Bank of Japan (BOJ) menjadi perhatian utama pasar valuta asing pada Jumat (18/9), dengan ekspektasi kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 1,25%. Jika terealisasi, suku bunga tersebut akan mencapai level tertinggi dalam 31 tahun dan menjadi langkah penting dalam proses normalisasi kebijakan moneter Jepang. BOJ sendiri menjadwalkan pertemuan kebijakan pada 17–18 September, dengan pernyataan kebijakan moneter dijadwalkan keluar pada 18 September.
Kenaikan tersebut telah banyak diperhitungkan oleh pelaku pasar. Reuters melaporkan bahwa mayoritas ekonom yang disurvei memperkirakan BOJ menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin ke 1,25%. Dengan ekspektasi kenaikan yang sudah tercermin dalam harga aset, fokus pasar tidak lagi hanya tertuju pada keputusan suku bunga, tetapi juga pada bagaimana Gubernur BOJ Kazuo Ueda menjelaskan arah kebijakan setelah September.
Inflasi dan Pelemahan Yen Jadi Perhatian BOJ
Tekanan inflasi menjadi salah satu faktor penting yang mendorong proses normalisasi kebijakan moneter Jepang. Inflasi yang bertahan di sekitar target BOJ, ditambah perkembangan upah dan kondisi ekonomi domestik, memberikan ruang bagi bank sentral untuk mengurangi stimulus secara bertahap.
Pelemahan yen juga menjadi faktor yang tidak dapat diabaikan. Yen yang lebih lemah membuat barang dan energi impor menjadi lebih mahal, sehingga berpotensi memperbesar tekanan harga domestik. Reuters mencatat bahwa BOJ menghadapi risiko inflasi yang semakin tinggi akibat kombinasi pelemahan yen dan kenaikan harga minyak.
Situasi tersebut membuat kebijakan BOJ berada pada posisi yang cukup kompleks. Bank sentral perlu memastikan tekanan harga tidak berkembang menjadi inflasi yang lebih persisten, tetapi pada saat yang sama harus mempertimbangkan dampak kenaikan suku bunga terhadap konsumsi, investasi, pasar obligasi, serta pertumbuhan ekonomi Jepang.
Harga Minyak Menambah Risiko Inflasi Jepang
Tekanan terhadap inflasi Jepang juga datang dari pasar energi global. Konflik geopolitik di Timur Tengah telah meningkatkan kekhawatiran terhadap kelancaran pasokan minyak dan jalur perdagangan energi. Gangguan terhadap pelayaran melalui Selat Hormuz maupun risiko terhadap jalur alternatif dapat meningkatkan biaya energi global.
Bagi Jepang, persoalan tersebut menjadi semakin penting karena negara tersebut sangat bergantung pada impor energi. Kenaikan harga minyak dapat meningkatkan biaya transportasi dan produksi perusahaan sekaligus menambah beban pengeluaran rumah tangga. Kondisi ini berpotensi membuat inflasi tetap tinggi meskipun permintaan domestik tidak mengalami peningkatan yang sama kuat.
Reuters sebelumnya mencatat bahwa BOJ telah memperhatikan risiko inflasi yang berasal dari konflik global dan pelemahan yen. Lonjakan harga energi dapat membuat proses pengendalian inflasi menjadi lebih sulit sekaligus memengaruhi perhitungan bank sentral terhadap waktu kenaikan suku bunga berikutnya.
Selisih Suku Bunga AS-Jepang Masih Menjadi Faktor Penting
Pergerakan yen juga tidak hanya ditentukan oleh kebijakan BOJ. Selisih suku bunga antara Jepang dan Amerika Serikat tetap menjadi faktor utama dalam menentukan daya tarik masing-masing mata uang.
