Harga Emas Naik Tipis di Tengah Pelemahan Dolar AS, Namun Kenaikan Yield Batasi Penguatan

Harga emas dunia mencatat kenaikan tipis pada perdagangan Senin, 18 Mei, didukung oleh pelemahan dolar Amerika Serikat yang membuat logam mulia lebih murah bagi pembeli non-USD. Meski demikian, penguatan emas masih tertahan oleh kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS serta tingginya harga minyak yang terus memicu kekhawatiran inflasi global dan potensi kebijakan moneter ketat berkepanjangan.

Harga spot gold naik sekitar 0,2% menjadi US$4.548,14 per ounce pada perdagangan siang waktu Amerika Serikat, setelah sebelumnya sempat menyentuh level terendah sejak 30 Maret. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Juni ditutup melemah tipis 0,1% di level US$4.558 per ounce.

Pelemahan indeks dolar AS sekitar 0,3% terhadap sekeranjang mata uang utama menjadi faktor utama yang menopang harga emas dalam jangka pendek. Ketika dolar melemah, emas menjadi lebih menarik bagi investor internasional karena harga pembeliannya menjadi relatif lebih murah. Namun, para analis menilai dukungan tersebut masih belum cukup kuat untuk mendorong reli emas yang lebih besar.

Tekanan utama bagi emas datang dari kenaikan yield obligasi pemerintah AS, terutama tenor 10 tahun yang mencapai level tertinggi sejak Februari 2025. Kondisi ini meningkatkan opportunity cost dalam memegang emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil bunga seperti obligasi. Semakin tinggi yield, semakin besar kecenderungan investor mengalihkan dana dari aset safe haven seperti emas ke instrumen berbunga.

Pasar obligasi global sendiri terus mengalami tekanan akibat meningkatnya kekhawatiran inflasi yang dipicu lonjakan harga energi. Konflik geopolitik di Timur Tengah, khususnya perang Iran, menjadi pendorong utama kenaikan harga minyak dunia. Situasi tersebut memperkuat narasi “higher interest rates for longer”, di mana bank sentral diperkirakan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama demi mengendalikan inflasi.

Di pasar energi, harga minyak mentah melonjak sekitar 2% dan menyentuh level tertinggi dalam dua minggu terakhir akibat kekhawatiran terganggunya pasokan global. Meskipun sempat melemah setelah muncul laporan media Iran mengenai kemungkinan pengecualian sanksi AS terhadap minyak Iran, sentimen pasar tetap didominasi risiko geopolitik dan ancaman gangguan distribusi energi global.

Sejak perang AS-Israel melawan Iran dimulai pada 28 Februari lalu, harga Brent tercatat telah naik sekitar 55%. Sebaliknya, harga emas spot justru turun sekitar 13,8% pada periode yang sama. Pergerakan ini menunjukkan bahwa pasar saat ini lebih fokus pada dampak inflasi dan kenaikan yield dibanding fungsi tradisional emas sebagai aset lindung nilai saat ketidakpastian geopolitik meningkat.

Sejumlah lembaga keuangan global juga mulai menurunkan proyeksi harga emas untuk jangka pendek hingga menengah akibat melemahnya permintaan investor. J.P. Morgan memangkas proyeksi rata-rata harga emas tahun 2026 menjadi US$5.243 per ounce dari sebelumnya US$5.708 per ounce. Langkah ini mencerminkan pandangan bahwa momentum bullish emas mulai kehilangan tenaga di tengah tingginya suku bunga global.

Pelaku pasar kini memantau secara ketat arah pergerakan yield Treasury AS, dinamika dolar, perkembangan harga minyak, serta eskalasi konflik Iran. Faktor-faktor tersebut akan menjadi penentu utama apakah tekanan inflasi dan ekspektasi kebijakan moneter ketat masih akan membatasi pemulihan harga emas dalam waktu dekat.

Dalam jangka pendek, pasar emas diperkirakan akan tetap bergerak volatil. Jika dolar AS kembali melemah dan ketegangan geopolitik meningkat lebih jauh, emas berpotensi mendapatkan kembali daya tariknya sebagai safe haven. Namun selama yield obligasi tetap tinggi dan pasar masih memperkirakan suku bunga tinggi bertahan lebih lama, ruang kenaikan emas diperkirakan tetap terbatas.

Source: Newsmaker.id