Harga emas kembali berada dalam tekanan setelah dua sentimen besar kembali membayangi pasar global, yakni meningkatnya ketegangan geopolitik di Selat Hormuz dan menguatnya ekspektasi kenaikan suku bunga oleh bank sentral Amerika Serikat (The Fed). Kombinasi kedua faktor tersebut membuat logam mulia kehilangan daya tarik sebagai aset lindung nilai, bahkan sempat jatuh di bawah level psikologis US$4.000 per troy ounce setelah merosot hampir 3% pada perdagangan Senin. Penurunan tersebut menjadi yang terbesar dalam lebih dari dua pekan terakhir dan mencerminkan perubahan sentimen investor terhadap prospek pasar emas.
Tekanan utama berasal dari keputusan pemerintah Amerika Serikat yang kembali memberlakukan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Di saat yang sama, Presiden Donald Trump juga menuntut kompensasi sebesar 20% atas setiap kargo yang melintasi Selat Hormuz. Kebijakan tersebut muncul di tengah berlanjutnya operasi militer Amerika Serikat terhadap Iran yang telah memasuki malam ketiga secara berturut-turut. Langkah ini meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah, khususnya jalur perdagangan energi paling penting di dunia.
Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang menjadi lintasan sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Ketika ketegangan meningkat dan ancaman terhadap kelancaran distribusi energi semakin besar, pelaku pasar langsung mengantisipasi potensi gangguan pasokan minyak global. Akibatnya, harga minyak kembali mengalami penguatan seiring meningkatnya premi risiko geopolitik yang dibebankan oleh investor.
Bagi pasar emas, kenaikan harga minyak membawa konsekuensi yang jauh lebih kompleks daripada sekadar meningkatnya ketidakpastian geopolitik. Lonjakan harga energi berpotensi mendorong inflasi kembali naik karena biaya produksi, transportasi, dan distribusi berbagai sektor ekonomi ikut meningkat. Kondisi tersebut membuat upaya bank sentral Amerika Serikat untuk mengendalikan inflasi menjadi semakin sulit, sehingga peluang penurunan suku bunga dalam waktu dekat semakin kecil.
Di sisi lain, tekanan terhadap emas semakin bertambah setelah Gubernur The Fed Christopher Waller menyampaikan bahwa bank sentral kemungkinan perlu kembali menaikkan suku bunga dalam waktu dekat apabila tekanan inflasi terus meningkat. Pernyataan tersebut langsung mengubah ekspektasi pasar keuangan. Pelaku pasar swap kini memperkirakan probabilitas kenaikan suku bunga pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) bulan Juli meningkat hingga sekitar 43%.
Ekspektasi kenaikan suku bunga menjadi sentimen negatif bagi emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil atau bunga kepada pemegangnya. Ketika suku bunga meningkat, instrumen berbasis pendapatan tetap seperti obligasi pemerintah menjadi lebih menarik sehingga sebagian dana investasi berpotensi keluar dari pasar emas. Selain itu, kenaikan suku bunga biasanya turut memperkuat nilai tukar dolar Amerika Serikat, yang pada akhirnya membuat harga emas menjadi lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lain.
Kondisi tersebut menciptakan tekanan ganda bagi emas. Di satu sisi, konflik geopolitik memang biasanya meningkatkan permintaan terhadap aset safe haven. Namun di sisi lain, apabila konflik tersebut justru memicu kenaikan harga minyak dan memperkuat ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat, maka dampak negatif terhadap emas dapat menjadi lebih dominan. Situasi inilah yang sedang terjadi di pasar saat ini, sehingga harga emas kesulitan mempertahankan momentum penguatannya.
Fokus investor kini tertuju pada dua agenda penting dari Amerika Serikat yang diperkirakan akan menentukan arah pergerakan emas dalam jangka pendek. Pertama adalah rilis data inflasi konsumen atau Consumer Price Index (CPI) bulan Juni. Apabila angka inflasi menunjukkan kenaikan di atas ekspektasi pasar, maka peluang The Fed untuk menaikkan suku bunga akan semakin besar. Sebaliknya, apabila inflasi mulai melandai, tekanan terhadap emas berpotensi berkurang karena ekspektasi kebijakan moneter dapat menjadi lebih longgar.
Agenda kedua yang tidak kalah penting adalah kesaksian perdana Ketua The Fed Kevin Warsh di hadapan Kongres Amerika Serikat. Pernyataan Warsh akan menjadi perhatian utama investor global untuk mencari petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga pada beberapa bulan mendatang. Jika Warsh menyampaikan pandangan yang cenderung hawkish atau menegaskan komitmen menjaga suku bunga tinggi demi menekan inflasi, maka tekanan terhadap harga emas berpotensi kembali meningkat.
Pada sesi perdagangan Asia, harga emas spot tercatat turun sekitar 0,6% menjadi US$3.983,63 per troy ounce. Penurunan ini memperlihatkan bahwa pelaku pasar masih memilih berhati-hati sambil menunggu kepastian mengenai arah kebijakan moneter Amerika Serikat dan perkembangan konflik di Timur Tengah.
Tidak hanya emas, logam mulia lainnya juga menunjukkan pergerakan yang bervariasi. Harga perak melemah sekitar 0,3% menjadi US$57,50 per ounce. Platinum juga mengalami penurunan tipis, sedangkan palladium justru mampu mencatatkan penguatan. Perbedaan kinerja tersebut menunjukkan bahwa setiap logam memiliki faktor fundamental yang berbeda, meskipun tetap dipengaruhi oleh kondisi makroekonomi global dan sentimen geopolitik.
Secara keseluruhan, prospek harga emas masih dibayangi berbagai risiko yang berpotensi menekan pergerakan dalam jangka pendek. Selama harga minyak terus meningkat akibat konflik di Selat Hormuz, dolar Amerika Serikat tetap menguat, dan keyakinan pasar terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed semakin besar, ruang penguatan emas diperkirakan masih terbatas. Oleh karena itu, investor akan mencermati setiap perkembangan geopolitik serta data ekonomi Amerika Serikat sebagai faktor utama yang akan menentukan arah pergerakan harga emas selanjutnya.
Source: Newsmaker.id
