Inflasi Australia Melonjak di Atas Perkiraan, Tekanan Harga Kian Menguat

Laju inflasi tahunan Australia kembali meningkat dan melampaui ekspektasi pasar pada Desember 2025. Data terbaru menunjukkan inflasi naik menjadi 3,8% secara tahunan, dari 3,4% pada November yang sebelumnya menjadi level terendah dalam tiga bulan. Angka ini tidak hanya melampaui proyeksi pasar di kisaran 3,6%, tetapi juga tetap berada di atas target Bank Sentral Australia (Reserve Bank of Australia/RBA) sebesar 2–3%, menandakan tekanan harga yang masih persisten di perekonomian.

Peningkatan inflasi kali ini bersifat luas, mencakup baik sektor barang maupun jasa. Kenaikan harga tidak terbatas pada komponen tertentu, melainkan mencerminkan tekanan biaya yang menyebar di berbagai lini ekonomi. Kondisi ini memperkuat sinyal bahwa proses disinflasi yang diharapkan pasar berjalan lebih lambat dari perkiraan, sehingga ruang kebijakan moneter untuk segera melonggarkan suku bunga menjadi semakin terbatas.

Salah satu kontributor utama percepatan inflasi adalah lonjakan harga listrik. Pada Desember, harga listrik tercatat naik sebesar 21,5% secara tahunan, meningkat signifikan dibandingkan kenaikan 19,7% pada bulan sebelumnya. Kenaikan tarif energi ini berdampak langsung pada biaya hidup rumah tangga dan biaya operasional bisnis, yang kemudian diteruskan ke harga barang dan jasa lainnya. Tekanan dari sektor energi menjadi faktor struktural yang sulit diredam dalam jangka pendek.

Bagi RBA, data inflasi terbaru ini memperkuat tantangan kebijakan. Dengan inflasi masih berada di atas target, bank sentral kemungkinan akan mempertahankan sikap hati-hati dan fokus pada pengendalian tekanan harga, meskipun pertumbuhan ekonomi menunjukkan tanda-tanda moderasi. Pasar keuangan pun merespons dengan menyesuaikan ekspektasi terhadap arah suku bunga, di mana peluang penurunan suku bunga dalam waktu dekat menjadi semakin kecil.

Secara keseluruhan, lonjakan inflasi Australia pada akhir 2025 menegaskan bahwa risiko inflasi belum sepenuhnya mereda. Kenaikan harga energi, khususnya listrik, menjadi pendorong utama yang menjaga inflasi tetap tinggi. Kondisi ini penting diperhatikan oleh pelaku pasar, investor, dan pembuat kebijakan, karena akan memengaruhi arah kebijakan moneter, stabilitas ekonomi, serta prospek pertumbuhan Australia ke depan.

Source: Trading Economics