Harga emas menguat pada sesi Asia, dengan spot gold bertengger di $4.142 per ounce dan kontrak berjangka Desember di $4.148 per ounce. Meski selera risiko global sempat pulih seiring kemajuan menuju akhir shutdown terpanjang di AS, kekhawatiran pasar terhadap dampak ekonominya tetap tinggi. Hal ini membuat permintaan aset aman seperti emas terus terjaga, sementara penguatan dolar baru-baru ini tidak mampu menghentikan reli yang membawa emas kembali ke level psikologis $4.000 per ounce.
Dari sisi politik dan kebijakan, Senat AS telah menyetujui rancangan pendanaan yang membuka jalan bagi berakhirnya shutdown selama 41 hari. RUU tersebut kini menuju ke DPR, dengan mayoritas Partai Republik yang telah memberi sinyal kesiapan untuk mengesahkannya. Namun pasar tetap berhati-hati. Rilis data ekonomi resmi masih tertunda, sehingga dampak penuh dari shutdown terhadap perekonomian belum sepenuhnya tercermin dalam indikator makro yang biasa menjadi acuan investor.
Ketidakpastian tambahan datang dari isu perdagangan. Analis ANZ menilai rebound emas dipicu kekhawatiran terkait tarif AS dan proses hukum di Mahkamah Agung mengenai dasar legal penggunaan 1977 IEEPA. Presiden Donald Trump memperingatkan bahwa pembatalan tarif dapat memicu kembalinya bea senilai hingga $2 triliun, sebuah pernyataan yang membuat pasar menimbang risiko kebijakan yang relatif tinggi dalam beberapa bulan ke depan.
Kenaikan juga terlihat pada logam mulia lainnya. Platinum naik ke $1.587 per ounce, sementara perak menguat hingga $50,97 per ounce. Untuk prospek jangka pendek, arah pergerakan emas akan ditentukan oleh dua faktor utama: konfirmasi final dibukanya kembali pemerintahan AS—yang akan mengalirkan kembali data-data ekonomi resmi—serta ekspektasi terhadap kebijakan The Fed menjelang Desember, di saat sebagian pelaku pasar mulai mengurangi spekulasi pemangkasan suku bunga lanjutan.
Source: Newsmaker.id
