Investor dengan penuh antusias menantikan peluncuran obligasi Republik Indonesia (RI) tahun ini, dengan prospek pasar yang positif menjelang rilis Surat Berharga Negara (SBN) seri ORI025.
Perhatian: Prospek Cerah untuk Pasar Obligasi RI
Saat kita mendekati peluncuran yang dijadwalkan dari Seri Surat Berharga Negara Ritel ORI025 pada 29 Januari 2024 hingga 22 Februari 2024, para ahli pasar optimis terhadap prospek cerah pasar obligasi Indonesia pada tahun 2024.
Domingus Sinarta Ginting, Kepala Spesialis Investasi di Sinarmas AM, menyoroti bahwa sentimen global, termasuk proyeksi pemangkasan suku bunga The Fed dan data ekonomi AS, memengaruhi pasar obligasi. Selain itu, eskalasi yang tidak terduga dalam konflik geopolitik, seperti di Timur Tengah dan Eropa, menjadi risiko bagi ekonomi global dengan mengganggu rantai pasokan global dan meningkatkan harga minyak mentah.
Minat: Faktor-faktor Domestik dan Global dalam Permainan
Meskipun volatilitas jangka pendek dipicu oleh harapan tinggi terhadap pemangkasan suku bunga The Fed, Domingus menyoroti potensi jangka panjang saat suku bunga diturunkan. Pasar domestik diperkirakan tetap kuat, didukung oleh pertumbuhan PDB Indonesia yang diproyeksikan sebesar 5%, defisit anggaran negara di bawah 3%, inflasi yang menurun, dan potensi penurunan BI Rate.
“Untuk tahun 2024, pasar obligasi diprediksi dapat tumbuh lebih baik dibandingkan tahun 2023 yang didorong oleh penurunan suku bunga global, turunnya inflasi, serta potensi turunnya suku bunga BI Rate,” ujar Domingus pada Senin, 22 Januari 2024.
Keinginan: Titik Masuk Menarik dan Permintaan Pasar yang Kuat
Merujuk pada data Investing per 15:40 WIB, yield Surat Utang Negara (SUN) benchmark selama 10 tahun telah meningkat menjadi 6,69%, menawarkan titik masuk yang menarik bagi para investor. Ezra Nazula, Direktur & Chief Investment Officer-Fixed Income di Manulife Asset Management Indonesia (MAMI), menekankan bahwa permintaan terhadap obligasi pada tahun 2024 diperkirakan tetap kuat.
Ezra menambahkan, “Permintaan ini akan datang dari investor domestik, termasuk lembaga keuangan non-bank, karena kebutuhan reinvestasi dan pemenuhan kewajiban investasi pada SBN. Permintaan investor asing juga dapat membaik seiring dengan peralihan kebijakan suku bunga global yang lebih akomodatif. Kami memperkirakan yield SBN 10 tahun dapat turun ke kisaran 6,00% – 6,25% tahun ini.”
Aksi: Faktor-faktor yang Perlu Diawasi dan Inisiatif Pemerintah
Meskipun 2024 tampak menjanjikan bagi pasar obligasi, Ezra menyoroti beberapa faktor risiko yang perlu diawasi. Pertama, risiko tekanan penerbitan obligasi pemerintah pada paruh pertama 2024, mengikuti kebijakan front-loading issuance. Kedua, melebarnya selisih yield antara obligasi pemerintah Indonesia dan yield US Treasury, membuat pasar Indonesia kurang menarik.
Kondisi ini bisa terjadi jika pendapatan ekspor Indonesia turun akibat pelemahan harga komoditas global. Ketiga, risiko perbedaan harapan mengenai pemangkasan suku bunga The Fed. Terakhir, ketidakpastian geopolitik tetap menjadi risiko potensial.
Seperti yang dilaporkan sebelumnya, Direktorat Jenderal Pembiayaan dan Manajemen Risiko Kementerian Keuangan telah merilis jadwal penawaran umum obligasi ritel pada 2024. Di antaranya, obligasi ritel pertama yang akan diluncurkan tahun ini adalah Seri Obligasi Negara Ritel ORI025, dengan penawaran perdana yang dijadwalkan dari 29 Januari 2024 hingga 22 Februari 2024.
Sebagai kesimpulan, peluncuran ORI025 menawarkan peluang menarik bagi para investor karena pasar obligasi menunjukkan tanda-tanda positif untuk tahun mendatang. Titik masuk potensial, permintaan pasar yang kuat, dan inisiatif pemerintah menciptakan lingkungan yang kondusif untuk pertumbuhan investasi. Saat peluncuran ORI025 semakin dekat, para investor sebaiknya menilai risiko dan imbal hasil dengan cermat, mempertimbangkan dinamika yang berubah dari lanskap ekonomi global dan domestik.
