Harga Minyak Melonjak Tajam di Tengah Ketegangan Selat Hormuz dan Ultimatum AS ke Iran

Harga minyak dunia kembali mengalami lonjakan signifikan seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah, khususnya terkait akses di Selat Hormuz. Jalur pelayaran vital ini menjadi pusat perhatian pasar energi global setelah Amerika Serikat mengeluarkan ultimatum keras kepada Iran untuk segera membuka kembali akses penuh bagi kapal-kapal internasional.

Pada perdagangan Asia, harga minyak mentah Brent untuk pengiriman Juni naik sekitar 1,3% ke level US$110,44 per barel. Sementara itu, minyak mentah WTI untuk pengiriman Mei melonjak 1,4% ke posisi US$113,12 per barel. Kenaikan ini mencerminkan meningkatnya premi risiko geopolitik yang kembali mendominasi dinamika pasar energi global.

Ketegangan meningkat setelah Presiden AS, Donald Trump, menyampaikan pernyataan tegas melalui media sosial yang mengancam akan menyerang fasilitas listrik dan infrastruktur sipil Iran jika akses di Selat Hormuz tidak segera dibuka. Respons Iran pun tidak kalah keras, dengan menolak tuntutan tersebut dan tetap memberlakukan pembatasan ketat terhadap lalu lintas kapal di kawasan tersebut.

Selat Hormuz sendiri merupakan jalur strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan pasar global, terutama Asia. Gangguan sekecil apa pun di wilayah ini dapat berdampak besar terhadap pasokan minyak dunia. Dalam beberapa hari terakhir, hanya segelintir kapal yang diizinkan melintas, termasuk kapal kontainer asal Prancis, tanker Jepang, serta beberapa kapal dari Malaysia dan Pakistan.

Di sisi lain, Iran menyatakan bahwa Irak akan dikecualikan dari pembatasan di Selat Hormuz, yang berpotensi membantu menjaga aliran ekspor minyak. Namun, pejabat Irak menegaskan bahwa realisasi pengiriman tetap bergantung pada keberanian perusahaan pelayaran untuk menghadapi risiko tinggi di wilayah tersebut.

Upaya diplomatik pun terus dilakukan untuk meredakan ketegangan. Kementerian Luar Negeri Oman mengungkapkan telah berdiskusi dengan Iran guna memastikan kelancaran arus pelayaran di Selat Hormuz. Meski demikian, berbagai opsi yang diajukan masih dalam tahap peninjauan.

Situasi semakin kompleks dengan laporan serangkaian serangan militer selama akhir pekan. Israel mengklaim telah menyerang puluhan target di Iran, sementara laporan lain menyebutkan adanya serangan terhadap kantor pusat Kuwait Petroleum Corp. Selain itu, operasi militer AS juga tengah berlangsung untuk mengevakuasi awak jet tempur yang dilaporkan hilang setelah pesawatnya ditembak jatuh di wilayah Iran.

Kondisi ini memperkuat kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global dalam jangka pendek hingga menengah. Ketidakpastian yang tinggi membuat investor cenderung mengamankan posisi mereka di komoditas minyak, sehingga mendorong harga terus naik.

Dengan situasi geopolitik yang masih memanas, Selat Hormuz tetap menjadi titik krusial yang akan menentukan arah harga minyak dunia. Jika ketegangan terus berlanjut tanpa solusi diplomatik yang jelas, bukan tidak mungkin harga minyak akan menembus level yang lebih tinggi dalam waktu dekat.

Source: Newsmaker.id