Harga Minyak Naik Tipis di Tengah Ketidakpastian Iran, Risiko Geopolitik Tahan Tekanan Penurunan

Harga minyak dunia mencatat kenaikan moderat pada perdagangan Rabu (17 Juni) setelah pernyataan Presiden AS Donald Trump memunculkan kembali ketidakpastian terkait kesepakatan gencatan senjata dengan Iran. Meskipun prospek kelebihan pasokan global masih membayangi pasar energi, meningkatnya risiko geopolitik di Timur Tengah berhasil memberikan dukungan terhadap harga minyak dan membatasi potensi penurunan yang lebih dalam.

Minyak mentah Brent ditutup naik 59 sen atau sekitar 0,75% ke level US$79,55 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat 74 sen atau 0,97% dan berakhir di US$76,79 per barel. Penguatan ini mencerminkan kekhawatiran investor terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah yang masih rentan terhadap eskalasi konflik.

Sentimen pasar berubah setelah Donald Trump menyatakan bahwa nota kesepahaman antara Amerika Serikat dan Iran belum bersifat final. Ia juga membuka kemungkinan tindakan militer lanjutan apabila tidak puas dengan sikap Teheran dalam implementasi kesepakatan tersebut. Pernyataan ini menimbulkan keraguan terhadap keberlangsungan perdamaian yang sebelumnya diumumkan kedua negara, termasuk rencana penghentian konflik dan pembukaan kembali Selat Hormuz sebagai jalur utama distribusi minyak global.

Selat Hormuz memiliki peran strategis dalam perdagangan energi dunia karena menjadi jalur transit bagi sekitar seperlima pasokan minyak global. Setiap ancaman terhadap keamanan kawasan tersebut berpotensi memicu gangguan pasokan dan lonjakan harga energi. Oleh karena itu, ketidakjelasan terkait implementasi kesepakatan AS-Iran langsung mendapat perhatian besar dari pelaku pasar.

Selain Iran, ketegangan geopolitik juga masih terlihat di Lebanon. Serangan udara dan artileri Israel kembali terjadi di sejumlah wilayah Lebanon selatan. Sumber keamanan Lebanon melaporkan bahwa kelompok Hezbollah meluncurkan dua serangan drone terhadap pasukan Israel. Situasi ini menunjukkan bahwa stabilitas kawasan masih jauh dari kata aman meskipun terdapat kesepakatan penghentian permusuhan yang mencakup Israel dan Hezbollah yang didukung Iran.

Dari sisi fundamental jangka pendek, pasar minyak mendapatkan dukungan tambahan dari penurunan persediaan minyak mentah Amerika Serikat. Data terbaru dari Energy Information Administration (EIA) menunjukkan stok minyak mentah AS turun untuk minggu kesepuluh berturut-turut. Persediaan kini berada pada level terendah sejak tahun 1985, mencerminkan tingginya permintaan domestik serta dampak gangguan energi yang muncul selama konflik Iran berlangsung.

Penurunan stok minyak tersebut menjadi sinyal bahwa pasar energi saat ini masih menghadapi kondisi pasokan yang relatif ketat. Ketika inventaris menurun secara berkelanjutan, pasar cenderung lebih sensitif terhadap risiko gangguan produksi maupun distribusi, sehingga memberikan dukungan terhadap harga minyak dalam jangka pendek.

Namun demikian, tekanan fundamental jangka panjang masih menjadi perhatian utama investor. International Energy Agency (IEA) memperkirakan pasar minyak global berpotensi menghadapi kelebihan pasokan yang signifikan pada tahun 2027. Organisasi tersebut memperkirakan kapasitas pasokan global akan meningkat sekitar 8 juta barel per hari, sementara pertumbuhan permintaan hanya diperkirakan mencapai 2 juta barel per hari dalam periode yang sama.

Prospek surplus pasokan tersebut membuat pelaku pasar enggan mendorong harga minyak naik terlalu agresif. Meskipun risiko geopolitik masih tinggi, investor tetap mempertimbangkan kemungkinan bahwa peningkatan produksi dari berbagai negara dapat menciptakan tekanan harga dalam jangka menengah hingga panjang.

Kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran juga berpotensi memberikan ruang bagi berbagai negara untuk mengisi kembali cadangan minyak strategis yang sempat berkurang selama periode ketidakpastian. Selain itu, sejumlah negara dapat memanfaatkan stabilitas pasokan yang lebih baik untuk memperkuat ketahanan energi nasional mereka.

Meski demikian, para pelaku industri menilai bahwa proses pemulihan kapasitas produksi dan pengolahan minyak ke tingkat sebelum konflik tidak akan berlangsung cepat. Perbaikan infrastruktur, normalisasi rantai pasokan, dan pemulihan fasilitas energi diperkirakan membutuhkan waktu mulai dari beberapa minggu hingga bertahun-tahun, tergantung tingkat kerusakan dan kondisi keamanan di wilayah terkait.

Ke depan, perhatian pasar akan tertuju pada implementasi kesepakatan AS-Iran, perkembangan keamanan di Selat Hormuz, situasi konflik di Lebanon, serta data persediaan minyak Amerika Serikat yang akan datang. Selama risiko geopolitik masih membayangi pasar sementara ancaman surplus pasokan global tetap ada, harga minyak diperkirakan akan bergerak volatil dengan sentimen yang berubah cepat mengikuti perkembangan situasi internasional.

Bagi investor dan pelaku industri energi, keseimbangan antara risiko geopolitik dan fundamental pasar akan menjadi faktor utama dalam menentukan arah harga minyak dunia dalam beberapa bulan mendatang. Kombinasi ketidakpastian politik dan perubahan dinamika pasokan global diperkirakan akan terus menciptakan fluktuasi harga yang signifikan di pasar energi internasional.

Source: Newsmaker.id