Harga emas bergerak relatif stabil pada perdagangan sesi Asia, Rabu (5 Agustus), seiring pelaku pasar menanti rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang diperkirakan menjadi penentu arah pergerakan logam mulia dalam jangka pendek. Melemahnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah memang mengurangi minat terhadap aset safe haven, namun ekspektasi bahwa Federal Reserve akan lebih berhati-hati dalam menaikkan suku bunga berhasil menjaga harga emas tetap bertahan di level tinggi.
Harga emas spot tercatat melemah tipis sekitar 0,2% ke level US$4.069,41 per troy ounce, setelah pada sesi sebelumnya menguat sekitar 0,6%. Pergerakan yang cenderung terbatas juga dipengaruhi oleh indeks dolar Amerika Serikat yang bergerak relatif datar, sehingga belum memberikan dorongan kuat bagi harga emas untuk bergerak lebih agresif ke salah satu arah.
Meredanya Ketegangan Selat Hormuz Tekan Harga Minyak
Sentimen pasar membaik setelah muncul perkembangan positif dalam pembahasan pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi salah satu urat nadi distribusi minyak dunia. Qatar mengungkapkan bahwa rancangan proposal terkait pembukaan kembali jalur tersebut telah disiapkan, sementara pejabat Amerika Serikat dan Iran juga memberikan sinyal bahwa proses negosiasi terus mengalami kemajuan.
Harapan tercapainya kesepakatan tersebut langsung tercermin pada pasar energi. Harga minyak mentah mengalami penurunan signifikan setelah kekhawatiran terhadap gangguan pasokan global mulai mereda. Sebelumnya, minyak Brent ditutup di level US$79,36 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) berakhir di US$75,77 per barel.
Turunnya harga minyak memberikan dampak positif terhadap prospek inflasi global. Ketika harga energi melemah, tekanan inflasi cenderung berkurang sehingga bank sentral tidak perlu mengambil langkah pengetatan kebijakan moneter secara agresif.
Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed Mulai Berkurang
Meredanya tekanan inflasi akibat penurunan harga minyak membuat ekspektasi pasar terhadap kebijakan Federal Reserve ikut berubah. Jika sebelumnya pelaku pasar memperkirakan bank sentral AS masih berpotensi menaikkan suku bunga sebanyak dua kali hingga akhir tahun, kini ekspektasi tersebut menyusut menjadi hanya satu kali kenaikan.
Perubahan ekspektasi tersebut menjadi faktor positif bagi emas. Sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil atau non-yielding asset, emas biasanya lebih menarik ketika prospek kenaikan suku bunga melemah karena biaya peluang untuk memegang logam mulia menjadi lebih rendah.
Meskipun demikian, efek positif tersebut tidak sepenuhnya mampu mendorong reli emas. Kemajuan diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran justru mengurangi kebutuhan investor untuk mencari perlindungan pada aset safe haven. Akibatnya, harga emas bergerak dalam kisaran sempit karena terdapat keseimbangan antara sentimen dovish dari The Fed dan menurunnya risiko geopolitik.
Sebelumnya, Federal Reserve memutuskan mempertahankan suku bunga acuannya untuk kelima kalinya secara berturut-turut. Namun demikian, terdapat tiga pejabat bank sentral yang memberikan suara berbeda dengan mendukung kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin, menunjukkan bahwa perdebatan mengenai arah kebijakan moneter masih berlangsung.
Permintaan Emas dari China Tetap Menjadi Penopang
Selain faktor kebijakan moneter, pasar emas juga memperoleh dukungan dari meningkatnya permintaan fisik dan investasi di China.
Dana investasi berbasis emas atau Gold Exchange Traded Funds (ETF) di China mencatat arus masuk dana selama 14 hari perdagangan berturut-turut hingga Senin. Rangkaian inflow tersebut menjadi yang terpanjang sejak Maret lalu dan mencerminkan tingginya minat investor domestik terhadap emas.
Aksi beli yang dilakukan investor ketika harga mengalami koreksi turut membantu mempertahankan posisi emas tetap berada di atas level psikologis US$4.000 per troy ounce, sekaligus memperkuat area support jangka menengah.
Fokus Pasar Tertuju pada Data ADP Non-Farm Employment
Perhatian investor kini beralih pada rilis data ADP Non-Farm Employment Change Amerika Serikat untuk periode Juli yang dijadwalkan diumumkan pukul 19.15 WIB.
Konsensus pasar memperkirakan penambahan tenaga kerja sektor swasta berada di kisaran 68.000 hingga 70.000, lebih rendah dibandingkan capaian bulan sebelumnya sebesar 98.000.
Apabila data ketenagakerjaan dirilis lebih lemah dari ekspektasi, dolar AS berpotensi mengalami tekanan sehingga memberikan ruang bagi harga emas untuk melanjutkan kenaikan. Sebaliknya, apabila hasilnya lebih kuat dari perkiraan, ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve dapat kembali meningkat sehingga berpotensi membatasi penguatan emas.
Selain data ADP, pelaku pasar juga mulai mempersiapkan diri menghadapi laporan Non-Farm Payrolls (NFP) pada akhir pekan yang dipandang sebagai indikator utama kondisi pasar tenaga kerja Amerika Serikat sekaligus menjadi salah satu acuan penting bagi arah kebijakan moneter The Fed.
Analisis Pergerakan Harga Emas
Dalam jangka pendek, harga emas diperkirakan masih bergerak dalam fase konsolidasi di tengah minimnya katalis baru sebelum data ekonomi utama dirilis.
Selama mampu bertahan di atas area US$4.050 per troy ounce, peluang penguatan masih terbuka. Apabila berhasil menembus level resistensi US$4.100, maka harga emas berpotensi melanjutkan kenaikan menuju kisaran US$4.135 hingga US$4.150 per troy ounce.
Sebaliknya, apabila tekanan jual meningkat hingga menembus support US$4.050, harga emas berisiko terkoreksi menuju area US$4.020, bahkan menguji kembali level psikologis US$4.000 per troy ounce.
Dengan kombinasi meredanya ketegangan di Selat Hormuz, melemahnya ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve, serta tingginya permintaan investasi dari China, arah pergerakan emas dalam beberapa hari ke depan diperkirakan akan sangat bergantung pada hasil data ADP malam ini dan laporan Non-Farm Payrolls (NFP) yang akan dirilis pada akhir pekan. Kedua data tersebut berpotensi menjadi katalis utama yang menentukan apakah harga emas mampu melanjutkan tren penguatan atau kembali bergerak di bawah tekanan.
Source: Newsmaker.id
