Harga Minyak Tetap Tinggi, Ketidakpastian Selat Hormuz Tekan Pasar Global

Harga minyak mentah masih bertahan di level tinggi pada perdagangan Selasa, 11 Agustus 2026, di tengah kembali memudarnya harapan mengenai kesepakatan yang dapat membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz. Brent berada di sekitar US$87,70 per barel setelah melonjak sekitar 10% dalam empat sesi terakhir, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan di atas US$82 per barel.

Kenaikan harga minyak tersebut kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi global. Investor mulai memperhitungkan bahwa mahalnya energi dapat mempertahankan tekanan harga dalam perekonomian lebih lama. Kondisi ini menjadi tantangan bagi Federal Reserve (The Fed) karena ruang untuk melonggarkan kebijakan moneter dapat semakin terbatas apabila inflasi kembali menguat.

Selat Hormuz Masih Menjadi Penggerak Utama Harga Minyak

Ketidakpastian mengenai kondisi Selat Hormuz masih menjadi faktor utama yang menopang harga minyak mentah. Selat yang berada di antara Iran dan Oman tersebut merupakan jalur strategis bagi perdagangan energi global, sehingga gangguan berkepanjangan terhadap aktivitas pelayaran dapat meningkatkan risiko pasokan minyak dan mendorong harga lebih tinggi.

Sikap Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap Iran juga semakin tegas. Pernyataan dan tuntutan Washington membuat pasar kembali berhati-hati dalam menilai kemungkinan tercapainya kesepakatan yang dapat menjamin pembukaan penuh jalur pelayaran.

Sebelumnya, harapan terhadap tercapainya kesepakatan sempat memberikan tekanan terhadap harga minyak. Namun, ketidakjelasan mengenai implementasi dan keberlanjutan pembukaan Selat Hormuz membuat pelaku pasar kembali memasukkan premi risiko geopolitik ke dalam harga minyak.

Kondisi tersebut menjelaskan mengapa harga Brent mampu bertahan di dekat US$90 per barel meskipun pasar sebelumnya mengantisipasi adanya perkembangan positif terkait negosiasi. Apabila ketegangan kembali meningkat atau pembukaan jalur pelayaran tertunda, harga minyak berpotensi menghadapi tekanan naik lanjutan.

Lonjakan Harga Minyak Kembali Menghidupkan Kekhawatiran Inflasi

Kenaikan harga energi memiliki implikasi yang luas terhadap perekonomian. Minyak merupakan komponen penting dalam biaya transportasi, produksi, distribusi, hingga berbagai aktivitas industri. Ketika harga minyak naik secara signifikan, biaya tersebut dapat diteruskan kepada konsumen dalam bentuk kenaikan harga barang dan jasa.

Pasar obligasi Amerika Serikat mulai mencerminkan kekhawatiran tersebut. Imbal hasil US Treasury meningkat karena investor menilai bahwa kenaikan harga energi dapat membuat tekanan inflasi bertahan lebih lama.

Situasi ini menciptakan dilema bagi The Fed. Di satu sisi, data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang sebelumnya melemah menunjukkan adanya perlambatan ekonomi dan membuka ruang bagi pelonggaran kebijakan moneter. Namun, di sisi lain, kenaikan harga energi dapat menghambat penurunan inflasi.

Dengan demikian, arah kebijakan suku bunga The Fed tidak hanya akan bergantung pada kondisi pasar tenaga kerja, tetapi juga pada perkembangan harga minyak dan dampaknya terhadap inflasi.

Yen Jepang Kembali Tertekan, USD/JPY Mendekati 159

Pergerakan pasar valuta asing juga menjadi perhatian investor. Yen Jepang kembali melemah tajam setelah mengalami penguatan pada periode sebelumnya menyusul intervensi otoritas Jepang.

Pasangan USD/JPY bergerak menuju kisaran 159,14–159,17. Pelemahan tersebut membuat sebagian keuntungan yen yang diperoleh setelah intervensi sebelumnya kembali terhapus.

Pergerakan yen menjadi penting karena pelemahan mata uang Jepang yang terlalu cepat dapat meningkatkan biaya impor, terutama energi. Dengan harga minyak yang sedang tinggi, depresiasi yen berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap inflasi Jepang.

Pelaku pasar kini mengawasi apakah pemerintah Jepang dan Bank of Japan akan kembali mengambil langkah untuk meredam pelemahan yen apabila USD/JPY terus bergerak mendekati level psikologis 160.

