Mengungkap Pasar Komoditas: Harga Batu Bara dan Minyak Sawit Runtuh

Di dunia dinamis komoditas, harga batu bara dan minyak kelapa sawit (CPO) mengalami penurunan dalam perdagangan Kamis (1/2), menandakan perubahan dalam lanskap pasar.

Perhatian: Batu Bara dan CPO Alami Penurunan

Pasar batu bara mengalami penurunan di tengah rencana India untuk mengoperasikan pembangkit listrik batu bara tahun ini. Secara bersamaan, harga CPO melemah akibat ekspor yang lesu, dipengaruhi oleh harga minyak mentah dan harga kedelai.

Menurut data Bloomberg, kontrak berjangka Februari 2024 untuk batu bara di ICE Newcastle mengalami penurunan sebesar 0,43%, atau 0,50 poin, mencapai 116 per metrik ton pada Kamis (2/2/2024). Selanjutnya, kontrak pengiriman Maret 2024 juga mengalami penurunan sebesar 0,93%, menetap di level 117 per metrik ton.

Minat: Permainan Listrik India dan Dinamika Ekspor

Kementerian Listrik India bersiap untuk mengoperasikan pembangkit listrik tenaga batu bara dengan kapasitas gabungan sebesar 13,9 gigawatt (GW) tahun ini, mencatatkan peningkatan tahunan tertinggi dalam enam tahun terakhir. Dengan permintaan listrik yang terus meningkat dan emisi per kapita yang rendah, India berusaha mempertahankan ketergantungannya pada batu bara yang signifikan, menyumbang lebih dari 50% dari total kapasitas terpasang sebesar 428,3 GW.

Di pasar global, eksportir batu bara termal Amerika Serikat menghasilkan lebih dari $5 miliar pada tahun 2023, mengirimkan lebih dari 32,5 juta metrik ton, menurut Kpler. Pendapatan ekspor ini merupakan yang kedua tertinggi sejak 2017, dengan volume tertinggi sejak 2018.

Keinginan: CPO Berjuang di Tengah Kendala Ekspor

Beralih ke CPO, harga di bursa derivatif Malaysia untuk Maret 2024 turun 43 poin menjadi 3.812 ringgit per metrik ton. Kontrak April 2024 juga mencatat penurunan sebesar 47 poin, menetap di 3.795 per metrik ton.

Sebagaimana dilaporkan oleh Bernama, kontrak berjangka minyak kelapa sawit ditutup lebih rendah selama tiga hari berturut-turut. Sathia Varqa, Direktur Eksekutif Palm Oil Analytics (Fastmarkets), mengaitkan hal ini dengan ekspor yang buruk pada Januari 2024, perdagangan berjangka terkait yang lebih rendah, harga minyak kedelai yang lebih rendah, dan posisi yang fluktuatif menjelang libur nasional.

David Ng, seorang pedagang minyak kelapa sawit, menunjukkan bahwa penurunan ekspor dan harga minyak kedelai yang lebih rendah memberikan tekanan pada harga CPO. Ia menyoroti dukungan di RM3.750 per ton dan resistensi di RM3.900 per ton.

Kementerian Perdagangan menetapkan harga referensi minyak kelapa sawit (CPO) untuk Februari 2024 sebesar $806,40 per ton, merujuk pada permintaan global yang meningkat, produksi yang tidak seimbang dari Indonesia dan Malaysia, serta dampak kenaikan harga minyak mentah.

Aksi: Memahami Dinamika Pasar

Sebagai kesimpulan, pasar komoditas sedang menavigasi ketidakpastian yang dipengaruhi oleh inisiatif listrik India, ekspor batu bara global, dan kompleksitas perdagangan minyak kelapa sawit. Investor dan pemangku kepentingan harus memantau lanskap yang berkembang dengan cermat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *