Emas Tembus USD 5.500, Bursa Asia Bergerak Variatif Usai Keputusan The Fed

Harga emas mencetak rekor tertinggi baru setelah melonjak lebih dari 3% dan menembus level USD 5.500 per ons untuk pertama kalinya. Lonjakan tajam ini terjadi setelah Bank Sentral Amerika Serikat, Federal Reserve, memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuannya di kisaran 3,50%–3,75%. Keputusan tersebut memperkuat gelombang pembelian aset lindung nilai, seiring investor global mencari perlindungan di tengah ketidakpastian arah kebijakan moneter dan kondisi geopolitik yang masih rapuh. Emas kembali menegaskan perannya sebagai safe haven utama ketika pasar keuangan menghadapi risiko volatilitas yang meningkat.

Di kawasan Asia-Pasifik, pergerakan pasar saham berlangsung variatif. Bursa Australia mengalami tekanan dengan indeks S&P/ASX 200 turun 0,69%, mencerminkan sentimen hati-hati investor terhadap prospek pertumbuhan global dan suku bunga tinggi yang bertahan lebih lama. Jepang menunjukkan pergerakan campuran, di mana Nikkei 225 menguat tipis 0,18%, sementara Topix justru melemah 0,57%. Kondisi ini menandakan rotasi sektor dan selektivitas investor di tengah ketidakpastian global.

Korea Selatan tampil sebagai pasar terkuat di kawasan tersebut. Indeks Kospi melonjak 1,09%, sementara Kosdaq melesat tajam 2,69%, didorong oleh sentimen positif dari sektor teknologi. Salah satu motor penggerak utama adalah saham Samsung Electronics yang menguat 1,6% setelah perusahaan melaporkan lonjakan laba kuartal keempat lebih dari tiga kali lipat dan melampaui ekspektasi pasar. Kinerja impresif ini dikaitkan dengan meningkatnya permintaan server berbasis kecerdasan buatan serta kondisi pasokan chip memori yang masih ketat, sehingga menopang margin keuntungan perusahaan.

Sementara itu, kontrak berjangka Hang Seng berada di level 27.565, lebih rendah dibandingkan penutupan terakhir indeks di 27.826,91. Hal ini mencerminkan kehati-hatian investor terhadap prospek pasar saham Tiongkok dan Hong Kong, di tengah tekanan ekonomi domestik dan dinamika global yang belum sepenuhnya stabil.

Perhatian investor regional juga tertuju pada Indonesia setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok lebih dari 8% pada perdagangan sebelumnya. Tekanan kuat tersebut dipicu oleh peringatan MSCI terkait potensi penurunan peringkat Indonesia dari status pasar berkembang. Di sisi lain, Goldman Sachs dilaporkan menurunkan peringkat Indonesia menjadi underweight, dengan alasan potensi berlanjutnya aksi jual pasif yang dapat membebani kinerja pasar saham dalam jangka pendek hingga menengah.

Di Wall Street, indeks S&P 500 sempat mencetak sejarah dengan menyentuh level 7.000 untuk pertama kalinya, sebelum berbalik arah dan ditutup hampir datar di 6.978,03. Dow Jones Industrial Average berakhir sedikit lebih tinggi, sementara Nasdaq juga mencatatkan kenaikan tipis. Imbal hasil obligasi pemerintah AS naik setelah pernyataan The Fed menegaskan bahwa perekonomian masih solid dan tingkat pengangguran relatif stabil. Ketua The Fed, Jerome Powell, menyampaikan bahwa masih sulit untuk menyimpulkan kebijakan moneter saat ini terlalu ketat, berdasarkan data ekonomi yang masuk.

Secara keseluruhan, kombinasi suku bunga tinggi yang bertahan, lonjakan harga emas ke rekor baru, serta pergerakan pasar saham yang tidak seragam menunjukkan bahwa investor global masih berada dalam mode defensif. Fokus utama pasar kini tertuju pada keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, inflasi, dan arah kebijakan moneter, dengan emas kembali menjadi simbol utama perlindungan nilai di tengah ketidakpastian global.

Source: Newsmaker.id