CPI Amerika Serikat Menjadi Penentu Arah Pasar

Perhatian investor selanjutnya tertuju pada data Consumer Price Index (CPI) Amerika Serikat yang akan dirilis Rabu, 12 Agustus 2026. Data tersebut menjadi sangat penting karena pasar sedang menghadapi dua sinyal ekonomi yang berlawanan, yakni perlambatan pasar tenaga kerja dan meningkatnya risiko inflasi akibat energi.

Konsensus pasar memperkirakan inflasi CPI utama naik sekitar 0,1% secara bulanan, sementara inflasi inti diperkirakan meningkat sekitar 0,2%. Apabila realisasi CPI sesuai atau lebih rendah dari perkiraan, pasar dapat melihatnya sebagai bukti bahwa tekanan inflasi masih terkendali meskipun harga energi meningkat.

Kondisi tersebut berpotensi memperkuat ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan mendatang. Sebaliknya, apabila CPI menunjukkan kenaikan yang lebih tinggi dari perkiraan, investor dapat kembali memperhitungkan risiko kebijakan moneter yang lebih ketat.

Harga Minyak, CPI, dan Suku Bunga Menjadi Satu Rangkaian Risiko

Pasar saat ini menghadapi dilema yang semakin kompleks. Data Non-Farm Payrolls (NFP) yang sebelumnya lemah telah mengurangi ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga pada September. Namun, kenaikan harga minyak yang signifikan dapat mengubah kembali perhitungan tersebut apabila mulai memberikan dampak nyata terhadap inflasi konsumen.

Jika CPI Amerika Serikat melandai, sementara pasar tenaga kerja tetap menunjukkan pelemahan, tekanan terhadap The Fed untuk mempertahankan atau bahkan melonggarkan kebijakan moneter dapat meningkat. Dalam skenario tersebut, dolar AS berpotensi kehilangan momentum, sementara emas dan saham dapat memperoleh dukungan.

Sebaliknya, apabila CPI lebih tinggi dari perkiraan dan harga Brent semakin mendekati US$90 per barel, pasar dapat kembali mengantisipasi bahwa The Fed perlu mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama. Dolar AS berpotensi menguat, imbal hasil obligasi meningkat, sementara aset berisiko seperti saham dapat menghadapi tekanan.

Prospek Emas Ikut Ditentukan Oleh Perkembangan Minyak dan The Fed

Pergerakan emas juga berada dalam persimpangan penting. Emas secara tradisional memperoleh dukungan ketika suku bunga dan imbal hasil obligasi turun karena biaya peluang memegang aset tanpa imbal hasil menjadi lebih rendah.

Apabila data CPI Amerika Serikat menunjukkan inflasi yang lebih jinak, sementara pasar tenaga kerja terus melemah, ekspektasi terhadap pelonggaran kebijakan The Fed dapat kembali meningkat. Kondisi tersebut berpotensi menjadi katalis positif bagi harga emas.

Namun, skenario berbeda dapat terjadi apabila inflasi kembali memanas. Kombinasi antara CPI yang tinggi dan harga minyak Brent yang mendekati US$90 dapat mendorong kenaikan imbal hasil obligasi serta dolar AS. Kedua faktor tersebut berpotensi membatasi kenaikan harga emas dalam jangka pendek.

Pasar Global Menghadapi Dilema Baru

Pergerakan pasar pada 11 Agustus menunjukkan bahwa risiko geopolitik, harga energi, inflasi, suku bunga, dan nilai tukar kini saling berkaitan erat. Selat Hormuz menjadi sumber ketidakpastian utama bagi pasar minyak, sementara data CPI Amerika Serikat akan menentukan bagaimana investor menilai respons The Fed terhadap kombinasi antara inflasi dan pelemahan tenaga kerja.

Selama ketidakpastian mengenai pembukaan penuh Selat Hormuz belum terselesaikan, harga minyak berpotensi tetap memperoleh premi risiko geopolitik. Brent yang bertahan di sekitar US$87,70 per barel menunjukkan bahwa pasar belum sepenuhnya percaya bahwa gangguan pasokan energi akan segera berakhir.

Investor kini menghadapi dua kemungkinan utama. CPI yang melandai dapat membuka ruang bagi emas dan saham untuk menguat, sedangkan CPI yang lebih panas ditambah lonjakan harga minyak dapat memperkuat dolar AS dan menekan aset berisiko.

Dengan demikian, data CPI Amerika Serikat pada 12 Agustus akan menjadi salah satu katalis terpenting bagi pasar global, terutama karena hasilnya akan menentukan apakah kekhawatiran pasar lebih berat pada perlambatan ekonomi atau kembali bergeser kepada risiko inflasi.

Source: Newsmaker.id