Mengurai Harga Komoditas Hari Ini (12/12): Harga Batubara Bermacam-macam, Melemahnya Harga Minyak Mentah

Dalam lanskap pasar global yang ramai, penutupan harga batubara menunjukkan variasi untuk kontrak pengiriman yang berbeda, sementara Brent dan minyak mentah WTI ditutup dengan tren penurunan.

Perhatian: Dinamika Pasar Batubara

Di tengah hiruk-pikuk Jakarta, pada Senin, 11 Desember 2023, harga batubara ditutup dengan berbagai hasil, dipengaruhi oleh penurunan permintaan dari kekuatan ekonomi seperti China dan India.

Menurut data Bloomberg, kontrak Januari 2024 untuk batubara Newcastle mengalami penurunan sebesar 0,36%, ditutup pada US$153,1 per metrik ton pada akhir perdagangan Senin. Sebaliknya, kontrak Desember 2023 untuk batubara Newcastle mengalami peningkatan, ditutup pada US$152,5 per metrik ton.

Minat: Varian Pergerakan Batubara Termal

Seperti dilaporkan oleh Reuters pada Selasa, 12 Desember 2023, harga batubara termal mengalami fluktuasi akibat peningkatan permintaan akan batubara berkualitas tinggi oleh Jepang dan Korea Selatan. Sementara itu, impor dari China dan India mengalami penurunan.

Jepang dan Korea Selatan, konsumen utama batubara termal yang terkait dengan Indeks Newcastle, yang menilai batubara dengan kandungan energi 6.000 kilokalori per kilogram (kkal/kg) dari Australia, menunjukkan peningkatan permintaan. Peningkatan ini terutama terlihat karena perusahaan utilitas tampaknya lebih memilih batubara daripada gas alam cair untuk memenuhi permintaan listrik tambahan selama musim dingin di wilayah utara.

Keinginan: Tarik-menarik Regional

Jepang, pembeli batubara terbesar ketiga secara global, diperkirakan akan mengimpor 10,37 juta metrik ton batubara termal yang diangkut melalui laut pada Desember 2023, kenaikan yang signifikan dari 8,53 juta ton pada November. Begitu juga, impor batubara termal yang diangkut melalui laut oleh Korea Selatan diperkirakan mencapai 8,59 juta metrik ton pada Desember, mencapai level tertinggi sejak Juli 2021 dan naik 13,8% dari Desember tahun lalu.

Sebaliknya, permintaan batubara termal yang diangkut melalui laut di China dan India mengalami penurunan. China, importir batubara terbesar di dunia, diperkirakan akan mengimpor 24,82 juta metrik ton batubara termal yang diangkut melalui laut pada Desember, turun dari 29,38 juta ton pada November. Sementara itu, India, pembeli batubara terbesar kedua secara global, diperkirakan akan mengimpor 14,54 juta metrik ton pada Desember, turun dari 17,42 juta ton pada November dan 18,87 juta ton pada Oktober.

Baik China maupun India lebih suka batubara berkalori rendah dari Indonesia, eksportir batubara termal terbesar di dunia, dan dari Australia.

Aksi: Navigasi di Persimpangan Transisi Energi

Sementara harga batubara menari mengikuti alunan permintaan dan pasokan, panggung global menyaksikan momen signifikan di COP28 di Dubai. Rancangan perjanjian iklim akhirnya menyertakan frase ‘bahan bakar fosil’ sebagai titik kunci, menandai awal dari era batubara, minyak, dan gas. Namun, kemajuan yang diharapkan tampaknya masih jauh.

Rancangan kesepakatan mendorong negara-negara untuk mengurangi konsumsi dan produksi bahan bakar fosil. Namun, saat tuan rumah mencoba mencapai kesepakatan kurang dari 24 jam sebelum akhir pertemuan, perjanjian sepanjang 21 halaman itu menjadi perjanjian pertama yang secara eksplisit menyerukan pengurangan penggunaan semua bahan bakar fosil, termasuk minyak dan gas—pergeseran bersejarah dalam perjanjian PBB yang mengatur perjuangan global melawan perubahan iklim.

Namun, celah dalam perjanjian membuatnya menjadi opsi opsional, memungkinkan negara-negara untuk memilih untuk tidak berpartisipasi. Perbedaan pendapat masih terjadi, menunjukkan bahwa konsensus mungkin tetap sulit dicapai saat KTT ditutup pada Selasa, 12 Desember 2023.

Dalam kerangka dinamika pasar ini dan negosiasi iklim, industri batubara dan minyak berada di persimpangan jalan, dengan masa depan bergantung pada keputusan yang diambil.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *