Morgan Stanley Pangkas Proyeksi Harga Minyak, Brent Diprediksi Turun ke US$70 per Barel

Morgan Stanley memangkas proyeksi harga minyak dunia setelah arus pengiriman melalui Selat Hormuz pulih lebih cepat dari perkiraan. Selain itu, tingginya produksi minyak Amerika Serikat serta lemahnya permintaan dari China dinilai meningkatkan risiko kelebihan pasokan (oversupply) di pasar energi global dalam beberapa kuartal mendatang.

Dalam laporan terbarunya, Morgan Stanley menurunkan proyeksi harga minyak Dated Brent untuk kuartal ketiga 2026 sebesar US$15, sehingga target harga kini berada di level US$75 per barel. Tidak hanya itu, bank investasi global tersebut juga memperkirakan harga minyak berpotensi kembali melemah hingga US$70 per barel pada kuartal ketiga tahun depan, seiring membaiknya pasokan dan masih terbatasnya pertumbuhan permintaan global.

Pemulihan Selat Hormuz Redakan Kekhawatiran Pasokan

Salah satu alasan utama di balik revisi proyeksi tersebut adalah pulihnya aktivitas ekspor minyak melalui Selat Hormuz, jalur pelayaran paling strategis bagi perdagangan minyak dunia. Sebelumnya, pasar sempat mengkhawatirkan terganggunya distribusi minyak akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Menurut analis Morgan Stanley, ekspor minyak melalui Selat Hormuz kembali berjalan lebih cepat dari yang diperkirakan. Hal ini menunjukkan bahwa gangguan distribusi bersifat sementara dan tidak memberikan dampak berkepanjangan terhadap pasokan energi global.

Morgan Stanley juga menyoroti dua faktor utama yang selama beberapa bulan terakhir membantu menjaga stabilitas pasar minyak, yaitu tingginya ekspor minyak mentah dari Amerika Serikat dan masih lemahnya impor minyak oleh China. Kombinasi kedua faktor tersebut membuat keseimbangan pasar bergeser ke arah pasokan yang lebih melimpah.

Produksi Minyak AS Tetap Tinggi, Permintaan China Belum Pulih

Amerika Serikat terus mempertahankan produksi minyak pada level yang tinggi, sehingga menjadi salah satu pemasok utama di pasar internasional. Ketersediaan pasokan yang besar memberikan bantalan terhadap potensi gangguan distribusi dari kawasan Timur Tengah.

Di sisi lain, permintaan minyak dari China masih menunjukkan tren yang relatif lemah. Sebagai konsumen minyak terbesar kedua di dunia, perlambatan aktivitas ekonomi dan konsumsi energi di China memberikan tekanan terhadap prospek permintaan minyak global.

Kondisi tersebut meningkatkan kemungkinan terjadinya surplus pasokan apabila produksi dari negara-negara eksportir tetap tinggi sementara konsumsi belum mampu mengimbanginya. Situasi ini menjadi salah satu faktor yang mendorong Morgan Stanley mengambil pandangan lebih konservatif terhadap prospek harga minyak.

Aktivitas Kapal Tanker Mulai Kembali Normal

Meskipun sempat terjadi perlambatan lalu lintas kapal selama akhir pekan setelah dua kapal menjadi sasaran serangan, sejumlah indikator menunjukkan aktivitas pelayaran di Selat Hormuz mulai kembali normal.

Perusahaan pelayaran dan operator kapal tanker dinilai masih bersedia melintasi jalur tersebut karena risiko gangguan dinilai semakin terkendali. Kepercayaan pelaku industri terhadap keamanan jalur pelayaran menjadi faktor penting dalam memastikan kelancaran distribusi minyak dari kawasan Teluk Persia menuju pasar internasional.

Morgan Stanley mencatat sebanyak 35 kapal tanker minyak dan gas keluar dari Teluk Persia melalui Selat Hormuz pada hari Kamis. Jumlah tersebut telah kembali mendekati rata-rata normal sebelum konflik mulai meningkat pada Februari lalu.

Pemulihan arus pelayaran ini memberikan sinyal bahwa kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan mulai mereda, sehingga premi risiko geopolitik yang sebelumnya menopang harga minyak ikut berkurang.

Harga Brent Kehilangan Momentum Kenaikan

Harga minyak Brent sempat melonjak tajam hingga menembus US$126 per barel pada April akibat meningkatnya ketegangan geopolitik dan kekhawatiran terhadap terganggunya pasokan global. Namun, seiring pulihnya distribusi minyak dan membaiknya kondisi pengiriman melalui Selat Hormuz, sebagian besar kenaikan tersebut kini telah terkoreksi.

Kontrak Brent untuk pengiriman September ditutup pada level US$73,91 per barel pada perdagangan Senin, mencerminkan meredanya tekanan terhadap pasokan global. Pergerakan ini memperkuat pandangan bahwa pasar mulai kembali fokus pada fundamental, terutama keseimbangan antara produksi dan permintaan.

Prospek Harga Minyak Masih Berpotensi Tertekan

Ke depan, Morgan Stanley menilai pasar minyak masih menghadapi tekanan dari kombinasi tingginya produksi Amerika Serikat, lemahnya permintaan China, serta pulihnya distribusi melalui Selat Hormuz. Selama tidak terjadi gangguan pasokan berskala besar atau lonjakan permintaan yang signifikan, harga minyak diperkirakan akan bergerak dalam tren yang lebih moderat.

Dengan risiko kelebihan pasokan yang semakin meningkat, proyeksi harga Brent di kisaran US$70–75 per barel menjadi skenario dasar Morgan Stanley untuk periode mendatang. Kondisi ini menunjukkan bahwa faktor fundamental kembali menjadi penentu utama arah pergerakan harga minyak global setelah sebelumnya didominasi oleh sentimen geopolitik.

Source: newsmaker.id