Harga Emas Bergerak Datar di Tengah Memanasnya Ketegangan Hormuz, Investor Cermati Risiko Inflasi dan Arah Suku Bunga The Fed

Harga emas dunia bergerak dalam kisaran terbatas pada perdagangan Jumat pagi, 7 Agustus, dengan posisi bertahan di sekitar US$4.246 per troy ounce. Pergerakan yang cenderung stagnan ini mencerminkan sikap hati-hati pelaku pasar yang masih menimbang dampak meningkatnya ketegangan geopolitik di Selat Hormuz terhadap prospek inflasi global serta kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed).

Di satu sisi, meningkatnya risiko geopolitik biasanya menjadi katalis positif bagi emas sebagai aset safe haven. Namun di sisi lain, lonjakan harga minyak akibat konflik di kawasan Timur Tengah justru memunculkan kekhawatiran baru terhadap inflasi yang berpotensi mendorong The Fed mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama. Kombinasi dua faktor tersebut membuat harga emas belum mampu melanjutkan reli secara meyakinkan.

Ketegangan Selat Hormuz Kembali Memanas

Situasi di kawasan Selat Hormuz kembali menjadi perhatian utama pasar global setelah media Iran melaporkan adanya serangan terhadap sejumlah target yang dianggap sebagai pihak lawan. Selain itu, Teheran dikabarkan tengah mempertimbangkan langkah untuk melarang kapal-kapal yang dimiliki Amerika Serikat dan Israel melintasi jalur pelayaran strategis tersebut.

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur distribusi energi paling penting di dunia. Sebagian besar ekspor minyak dari negara-negara Teluk Persia melewati kawasan ini sebelum dikirim ke berbagai negara konsumen. Oleh karena itu, setiap peningkatan konflik di wilayah tersebut langsung memengaruhi sentimen pasar energi dan pasar keuangan global.

Ketidakpastian semakin meningkat setelah kelompok Houthi mengklaim telah melancarkan serangan besar terhadap pasukan pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi. Peristiwa tersebut memperbesar kekhawatiran investor mengenai potensi meluasnya konflik di Timur Tengah yang dapat mengganggu rantai pasokan energi dunia.

Meski demikian, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa konflik tersebut berpotensi segera berakhir. Ia juga menegaskan bahwa Washington masih mampu mengendalikan situasi di Selat Hormuz sehingga risiko gangguan terhadap jalur pelayaran internasional dinilai masih dapat diminimalkan.

Harga Minyak Menguat, Kekhawatiran Inflasi Kembali Meningkat

Meningkatnya ketegangan geopolitik langsung mendorong kenaikan harga minyak mentah. Kenaikan harga energi menjadi perhatian serius karena berpotensi meningkatkan tekanan inflasi secara global.

Bagi pasar emas, kondisi ini menciptakan dilema. Emas biasanya memperoleh dukungan ketika ketidakpastian geopolitik meningkat. Namun apabila harga minyak terus naik dan memicu inflasi yang lebih tinggi, maka bank sentral dapat mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama sebagai upaya menekan kenaikan harga.

Lingkungan suku bunga tinggi cenderung mengurangi daya tarik emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil. Investor kemudian lebih memilih aset yang menawarkan pendapatan tetap seperti obligasi pemerintah maupun instrumen berbasis dolar Amerika Serikat.

Reli Emas Tertahan Setelah Menembus US$4.300

Meskipun sempat mengalami tekanan, harga emas masih berada di jalur penguatan mingguan yang cukup solid. Dalam sepekan terakhir, logam mulia ini mencatat kenaikan hampir 5%, bahkan sebelumnya berhasil menembus level psikologis US$4.300 per troy ounce.

Sayangnya, momentum kenaikan tersebut tidak mampu dipertahankan. Penguatan harga minyak memicu aksi ambil untung sekaligus meningkatkan kekhawatiran bahwa inflasi dapat kembali meningkat dalam beberapa bulan mendatang.

Akibatnya, emas kembali bergerak mendatar sambil menunggu katalis baru, baik dari perkembangan geopolitik maupun data ekonomi Amerika Serikat yang akan menjadi acuan kebijakan Federal Reserve.

Peluang Kenaikan Suku Bunga The Fed Masih Menjadi Sorotan

Pelaku pasar saat ini memperkirakan terdapat sekitar 60% peluang bahwa Federal Reserve akan kembali menaikkan suku bunga pada pertemuan bulan September.

Ekspektasi tersebut menjadi salah satu faktor utama yang membatasi kenaikan harga emas. Ketika suku bunga meningkat, imbal hasil obligasi pemerintah AS biasanya ikut naik sehingga menarik arus investasi keluar dari aset tanpa imbal hasil seperti emas.

Selain itu, prospek suku bunga tinggi juga berpotensi memperkuat nilai tukar dolar AS. Penguatan dolar membuat harga emas menjadi lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain sehingga dapat menekan permintaan global.

Karena itu, investor kini terus memantau setiap perkembangan yang berkaitan dengan inflasi, harga energi, kondisi pasar tenaga kerja Amerika Serikat, hingga pernyataan para pejabat Federal Reserve untuk memperoleh petunjuk mengenai arah kebijakan moneter berikutnya.

Analisis Pasar: Emas Berada di Persimpangan Sentimen

Pergerakan harga emas saat ini dipengaruhi oleh dua sentimen yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, meningkatnya risiko konflik di Selat Hormuz memperkuat permintaan terhadap aset safe haven sehingga memberikan dukungan bagi logam mulia.

Namun di sisi lain, lonjakan harga minyak meningkatkan potensi inflasi yang lebih tinggi. Kondisi tersebut dapat mendorong Federal Reserve mempertahankan atau bahkan kembali menaikkan suku bunga, yang pada akhirnya menjadi faktor negatif bagi emas.

Secara teknikal, selama harga emas masih mampu bertahan di atas area US$4.220 per troy ounce, peluang untuk kembali menguji kisaran US$4.270 hingga US$4.300 masih terbuka. Sebaliknya, apabila level tersebut ditembus ke bawah, tekanan jual diperkirakan dapat membawa harga melanjutkan koreksi menuju area US$4.180 per troy ounce.

Dalam jangka pendek, volatilitas diperkirakan tetap tinggi karena pasar akan terus bereaksi terhadap perkembangan konflik di Timur Tengah, dinamika harga minyak global, serta ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga Federal Reserve. Kombinasi faktor-faktor tersebut akan menjadi penentu utama arah pergerakan harga emas pada perdagangan selanjutnya.

Source: Newsmaker.id