Ketika suku bunga AS berada jauh di atas Jepang, aset berbasis dolar cenderung menawarkan imbal hasil yang lebih tinggi. Kondisi tersebut dapat mempertahankan permintaan terhadap dolar dan memberikan tekanan terhadap yen. Bahkan jika BOJ menaikkan suku bunga menjadi 1,25%, pasar masih akan melihat bagaimana kebijakan Federal Reserve berkembang dan apakah selisih imbal hasil kedua negara akan menyempit atau justru kembali melebar.
Perkembangan kebijakan AS menjadi semakin relevan setelah Federal Reserve mengambil langkah yang lebih ketat dan pasar memperkirakan jalur suku bunga AS dapat tetap tinggi. Reuters melaporkan bahwa yen kembali berada di sekitar 156 per dolar pada Kamis (17/9), setelah sebelumnya menguat hingga sekitar 152,89 per dolar.
Sorotan Beralih ke Pernyataan Kazuo Ueda
Dengan kenaikan 25 basis poin yang sudah banyak diantisipasi, konferensi pers Kazuo Ueda akan menjadi bagian yang sangat penting bagi pasar. Investor akan mencari petunjuk mengenai seberapa cepat BOJ bersedia melanjutkan kenaikan suku bunga setelah September.
Pertanyaan utamanya adalah apakah BOJ akan memberikan sinyal bahwa kenaikan berikutnya dapat dilakukan dalam waktu relatif dekat atau tetap mengambil pendekatan bertahap berdasarkan perkembangan inflasi dan kondisi ekonomi. Reuters sebelumnya melaporkan bahwa pasar memperkirakan suku bunga Jepang dapat mencapai 1,75% pada kuartal II 2027, meskipun jalur tersebut masih bergantung pada data ekonomi dan keputusan kebijakan selanjutnya.
Ueda juga perlu menjaga komunikasi agar tidak menimbulkan volatilitas berlebihan di pasar obligasi maupun valuta asing. Sinyal yang terlalu hawkish dapat mendorong ekspektasi kenaikan suku bunga lebih cepat dan berpotensi memperkuat yen, sedangkan komunikasi yang lebih hati-hati dapat membuat pasar mempertanyakan seberapa jauh proses normalisasi BOJ akan berlangsung.
Yen Menghadapi Ujian Baru
Pergerakan yen menjelang keputusan BOJ menunjukkan bahwa pasar sudah lebih dahulu mengantisipasi perubahan kebijakan. Yen sebelumnya menguat hingga level 152,89 per dolar, tetapi kemudian melemah kembali setelah ekspektasi mengenai agresivitas BOJ mulai berkurang. Pemerintah Jepang juga kembali menegaskan perhatian terhadap pergerakan yen yang berlebihan dan pentingnya menjaga stabilitas pasar valuta asing.
Karena itu, kenaikan suku bunga 25 basis poin sendiri belum tentu menjadi satu-satunya penentu arah USD/JPY. Reaksi yen akan sangat bergantung pada kombinasi keputusan BOJ, pernyataan Ueda, prospek kenaikan suku bunga berikutnya, pergerakan imbal hasil Treasury AS, serta perkembangan harga energi global.
Jika BOJ memberikan sinyal bahwa normalisasi moneter akan berlanjut secara bertahap, pasar dapat kembali memperhitungkan penyempitan selisih suku bunga Jepang dan AS. Sebaliknya, apabila Ueda menekankan pendekatan yang sangat bergantung pada data dan tidak memberikan petunjuk mengenai kenaikan berikutnya, perhatian pasar dapat kembali tertuju pada selisih imbal hasil dan faktor eksternal yang selama ini menekan yen.
Dengan demikian, pertemuan BOJ September bukan hanya mengenai apakah suku bunga Jepang naik menjadi 1,25%. Bagi pasar valuta asing, pertanyaan yang lebih penting adalah seberapa jauh BOJ siap melangkah setelah kenaikan tersebut. Jawaban dari Ueda akan menjadi salah satu katalis utama bagi pergerakan yen dan USD/JPY dalam periode berikutnya.
