebut menyasar lokasi penyimpanan rudal, gudang drone, serta sistem radar pantai milik Iran yang dinilai berperan dalam mendukung operasi militer di kawasan Teluk. Di sisi lain, media Iran melaporkan adanya proyektil yang menghantam area di dekat dermaga Kota Sirik yang berada di pesisir Selat Hormuz, mempertegas meningkatnya aktivitas militer di kawasan tersebut.

Serangan ini memperburuk hubungan kedua negara yang sebelumnya telah dipenuhi ketegangan. Iran dalam beberapa waktu terakhir berulang kali menegaskan keinginannya untuk memperketat pengawasan terhadap lalu lintas kapal di Selat Hormuz. Pemerintah Teheran juga memperingatkan negara-negara Teluk agar tidak memberikan dukungan kepada Amerika Serikat dalam konflik yang sedang berlangsung. Bahkan, Iran dilaporkan sempat mengusir tiga kapal tanker asing yang dituduh melakukan pelayaran tanpa izin di wilayah yang diklaim berada dalam pengawasannya.

Selat Hormuz memiliki arti strategis bagi perekonomian global karena sekitar 20% pasokan minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dunia melewati jalur ini setiap harinya. Gangguan sekecil apa pun terhadap aktivitas pelayaran di kawasan tersebut berpotensi menciptakan gejolak besar pada rantai pasok energi internasional dan meningkatkan ketidakpastian di pasar keuangan global.

Meski demikian, reaksi awal pasar energi justru menunjukkan arah yang berbeda. Harga minyak dunia turun sekitar 3% setelah muncul indikasi bahwa aktivitas pengiriman mulai kembali normal. Beberapa kapal pengangkut minyak dari terminal Ras Tanura milik Saudi Aramco kembali beroperasi, sementara pengiriman pupuk melalui Selat Hormuz juga mulai pulih. Pemulihan aktivitas logistik ini memberikan harapan bahwa gangguan pasokan belum berkembang menjadi krisis yang lebih luas.

Namun, para pelaku pasar tetap memandang situasi dengan penuh kewaspadaan. Serangan langsung Amerika Serikat terhadap infrastruktur militer Iran meningkatkan risiko aksi balasan yang dapat mengganggu distribusi energi global sewaktu-waktu. Selama ketegangan belum mereda, volatilitas harga minyak diperkirakan tetap tinggi karena investor terus memantau perkembangan situasi di Timur Tengah.

Di pasar logam mulia, emas kembali berpotensi memperoleh dukungan sebagai aset safe haven. Ketika konflik geopolitik meningkat, investor biasanya mengalihkan sebagian portofolionya ke aset yang dianggap lebih aman, termasuk emas. Permintaan terhadap logam mulia dapat meningkat apabila pasar menilai konflik ini berpotensi berkembang menjadi konfrontasi yang lebih luas di kawasan.

Meski demikian, kenaikan harga emas kemungkinan tidak akan berlangsung tanpa hambatan. Jika ketegangan geopolitik turut mendorong penguatan dolar Amerika Serikat sebagai aset lindung nilai utama dunia, maka apresiasi dolar dapat membatasi kenaikan harga emas. Hubungan terbalik antara dolar AS dan emas masih menjadi salah satu faktor utama yang diperhatikan investor dalam menentukan arah pergerakan kedua aset tersebut.

Sementara itu, dolar AS berpotensi menguat seiring meningkatnya permintaan terhadap aset berisiko rendah. Dalam situasi ketidakpastian global, investor cenderung meningkatkan kepemilikan dolar karena statusnya sebagai mata uang cadangan dunia. Arus modal yang masuk ke aset berbasis dolar dapat memberikan dukungan terhadap penguatan mata uang tersebut dalam jangka pendek.

Pasar saham global justru menghadapi tantangan yang lebih besar. Meningkatnya risiko geopolitik biasanya mendorong investor mengurangi eksposur terhadap aset berisiko seperti saham, terutama pada sektor yang sensitif terhadap kenaikan biaya energi, transportasi, dan manufaktur. Sentimen risk-off berpotensi menekan indeks saham utama apabila konflik berkembang menjadi lebih luas.

Di sisi lain, saham-saham sektor energi berpeluang memperoleh sentimen positif apabila harga minyak kembali mengalami kenaikan akibat kekhawatiran terhadap pasokan. Perusahaan minyak dan gas dapat menjadi salah satu sektor yang relatif lebih tangguh di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik, terutama jika gangguan distribusi energi benar-benar terjadi.

Secara keseluruhan, serangan Amerika Serikat terhadap fasilitas militer Iran menandai babak baru ketegangan di Timur Tengah yang berpotensi memengaruhi berbagai kelas aset keuangan global. Walaupun harga minyak sempat turun karena aktivitas pengiriman mulai pulih, risiko terhadap stabilitas pasokan energi dunia masih tetap tinggi. Selama konflik belum menunjukkan tanda-tanda mereda, investor diperkirakan akan terus mengutamakan strategi defensif dengan mencermati perkembangan geopolitik, pergerakan harga energi, serta respons pasar keuangan internasional.

Source: Newsmaker.id