Indeks Hang Seng mengakhiri perdagangan Senin dengan pelemahan signifikan, turun 184 poin atau 0,7% ke level 25.635, sekaligus membalikkan kenaikan moderat pada sesi sebelumnya. Pelemahan ini terjadi saat pasar memasuki pekan perdagangan terakhir tahun 2025, di mana kehati-hatian investor meningkat seiring kombinasi risiko geopolitik dan tekanan data ekonomi dari China.
Sentimen pasar yang sempat positif pada awal perdagangan dengan cepat memudar setelah muncul kembali ketegangan geopolitik di kawasan. Latihan militer berskala besar yang dilakukan China di sekitar Taiwan memicu kekhawatiran baru di kalangan pelaku pasar, mendorong aksi jual pada aset berisiko. Faktor ini menjadi katalis utama perubahan arah indeks, mencerminkan sensitivitas tinggi pasar Hong Kong terhadap dinamika politik regional.
Tekanan semakin dalam setelah rilis data ekonomi China menunjukkan bahwa laba perusahaan industri pada November mencatat penurunan terdalam dalam lebih dari satu tahun. Melemahnya permintaan domestik yang berkepanjangan terus membebani kinerja sektor riil, memicu kekhawatiran akan prospek pertumbuhan ekonomi ke depan. Kondisi ini membuat investor merespons negatif, meskipun pemerintah Beijing kembali menegaskan komitmennya untuk menerapkan kebijakan fiskal yang lebih proaktif pada 2026.
Hampir seluruh sektor di bursa Hong Kong berakhir di zona merah, dengan sektor properti dan konsumsi menjadi yang paling tertinggal. Saham-saham berkapitalisasi besar turut tertekan, dipimpin oleh penurunan tajam Zijin Mining yang anjlok 5,7%. Saham teknologi dan manufaktur utama juga melemah, di antaranya SMIC yang turun 1,8%, Xiaomi Corp. terkoreksi 1,4%, serta Tencent Holdings melemah 1,0%, menambah tekanan pada indeks secara keseluruhan.
Meski demikian, koreksi ini tidak menghapus kinerja kuat pasar saham Hong Kong sepanjang 2025. Indeks Hang Seng masih berada di jalur untuk menutup tahun dengan kenaikan sekitar 28%, berpotensi mencatatkan kenaikan tahunan kedua secara beruntun. Kinerja positif tersebut didukung oleh kondisi likuiditas yang solid di China serta pulihnya selera risiko global, seiring meredanya ketegangan perdagangan antara China dan Amerika Serikat.
Source: Tradingeconomics.com
