Saham Asia Melemah Ikuti Wall Street: Kekhawatiran Perang Iran dan Lonjakan Harga Minyak Tekan Pasar Global

Pasar saham Asia dibuka melemah pada perdagangan Jumat pagi setelah mengikuti penurunan tajam di Wall Street. Sentimen investor global saat ini sangat dipengaruhi oleh kenaikan harga minyak serta meningkatnya ketegangan geopolitik yang berpotensi memperburuk inflasi global. Kekhawatiran bahwa konflik yang melibatkan Iran dapat mengganggu pasokan energi dunia membuat pelaku pasar menjadi lebih berhati-hati dalam mengambil risiko.

Indeks saham utama di Asia tercatat turun sekitar 0,5% pada awal sesi perdagangan. Penurunan ini terjadi setelah indeks S&P 500 di Amerika Serikat jatuh 1,5% hingga menyentuh level terendah sejak November. Sementara itu, indeks Nasdaq 100 juga mengalami pelemahan sebesar 1,7%, dengan saham-saham teknologi berkapitalisasi besar mendekati ambang “koreksi” pasar. Meski demikian, kontrak berjangka indeks saham AS sempat dibuka lebih tinggi, memberikan harapan adanya jeda sementara dalam tekanan pasar.

Faktor utama yang membebani sentimen investor adalah lonjakan risiko energi akibat ketegangan di Timur Tengah. Harga minyak sempat mencatat penutupan tertinggi sejak Agustus 2022 sebelum mengalami sedikit koreksi pada Jumat. Namun, premi risiko energi masih tetap tinggi karena pasar khawatir gangguan pasokan akan berlangsung lebih lama dari perkiraan.

Ketegangan meningkat setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan pemimpin tertinggi baru Iran sama-sama menunjukkan sikap tegas terkait konflik yang sedang berlangsung. Iran bahkan menegaskan bahwa Selat Hormuz seharusnya tetap ditutup dalam kondisi konflik saat ini. Selat Hormuz sendiri merupakan jalur strategis bagi pengiriman minyak global, sehingga setiap gangguan di wilayah tersebut berpotensi memicu lonjakan harga energi dunia.

Menurut Chris Weston dari Pepperstone, pasar kini mulai memperpanjang ekspektasi mengenai durasi penutupan Selat Hormuz serta kemungkinan konflik yang lebih luas. Situasi ini dinilai berisiko memperburuk prospek inflasi global sekaligus menekan pola konsumsi masyarakat. Jika inflasi meningkat sementara daya beli melemah, maka laba perusahaan juga berpotensi mengalami tekanan yang signifikan.

Kekhawatiran terhadap inflasi juga mulai merambat ke pasar obligasi dan ekspektasi kebijakan moneter. Imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat atau Treasury sempat stabil pada Jumat pagi setelah mengalami pelemahan pada sesi sebelumnya. Yield obligasi tenor pendek justru naik ke level tertinggi sejak Agustus. Yield Treasury 2 tahun melonjak sembilan basis poin menjadi 3,74%, sedangkan yield obligasi 10 tahun naik tiga basis poin ke level 4,26%.

Pergerakan ini menunjukkan bahwa pelaku pasar mulai mengurangi ekspektasi terhadap pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve. Bahkan beberapa investor disebut telah menghapus perkiraan pemotongan suku bunga pada tahun 2026. Kondisi finansial yang lebih ketat biasanya memberikan tekanan terhadap valuasi saham, terutama pada sektor teknologi dan perusahaan dengan pertumbuhan tinggi.

Di pasar valuta asing, dolar AS sempat menguat hingga mendekati level tertinggi dalam dua bulan sebelum akhirnya sedikit melemah pada Jumat. Investor saat ini menunggu rilis data inflasi terbaru Amerika Serikat. Meski demikian, sebagian analis menilai bahwa data inflasi tersebut mungkin tidak akan banyak mengubah pandangan pasar karena ketidakpastian geopolitik masih menjadi faktor dominan.

Bank sentral Amerika Serikat diperkirakan akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan kebijakan berikutnya. Oleh karena itu, perhatian pasar akan tertuju pada bahasa pernyataan resmi The Fed serta proyeksi ekonomi para pejabatnya. Stephen Brown dari Capital Economics menilai bahwa skenario paling hawkish adalah jika bank sentral menghapus bias pelonggaran dari pernyataan kebijakan dan proyeksi median berubah dari satu kali pemotongan suku bunga tahun ini menjadi tidak ada perubahan.

Di sektor energi, risiko kenaikan harga minyak semakin menjadi perhatian utama. Goldman Sachs memperingatkan bahwa harga minyak berpotensi melampaui rekor tertinggi tahun 2008 apabila aliran minyak melalui Selat Hormuz tetap terhambat hingga Maret. Badan Energi Internasional (IEA) juga menyebut bahwa konflik yang melibatkan Iran telah memicu gejolak “belum pernah terjadi sebelumnya” di pasar minyak global.

Gangguan tersebut diperkirakan berdampak pada sekitar 7,5% pasokan minyak dunia serta sebagian besar ekspor energi dari kawasan Timur Tengah. Kondisi ini memperbesar risiko lonjakan harga energi yang dapat mempercepat inflasi global.

Pemerintah Amerika Serikat dilaporkan sedang mempertimbangkan langkah darurat untuk menahan kenaikan harga energi. Salah satu kebijakan yang dipertimbangkan adalah penangguhan sementara aturan maritim berusia lebih dari satu abad yang mewajibkan kapal berbendera Amerika digunakan untuk transportasi antar pelabuhan domestik. Kebijakan ini diharapkan dapat mempercepat distribusi energi dan menekan lonjakan harga.

Selain itu, Menteri Energi AS Chris Wright menyatakan bahwa Angkatan Laut Amerika Serikat mungkin akan mulai mengawal kapal tanker minyak yang melintasi Selat Hormuz sebelum akhir Maret. Langkah tersebut bertujuan untuk memastikan keamanan jalur distribusi energi global dan mengurangi risiko gangguan pasokan.

Ke depan, pasar global akan sangat memperhatikan beberapa faktor utama yang dapat menentukan arah pergerakan aset berisiko. Di antaranya adalah perkembangan harga minyak, situasi geopolitik di Selat Hormuz, respons pasar obligasi terhadap risiko inflasi, rilis data inflasi Amerika Serikat, serta sinyal kebijakan dari Federal Reserve pada pertemuan mendatang.

Selain itu, kinerja saham teknologi berkapitalisasi besar juga menjadi indikator penting bagi selera risiko investor global. Jika tekanan terhadap saham-saham tersebut terus berlanjut, hal ini dapat menjadi sinyal bahwa pasar keuangan dunia sedang memasuki fase kehati-hatian yang lebih dalam.

Source: Newsmaker.id