Pasangan mata uang GBP/USD kembali menunjukkan penguatan signifikan pada perdagangan Rabu, dengan harga mendekati level psikologis 1,3600. Kenaikan ini terjadi setelah data inflasi Inggris menunjukkan perlambatan yang lebih tajam dari perkiraan, sementara dolar AS melemah akibat meningkatnya ketidakpastian kebijakan tarif Amerika Serikat. Kombinasi faktor fundamental dari Inggris dan Amerika Serikat mendorong pergeseran sentimen pasar dan membuka ruang rebound bagi pound sterling.
Data terbaru dari Office for National Statistics (ONS) menunjukkan bahwa Indeks Harga Konsumen (CPI) Inggris turun menjadi 3,0% secara tahunan (year-on-year) pada Januari 2026, dari 3,4% pada Desember. Angka ini menjadi level terendah sejak sekitar Maret 2025 dan menandakan tekanan harga mulai mereda lebih cepat dari yang diperkirakan pasar. Perlambatan inflasi ini memperkuat ekspektasi bahwa Bank of England (BoE) memiliki ruang lebih luas untuk mulai melonggarkan kebijakan moneternya dalam waktu dekat.
Penurunan inflasi tersebut juga sejalan dengan sinyal pelemahan pasar tenaga kerja Inggris, yang menunjukkan perlambatan pertumbuhan upah dan peningkatan risiko perlambatan ekonomi. Dalam konteks ini, pasar semakin yakin bahwa BoE dapat segera memangkas suku bunga guna menopang aktivitas ekonomi. Ekspektasi pemangkasan suku bunga pada pertemuan 19 Maret kini meningkat tajam, terutama setelah Gubernur BoE, Andrew Bailey, menyebut keputusan tersebut sebagai “pertanyaan yang benar-benar terbuka”. Pernyataan ini memperkuat persepsi dovish dan menjadi katalis utama pemulihan GBP setelah sebelumnya berada di bawah tekanan.
Di sisi lain, dolar AS menghadapi tekanan baru akibat kembalinya ketidakpastian terkait kebijakan perdagangan Amerika Serikat. Pemerintahan Donald Trump mulai menerapkan tarif global sebesar 10% berdasarkan Section 122. Selain itu, Perwakilan Dagang AS, Jamieson Greer, mengindikasikan bahwa tarif terhadap sejumlah negara dapat dinaikkan hingga 15% atau lebih, meskipun rincian negara dan waktu penerapannya belum sepenuhnya jelas. Ketidakpastian ini memicu sikap hati-hati di kalangan investor dan membebani pergerakan dolar AS.
Faktor tambahan yang memperbesar volatilitas dolar adalah kebijakan suku bunga Federal Reserve yang masih mengarah pada pendekatan “higher for longer”, serta dinamika geopolitik menjelang pembicaraan AS-Iran. Kombinasi antara risiko tarif, arah kebijakan moneter yang ketat, dan ketegangan geopolitik membuat pelaku pasar cenderung mengurangi eksposur terhadap dolar AS dalam jangka pendek.
Secara keseluruhan, penguatan GBP/USD menuju 1,3600 mencerminkan pergeseran keseimbangan fundamental antara Inggris dan Amerika Serikat. Dengan inflasi Inggris yang terus melandai dan peluang pelonggaran kebijakan BoE semakin besar, sementara dolar AS tertekan isu tarif dan ketidakpastian global, pasangan ini berpotensi mempertahankan momentum positifnya dalam waktu dekat, selama sentimen risiko global tetap stabil.
Source: Newsmaker.id
