Harga minyak dunia kembali bergerak melemah dan menuju penurunan untuk minggu ketiga berturut-turut, dipicu oleh semakin kuatnya sinyal kelebihan pasokan global. International Energy Agency (IEA) kembali menaikkan proyeksi surplus minyak dan bahkan memperkirakan potensi rekor kelebihan pasokan tahun depan. Meski WTI sempat menguat tipis ke sekitar USD 59,08 per barel dan Brent bertahan di kisaran USD 63,01 per barel, secara mingguan WTI tetap mencatat penurunan lebih dari 1%, menegaskan tekanan jual yang masih mendominasi pasar energi.
Pelemahan harga minyak terutama dipicu oleh kombinasi peningkatan produksi dan permintaan yang melemah. OPEC+ terus mengaktifkan kembali kapasitas produksi yang sebelumnya dihentikan, dan sehari sebelumnya kelompok produsen tersebut menyampaikan bahwa produksi minyak global pada kuartal ketiga telah melampaui kebutuhan pasar. Temuan ini sekaligus membalik proyeksi sebelumnya yang memperkirakan pasar masih berada dalam kondisi defisit pasokan. Kembalinya produksi dalam skala besar dari negara-negara anggota dan mitra OPEC+ memberi tekanan signifikan terhadap stabilitas harga, terutama ketika konsumsi global belum menunjukkan pemulihan yang kuat.
Di Amerika Serikat, sinyal bearish semakin mencuat setelah persediaan minyak mentah melonjak tajam dan mencapai level tertinggi sejak Juni. Struktur harga WTI juga sempat bergerak ke fase contango, di mana kontrak bulan terdekat diperdagangkan lebih murah dibandingkan kontrak bulan berikutnya, mencerminkan kondisi kelebihan pasokan jangka pendek. Secara tren, harga minyak AS telah melemah dalam enam dari tujuh minggu terakhir. Sementara itu, negara-negara non-OPEC juga turut meningkatkan produksi, memperkuat tekanan dari sisi suplai secara global.
Meski tekanan penurunan masih dominan, sejumlah faktor risiko dapat membatasi pelemahan harga minyak lebih dalam. Pasar energi masih memantau sanksi Amerika Serikat terhadap raksasa energi Rusia seperti Rosneft dan Lukoil. Unit perdagangan Lukoil bahkan telah mulai melakukan pemangkasan staf, sementara muncul rumor bahwa Carlyle Group tengah meninjau aset luar negerinya sebagai langkah mitigasi. Di sisi lain, ketegangan geopolitik meningkat di Venezuela menyusul pergerakan kelompok kapal induk AS dan spekulasi bahwa Gedung Putih sedang mengkaji opsi operasi di negara tersebut. Faktor-faktor ini berpotensi menahan penurunan harga, meskipun sentimen utama pasar tetap dibayangi kekhawatiran terhadap melimpahnya pasokan global.
Secara keseluruhan, meski potensi kenaikan jangka pendek pada WTI dan Brent masih terbuka akibat risiko geopolitik dan ketidakpastian sanksi, arah pergerakan harga minyak dunia tetap didominasi oleh kekhawatiran surplus pasokan yang semakin nyata. Dengan produksi yang terus meningkat dan permintaan yang belum pulih sepenuhnya, pasar menghadapi tantangan besar dalam menjaga keseimbangan harga di tengah dinamika energi global yang semakin kompleks.
Source: Newsmaker.id
