Bitcoin kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan Selasa setelah sempat mencatat rebound singkat dari level terendah 10 bulan. Hingga pertengahan hari di Singapura, BTC bergerak di kisaran USD 78.500, mencerminkan kondisi pasar yang terlihat siap naik namun masih diliputi keraguan. Pergerakan ini menegaskan bahwa reli jangka pendek belum cukup kuat untuk mengubah sentimen pasar secara menyeluruh.
Sehari sebelumnya, sentimen bearish hampir menyeret Bitcoin ke level terendah sejak Donald Trump kembali ke Gedung Putih lebih dari setahun lalu. Harga BTC sempat menyentuh USD 74.541 sebelum memantul, namun pemulihan tersebut dinilai belum meyakinkan. Tekanan jual yang masih dominan membuat pasar kripto tetap berada dalam fase rentan, dengan pelaku pasar menunggu konfirmasi arah yang lebih jelas.
Dari sisi pasar opsi, ketegangan memang mulai mereda seiring menurunnya minat pada put option. Meski demikian, kondisi belum sepenuhnya kondusif. Data Deribit menunjukkan konsentrasi put terbesar berada di level USD 75.000, menjadikan area ini sebagai support kunci jangka pendek. Jika level tersebut ditembus, perhatian pasar akan bergeser ke support berikutnya di sekitar USD 70.000.
FalconX menilai pasar opsi mulai terlihat lebih “stabil” karena kekhawatiran ekstrem perlahan mereda. Namun, risiko tetap membayangi. Penutupan mingguan di bawah USD 75.000 berpotensi menggugurkan rebound yang sedang berlangsung dan membuka peluang penurunan lanjutan menuju zona USD 69.000–USD 70.000. Skenario ini menjadi perhatian utama bagi trader dan investor institusional.
Sempat muncul sinyal positif di awal sesi Asia ketika Bitcoin naik 0,83% dan menembus USD 79.100, sebelum kembali melemah. Volatilitas tersirat masih tinggi di kisaran 48,8 berdasarkan data TradingView, menandakan pasar tetap sensitif terhadap guncangan. STS Digital menyebut efek “Turnaround Tuesday” mulai terasa, di mana aksi jual agresif aset berisiko sebelumnya memicu pantulan dari level rendah. Namun, kondisi ini belum cukup untuk dikategorikan sebagai pembalikan tren, melainkan sekadar rebound teknikal di tengah tekanan yang masih kuat.
Source: Newsmaker.id
