Bagaimana ARTO Menguat di Pasar Saham Digital dengan Kebijakan Suku Bunga The Fed

Saham-saham bank digital menunjukkan penguatan yang signifikan dalam perdagangan pekan terakhir. Dalam momen ini, PT Bank Jago Tbk (ARTO) berhasil memimpin di antara pesaing-pesaingnya. Keunggulan ini didorong oleh kebijakan The Fed yang memutuskan untuk menahan kenaikan suku bunga, sekaligus kemampuan bank digital ini dalam mengelola portofolio kreditnya. Dalam perdagangan Jumat (3/11/2023), saham ARTO tercatat mengalami lonjakan sebesar 11,8%, mencapai penutupan pada angka Rp 1.800. Kinerja ARTO secara signifikan mengungguli saham-saham kompetitornya seperti Allo Bank Indonesia (BBHI) yang naik 9,17%, serta Bank Neo Commerce (BBYB) yang naik 3,54%.

Kenaikan nilai saham ARTO menjadi sorotan, terutama karena menjadi yang paling banyak diborong oleh investor asing dalam dua hari perdagangan terakhir. Akumulasi net buy asing di saham ARTO mencapai Rp9,9 miliar, sementara BBYB hanya mencapai Rp2,0 miliar, dan BBHI sebesar Rp1,02 miliar. Kenaikan nilai saham ini juga terjadi bersamaan dengan rilis laporan keuangan untuk periode September 2023.

Namun, di tengah kondisi ekonomi global yang belum stabil dan pasar yang berfluktuasi akibat suku bunga yang cenderung tinggi serta ketegangan geopolitik, banyak pihak memperingatkan akan risiko penurunan kualitas kredit. Meskipun demikian, para analis yang memantau bank digital yang memiliki modal yang solid menyatakan bahwa risiko ini bisa diantisipasi melalui diversifikasi yang lebih baik, serta integrasi yang kuat dengan ekosistem.

Menurut JPMorgan, kemampuan ARTO dalam mengelola risiko cukup baik melalui diversifikasi mitra penyaluran kredit. Mereka menyebut, “Jago saat ini sudah mampu mengelola kredit, kualitas aset, dan pinjaman kemitraan meskipun terdapat beberapa risiko. Manajemen risiko ini memberi kami keyakinan bahwa bank akan mampu melakukan eskalasi, sehingga kami OW [overweight] pada saham tersebut,” dalam riset mereka.

Tak hanya itu, kemampuan ARTO dalam mengelola kualitas asetnya turut menjadi fokus dari Yuanta Sekuritas. Dalam laporan risetnya, tim riset menuliskan bahwa kualitas kredit yang lebih terjaga turut menurunkan beban kredit. Mereka menyebut, “Biaya kredit dapat diturunkan menjadi hanya 3,2% pada kuartal III/2023 dari 4,7% pada kuartal III/2022 dan puncaknya sebesar 6,2% pada kuartal II/2022,” merujuk pada hasil riset tersebut.

Sejalan dengan perbaikan kualitas aset pada ARTO, para analis memberikan pandangan yang positif terhadap harga sahamnya. JPMorgan memberikan rating overweight atau setara dengan rekomendasi beli pada saham ARTO dengan target harga Rp 2.700, sementara Ciptadana Sekuritas merekomendasikan beli dengan target harga Rp 2.800.

Dalam gambaran yang lebih luas, kenaikan signifikan dalam saham-saham bank digital pada 2-3 November 2023 tidak hanya dipengaruhi oleh kebijakan suku bunga The Fed tetapi juga oleh kepercayaan pasar terhadap kemampuan bank-bank digital ini dalam mengelola risiko kredit. Meskipun kondisi ekonomi dan pasar masih terus berfluktuasi, adanya pendekatan yang cermat dalam manajemen risiko serta fokus pada kualitas aset menjadi faktor penentu dalam kinerja saham-saham bank digital, terutama ARTO, di tengah ketidakpastian yang terus berlangsung.

Saat ini, pasar dan para pelaku investasi masih terus memantau pergerakan saham-saham bank digital dengan harapan bahwa manajemen yang cermat terhadap risiko kredit akan menjadi landasan yang kuat bagi pertumbuhan dan stabilitas nilai saham-saham tersebut di masa mendatang. Semua mata tertuju pada kemampuan ARTO dan bank-bank digital lainnya untuk terus beradaptasi dan mengantisipasi perubahan yang terjadi di pasar global, baik dalam hal kebijakan ekonomi maupun dinamika geopolitik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *