Selat Hormuz Kembali Memanas, Harga Minyak Brent Naik di Atas US$84 per Barel

Ketegangan di Selat Hormuz kembali meningkat pada Senin, 10 Agustus 2026, setelah Iran dan Oman belum mencapai kesepakatan final mengenai pembukaan kembali jalur pelayaran. Perkembangan ini kembali menjadi perhatian pasar energi global karena Selat Hormuz merupakan salah satu jalur strategis utama bagi perdagangan minyak dunia.

Iran menyatakan bahwa pembicaraan dengan Oman telah menunjukkan kemajuan. Namun, pembukaan penuh jalur pelayaran di Selat Hormuz masih bergantung pada sejumlah tuntutan Teheran terhadap Amerika Serikat, termasuk pencabutan sanksi dan penghentian blokade. Ketidakpastian tersebut membuat pasar kembali memperhitungkan risiko gangguan pasokan minyak dari kawasan Teluk.

Ketegangan Selat Hormuz Kembali Meningkat

Situasi semakin sensitif setelah beredar laporan di media sosial mengenai dugaan serangan rudal antikapal Iran terhadap sebuah kapal tanker di sekitar wilayah Oman. Namun, informasi tersebut belum mendapatkan konfirmasi resmi. Identitas kapal, jumlah rudal yang diduga digunakan, serta kondisi awak maupun kemungkinan korban belum dapat diverifikasi secara independen.

Meski laporan tersebut masih belum terkonfirmasi, ancaman terhadap keselamatan pelayaran tetap menjadi perhatian utama. Dalam beberapa hari terakhir, muncul berbagai laporan mengenai insiden terhadap kapal yang melintas di kawasan Selat Hormuz. Pada saat yang sama, aktivitas pelayaran melalui selat tersebut masih berada jauh di bawah kondisi normal akibat konflik yang telah berlangsung sejak awal tahun.

Bagi pasar minyak, rendahnya aktivitas pelayaran menjadi faktor penting karena setiap gangguan terhadap arus tanker berpotensi meningkatkan biaya transportasi, premi risiko, serta kekhawatiran mengenai ketersediaan minyak mentah di pasar global.

Risiko Konflik Meluas ke Yaman

Ketegangan geopolitik juga semakin melebar ke kawasan Yaman. Kelompok Houthi yang didukung Iran meningkatkan serangan terhadap kepentingan yang berkaitan dengan Arab Saudi. Perkembangan ini memunculkan kekhawatiran bahwa konflik dapat meluas dan mengganggu jalur perdagangan energi, bukan hanya di kawasan Teluk tetapi juga di Laut Merah.

Potensi gangguan pada dua jalur perdagangan strategis tersebut menjadi perhatian serius bagi pelaku pasar. Selat Hormuz merupakan jalur penting bagi pengiriman minyak dari negara-negara produsen di Teluk, sedangkan Laut Merah menjadi bagian penting dari rute perdagangan yang menghubungkan kawasan Timur Tengah dengan Eropa dan Asia.

Apabila ketegangan meningkat secara bersamaan di kedua wilayah, perusahaan pelayaran dapat menghadapi risiko keamanan yang lebih tinggi. Kondisi tersebut berpotensi mendorong operator kapal mengambil rute alternatif yang lebih panjang, sehingga meningkatkan biaya pengiriman dan waktu perjalanan.

Harga Minyak Brent Kembali Menguat

Pasar minyak langsung merespons meningkatnya ketidakpastian geopolitik. Dalam perdagangan Senin pagi, harga minyak Brent naik sekitar 0,9% menjadi US$84,32 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat sekitar 0,7% menjadi US$78,74 per barel.

Kenaikan tersebut menunjukkan bahwa investor kembali memasukkan geopolitical risk premium atau premi risiko geopolitik ke dalam harga minyak. Premi ini biasanya meningkat ketika pasar menilai terdapat kemungkinan gangguan terhadap produksi maupun distribusi minyak global.

Kondisi tersebut membuat perkembangan diplomasi antara Iran dan Oman menjadi salah satu faktor yang akan terus diperhatikan pasar. Kesepakatan yang mampu menjamin keamanan dan kebebasan navigasi di Selat Hormuz dapat meredakan kekhawatiran mengenai pasokan. Sebaliknya, kegagalan negosiasi atau peningkatan serangan terhadap kapal dapat mendorong harga minyak kembali naik.

Prospek Harga Minyak di Tengah Ketidakpastian Hormuz

Selama kesepakatan Iran-Oman belum rampung dan ancaman terhadap pelayaran masih berlangsung, harga minyak berpotensi bertahan pada level tinggi. Kembalinya harga Brent ke atas US$84 per barel menunjukkan bahwa pasar mulai kembali memberikan perhatian besar terhadap risiko pasokan dari Timur Tengah.

Jika konflik mengalami eskalasi lebih lanjut, terutama apabila terdapat gangguan nyata terhadap kapal tanker atau penutupan jalur pelayaran, harga Brent berpotensi bergerak lebih tinggi. Pasar akan semakin agresif memasukkan risiko kelangkaan pasokan ke dalam harga apabila arus minyak melalui Selat Hormuz terganggu dalam periode yang lebih panjang.

Sebaliknya, apabila Iran dan Oman berhasil mencapai kesepakatan yang secara nyata menjamin kebebasan navigasi dan pemulihan lalu lintas kapal, harga minyak berpotensi mengalami koreksi dengan cepat. Meredanya risiko gangguan pasokan akan mengurangi premi geopolitik yang sebelumnya masuk ke harga Brent dan WTI.

Dengan demikian, Selat Hormuz kembali menjadi katalis utama bagi pasar minyak global. Investor tidak hanya mencermati pergerakan harga Brent dan WTI, tetapi juga perkembangan negosiasi Iran-Oman, keamanan kapal tanker, aktivitas kelompok Houthi di Yaman, serta potensi respons Amerika Serikat terhadap tuntutan Iran.

Untuk sementara, pasar masih berada dalam kondisi wait and see. Selama belum terdapat kepastian mengenai pembukaan penuh jalur pelayaran dan jaminan keamanan bagi kapal yang melintas, risiko kenaikan harga minyak masih terbuka. Sebaliknya, terobosan diplomatik yang kredibel dapat dengan cepat mengubah sentimen pasar dan memicu penurunan harga minyak dari level saat ini.

Source: Newsmaker.id