Pasar minyak mentah global semakin mendekati titik tertinggi pada tahun 2023, berkat proyeksi terbaru dari Badan Energi Internasional (IEA). Proyeksi ini mengindikasikan bahwa permintaan minyak mentah akan melampaui pasokan sebesar rata-rata 1,2 juta barel per hari selama paruh kedua tahun 2023.
Perhatian: Seimbang di Pasar Minyak
Dalam peristiwa yang cukup mengejutkan, IEA telah merevisi proyeksinya, menandakan defisit pasokan yang signifikan di pasar minyak untuk paruh kedua tahun ini. Hal ini telah menyebabkan lonjakan harga minyak, dengan minyak Brent untuk pengiriman November turun sebesar 18 sen menjadi $91,88 per barel di Bursa ICE London pada penutupan perdagangan pada hari Rabu, 13 September 2023. Meskipun mengalami penurunan sedikit, harga ini masih berada dekat puncak tahun ini, yang terakhir terlihat pada November 2022 sebesar $92,84 per barel.
Demikian pula, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Oktober mengalami penurunan sebesar 32 sen, ditutup pada $88,52 per barel di Bursa Komoditas New York. Tingkat tertinggi intraday untuk minyak mentah WTI juga mencapai level yang belum terlihat sejak November 2022 sebesar $89,64 per barel.
Minat: Proyeksi IEA dan Sentimen Pasar
Menurut proyeksi terbaru IEA, permintaan minyak mentah diperkirakan akan melampaui pasokan sebesar rata-rata 1,2 juta barel per hari selama paruh kedua tahun 2023. Proyeksi ini bertentangan dengan perkiraan sebelumnya oleh Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC), yang mengindikasikan bahwa kuartal keempat tahun ini mungkin akan menyaksikan defisit pasokan terbesar dalam lebih dari satu dekade.
Angka-angka ini telah menyebabkan pergeseran dalam sentimen pasar dalam beberapa minggu terakhir. Harga opsi menunjukkan minat yang meningkat untuk opsi kontrak berjangka minyak yang bullish, dengan interval perdagangan utama cenderung mendukung pembalikan bullish, menandakan kelangkaan pasokan.
Sepanjang sesi perdagangan, West Texas Intermediate berfluktuasi di sekitar $88 per barel, mengikuti pergerakan pasar saham. Namun, para investor minyak bersiap menghadapi potensi penurunan karena indikator teknis kunci, seperti indeks kekuatan relatif, menunjukkan kontrak berjangka mendekati wilayah overbought setelah lonjakan baru-baru ini selama beberapa minggu terakhir.
Keinginan: Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pasar Minyak
Sebelum lebih lanjut membahas proyeksi IEA, penting untuk mempertimbangkan faktor-faktor lebih luas yang memengaruhi pasar minyak. Data inflasi terbaru di Amerika Serikat memberikan gambaran bervariasi mengenai kebijakan suku bunga Federal Reserve.
Sebaliknya, stok minyak mentah Amerika Serikat naik hampir 4 juta barel minggu lalu, menurut laporan Badan Informasi Energi pada hari Rabu. Persediaan di pusat penyimpanan terbesar di Cushing, Oklahoma, terus menurun, mencapai level terendah sejak Desember 2022.
Prospek bullish telah menambah momentum dalam reli yang dimulai pada pertengahan Juni. Reli ini didorong oleh komitmen Arab Saudi dan Rusia untuk membatasi pasokan sementara permintaan dari Amerika Serikat dan China tetap relatif tangguh. Perlu diperhatikan bahwa pasar bahan bakar, terutama produk seperti solar dan bensin, mengalami penurunan.
Aksi: Masa Depan yang Menanti
Tidak dapat disangkal bahwa pasar minyak mengalami perubahan signifikan pada paruh kedua tahun ini. Dengan kemungkinan keterbatasan pasokan, khususnya dalam produk olah minyak, mengintai menjelang bulan-bulan musim dingin, para investor dengan cermat memantau situasi ini.
“Kondisi pasar benar-benar mengencang pada paruh kedua tahun ini. Pasar berisiko melihat berlanjutnya keterbatasan, terutama untuk produk olah minyak, menjelang bulan-bulan musim dingin,” kata Toril Bosoni, Kepala Divisi Pasar Minyak IEA, dalam wawancara dengan Bloomberg.
Sebagai kesimpulan, pasar minyak berada di ambang transformasi yang signifikan, didorong oleh proyeksi terbaru IEA dan dinamika kompleks antara pasokan dan permintaan. Investor sebaiknya tetap waspada saat menghadapi kondisi pasar yang dinamis ini dalam beberapa bulan mendatang.
